Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Dukungan


__ADS_3

Seperti mendapatkan kembali sesuatu yang begitu berharga, itulah keluarga Alan dan Dinda mengartikan saat wanita itu terbangun dari dunia mimpinya. Tak hanya itu, Dinda sudah bisa tersenyum manis saat menatap keluarganya bergantian, namun kali ini Alan yang tidak ada, padahal pertama kali pria itu yang menyaksikan Dinda saat membuka mata, kemana dia?


''Dimana anakku?'' tanya Dinda memegang tangan Faisal.


''Ada di kamar bayi, nanti kalau kamu sudah pulih kita akan ke sana.'' ucap Faisal lembut.


Meskipun dia akan menjadi anak Kak Alan dan Mbak Syntia, tapi aku ibu kandungnya, dan tak akan ada yang bisa memisahkan antara aku dan bayiku.'' batinnya.


''Selamat sore semuanya.'' sapa Daka yang baru saja masuk menghampiri dua keluarga yang saat ini memutari brankar Dinda.


''Sore Dok, jawab serempak, pria yang banyak membantu persaliann Dinda itu terlihat segar, karena masalah Dinda sudah teratasi tinggal bayinya saja yang masih harus di rawat.


Baru saja Daka memeriksa Dinda, Amel masuk dengan kedua orang tuanya, gadis itu langsung memukul lengan Faisal di depan orang banyak.


''Kenapa sih, Mel?'' tanya Faisal heran dengan tingkah Amel yang mengerucutkan bibirnya.


Semua menoleh, kini pasangan yang akan menikah itulah yang terjadi pusat perhatian.


''Kamu jahat, Dinda melahirkan, tapi kamu nggak bilang sama aku, masih bernada sewot.


Pak Samuel dan istrinya serta yang lain hanya terkekeh dengan tingkah Amel.


''Aku minta maaf.'' memegang kedua lengan Amel, ''Aku panik saat Alan nelpon, jadi aku nggak ingat apa apa selain Dinda.'' cetusnya lalu memeluk Amel.


''Tapi lain kali jangan di ulangi, aku kan khawatir, telepon nggak diangkat, ke apartemen nggak ada orang, aku bingung.''


''Baiklah, jangan ngambek lagi, aku minta maaf.'' merangkul pundak Amel dan membawanya ke sofa.

__ADS_1


''Setelah ini Mbak Amel akan menjadi satu satunya wanita yang ada di dalam hati bang Faisal kok, jangan khawatir!" seru Dinda, karena ia pun tau kalau pernikahan Amel dan Faisal itu semakin dekat.


"Maaf ya Din, aku ggak bisa menemani persalinan kamu, karena mas Faisal nggak ngasih kabar ke aku."


Dinda tersenyum dan mengangguk.


Tiga hari di rawat, keadaan Dinda semakin pulih saja, wanita itu semakin tak sabar ingin segera menemui anaknya, namun semua itu masih di tahannya saat Dokter Daka menyarankan Dinda untuk sembuh lebih dulu.


Tiga hari pula Alan berada di rumah sakit tanpa pergi sedetik pun, berkali kali Syntia menghubunginya, namun pria itu malas untuk menjawab karena fikirannya semrawut.


Kali ini sengaja Alan yang menghubungi Syntia lebih dulu.


Alan memilih duduk di gazebo, tepatnya di taman samping rumah sakit untuk menghirup udara segar.


Tak butuh waktu lama, telepon sudah tersambung, dan beberapa detik kemudian Syntia menjawab teleponnya.


Alan mendengus kesal, ''Kamu bisa nggak sih nggak usah nyalahin Dinda, jawab Alan dengan mengeratkan giginya.


''Aku dirumah sakit, Dinda melahirkan, jadi jangan salah paham, ucap Alan lantang, bahkan pria itu sepertinya tidak suka dengan Syntia yang menyinggung istri keduanya.


Baiklah, kalau gitu aku akan kesana, jawabnya.


Alan mematikan ponselnya menyandarkan punggungnya di sandaran.


Apa yang harus aku lakukan sekarang, besok Faisal akan menyerahkan surat perceraian serta pengunduran diri, apa aku harus menerimanya begitu saja, itu artinya aku akan kehilangan seketetaris yang handal itu.


Alan memejamkan matanya, bukan hanya lelah dalam beraktivitas karena sibuk mengurus Dinda, tapi pria itu juga sibuk dengan fikirannya yang tak henti hantinya mencari cara untuk membujuk Faisal kembali.

__ADS_1


''Kamu kenapa?'' tiba tiba suara Daka terdengar, Dokter yang sudah mati matian menyelamatkan istrinya itu melas saat melihat Alan yang dengan kacau.


''Capek saja, jawabnya asal, padahal ia ingin sekali curhat dengan sahabatnya, namun melihat sikap Daka akhir akhir ini yang acuh padanya, Alan mengurungkan niatnya untuk bercerita.


''Kapan Dinda bisa pulang?'' tanya Alan lagi mengalihkan pembicaraan untuk membahas Dinda dari pada dirinya yang tak begitu penting.


''Dinda sehat, dua hari lagi juga sudah boleh pulang, tapi anak kalian perlu di rawat, Dokter Karlina yang menangani, jantungnya lemah, dia masih butuh perawatan dan pengawasan intensif, kalau bisa Dinda jangan tau dulu masalah ini, aku takut dia akan ngedrop dengan kondisinya setelah operasi, tutur Daka.


Seketika Alan memeluk Daka, tak tau lagi harus bagaimana, yang pastinya Alan merasa bangga mempunyai sahabat seperti Daka dan Faisal. Pria itu memabalas pelukan Alan lalu menepuk punggungnya, persahabatan yang terjalin bertahun tahun itu sudah terikat erat, bahkan masalah apapun yang menampar mereka, pasti ketiga pria itu akan kembali akrab lagi.


''Terima kasih, karena kamu sudah menyelmatkan istri dan anakku,'' ucap Alan melepaskan pelukannya.


''Sama sama, kamu sahabatku, apapun masalah kamu akan menjadi masalahku juga, ucap Daka, ''Sekarang aku mau tanya, apa perasaan kamu ke Dinda?'' tanya Daka antusias.


Alan diam meresapi apa yang akhir akhir ini di hadapinya.


''Aku nggak tau, saat aku menikah dengannya, aku merasa kalau dia adalah pengganggu antara hubunganku dan Syntia, jelasnya, karena memang itu yang di fikirkannya, ''Dan setelah aku tau kalau dia hamil, aku merasa senang, dengan begitu dia sudah memenuhi janjinya yang akan memberi cucu pada mama dan papa, lanjutnya lagi, Alan menghela nafas panjang lalu menoleh.


''Karena ku fikir setelah dia melahirkan kami akan berpisah.'' kali ini Alan terlihat berat untuk mengatakannya.


''Dan di saat aku melihat perjuangannya yang begitu besar demi anak kami, aku tidak rela untuk melepasnya. Apa aku salah jika aku ingin ia tetap menjadi istriku, Alan menyeka air matanya saat menatap wajah Daka.


Mengingat setiap tetes air mata Dinda, bahkan saat menyaksikan Dinda mengeluarkan darah di dalam gendongannya, Alan tak kuat jika harus mengingat masa sembilan bulan itu, di mana Ia tak pernah menyayangi gadis itu.


''Aku senang, akhirnya kamu sadar juga, Aku akan mendukung apapun keputusan kamu, tapi aku juga tidak memaksa Dinda untuk kembali pada kamu, luka yang kamu berikan terlalu menyakitkan untuk dia, aku tidak tau apakah dia masih selembut dulu atau tidak, itu adalah tugas kamu, kamu yang harus bisa mengembalikan dia seperti dulu.'' menepuk pundak Alan.


Alan mengangguk, sekali lagi ia berterima kasih karena Daka masih baik dan terus mengingatkan akan kebodohannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2