
Menjahit, itulah rutinitas Dinda sepulang sekolah saat di kampung, namun sepertinya itu akan kembali terulang, ptofesi yang di gelutinya semenjak kelas enam sekolah dasar itu sudah terpahat di otaknya, bukan cuma untuk menyalurkan keinginan, Dinda juga suka sekali membuatkan baju untuk orang orang yang kurang mampu di kampung, yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.
Bukan itu saja, Dinda sering mengumpulkan sisa sisa kain untuk membuat kerajinan lain seperti telapak meja, dan yang lain, itu yang membuat konveksi Ibunya semakin melejit, namun Dinda tak tau nasib Ibunya, pasti kewalahan karena tak ada yang membantu.
Seperti saat ini, Dinda berinisiatif membuatkan baju untuk ketiga pembantu Alan, bukan dari bajunya melainkan dari kain Bi Romlah yang sudah lama nganggur.
''Ini dapat dari mana Bi?'' meraih kain bermotif batik dengan lebar kurang lebih sepuluh meter cukup untuk mereka bertiga.
''Ini hadiah dari pasar Non, langganan Bibi belanja,'' jelasnya.
Dinda manggut manggut saja.
Ngomong ngomong hadiah, Dinda sedikit tersinggung, dia istri majikan namun belum bisa memberi Bi Romlah dan yang lain sebuah hadiah, namun Ia hanya menyusahkan mereka, menurutnya.
''Maaf ya Bi, kalau aku belum bisa memberi sesuatu untuk kalian, bernada lemah.
''Non, disini Bibi di bayar, jadi Non nggak perlu memberi hadiah untuk bibi, lagi pula bayaran bibi itu sudah di luar pekerjaan pembantu.'' jelasnya supaya Dinda tak merasa berkecil hati.
Keduanya berpelukan.
Setelah mengambil ukuran dari pembantunya, Dinda kembali ke kamarnya, mungkin langsung memulainya akan lebih baik.
Kini Dinda selalu saja mengulas senyum saat membuka pintu, empat baju terpasang di samping jendela dengan desain yang berbeda, dan ini pertama kalinya Ia membuat baju yang mungil nan cantik.
Baru juga menutup pintu, Pintu kembali di ketuk dari luar.
Ngapain lagi Bi Romlah ke sini, apa ada sesuatu, batinnya sebelum membukanya.
__ADS_1
Ceklek, Dinda membuka pintu, matanya langsung tertuju pada orang yang mematung di depannya.
''Kakak, cicitnya menatap wajah datar Alan.
Alan mendesah dan melipat kedua tangannya menatap wajah Dinda dengan lekat.
''Makin hari kamu makin tidak menghargai ku sebagai suami kamu, ucap Alan.
''Maskdunya?'' Kini Dinda semakin penasaran, sebenarnya apa yang di inginkan laki laki itu darinya, bukankah Alan selalu menolak apapun yang berhubungan dengannya.
''Harusnya kamu tau kan tugas seorang istri pada suaminya, tapi tidak, kamu malah sibuk dengan urusan kamu yang tidak penting.'' cetusnya dengan sangat ketus.
Dinda tersenyum getir.
''Terus apa yang harus aku lakukan?'' bukan maksud berani namun Dinda hanya mencoba membela diri karena yang Ia lakukan selama ini selalu saja salah di mata Alan, dan itulah yang membuatnya berhenti untuk beraktivitas di rumah itu.
''Dan aku rasa, aku memang tidak dibutuhkan sebagai seorang istri di sini, mungkin mengakhirinya akan lebih baik, Ucap Dinda dengan bibir yang mulai gemetar namun Ia masih bisa dengan lugas meskipun air matanya sudah hampir luruh, namun ia mencoba untuk tidak lemah di depan Alan, percuma mau sampai nangis darah pun Alan tidak akan peduli padanya.
Bahkan gadis itu tak menyangka kalau semua perlakuan Alan selama ini ternyata masih melintas di dalam otaknya, bahkan menancap di dalam hatinya, yang goresannya tak akan pernah bisa di obati.
Alan diam meresapi setiap inci kata yang keluar dari mulut Dinda yang ternyata benar adanya, Ia tak menduga kalau sikapnya selama ini membuat Dinda merasa tersisihkan dan membuatnya merendah.
''Dan satu lagi, aku ingin kita bercerai setelah anak kita lahir, jika kakak dan Mbak Syntia menginginkan anak, baik, nanti Kakak bisa merawat bayiku dengannya, dan aku akan pergi dari kehidupan kakak, tapi ku mohon, menangkupkan kedua tangannya '' Selama aku hamil, tolong hargai Aku sebagai seorang istri, jika ini bukan mau kakak, ini pun juga mauku yang harus menjadi yang kedua, ucapnya lagi lalu menutup pintunya.
Pertahanan Dinda runtuh, wanita itu tak sanggup lagi membendung air matanya, dan meluruhkannya mungkin akan membuat dadanya lega.
Dinda tersenyum dengan di iringi air mata yang masih menetes, ''Malang sekali nasib kamu Din, bisa bisanya kamu mau memberikan anak kamu untuk suamimu, bicara sendiri di depan cermin.
__ADS_1
Dinda menyeka air matanya mencoba untuk kuat tanpa sandaran, berdiri sendiri dan menghadapi masalah sendiri jauh lebih baik dari pada meminta bantuan, itulah menurutnya, dan ucapannya, itulah janjinya yang akan di tepatinya demi suami tercinta.
''Tidak masalah, suatu saat pasti akan ada kebahagiaan untukku, aku di lahirkan untuk bahagia bukan untuk menderita, dan suatu saat Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untukku dan anakku.
Setelah puas meluapkan suara hatinya, Dinda kembali menghampiri mesin jahitnya dan mulai memotong kain Bi Romlah, tak peduli jika Alan mau marah diluar, bukan urusannya lagi.
Benar, Alan terlihat begitu marah di kamarnya, entah dengan ucapannya Dinda atau apa, yang pastinya saat ini kamarnya sudah persis kapal pecah, semua berantakan dilantai, dari benda ringan sampai yang berat bahkan guci kesayangannya pun sudah remuk tak terbentuk.
''Sekarang kamu sudah mulai berani sama aku Din, kamu yang memasang bendera perang, jadi kamu juga yang akan menanggung akibatnya, aku pastikan kamu akan menyesal sudah berani melawan Alan Sudrajat, dan aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, kamu sudah berani masuk ke kehidupanku, itu artinya kamu siap dengan diriku,'' ucapnya sembari membalut tangannya yang sudah berdarah karena pecahan kaca.
''Bibi...'' teriak Alan dari ujung tangga.
Bi Romlah berlari kecil menghampiri Alan yang kini sudah duduk di sofa.
''Iya den, menatap tangan Alan yang ditutupi perban.
''Masakan apa saja yang pernah di sajikan Dinda tanpa sepengetahuanku?'' tanya Alan menyelidik.
''Banyak Den, termasuk bubur yang waktu itu Bibi bawa ke kamar Aden, itu juga buatan non Dinda, jawab Bi Romlah jujur, karena Itulah yang di ucapkan Dinda,
Jangan berbohong jika Kak Alan sendiri yang bertanya, namun jika tak bertanya, *diam, biarkan kak Alan menganggap ini masakan bibi*, itulah yang di ucapkan Dinda padanya.
Alan menoleh menatap wajah Bu Romlah.
''Mulai sekarang aku tidak mau itu terjadi lagi, bilang sama dia kalau aku tidak butuh apapun darinya, ingat jika itu terulang kembali, aku pastikan dia akan menyesal sudah mengenalku.''
Bi Romlah hanya mengangguk tanpa suara.
__ADS_1