Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Siasat Alan dan Daka


__ADS_3

Di ruangan yang penuh dengan kenangan, itulah saat ini Alan bersandar, pria itu hanya bisa merenungi nasib yang menimpanya, belum menemukan titik cerah, setelah dua hari bayinya meninggal Alan hanya bisa berharap dari anak buahnya untuk cepat menemukan keberadaan Dinda.


Air matanya kembali lolos saat mendekap baju Dinda yang masih tertinggal di rumah mamanya, bukan hanya itu, Alan mengumpulkan apapun barang milik Dinda yang masih ada di sana, dari baju hingga aksesoris, tak lupa tangan Alan tak pernah melepas poto yang di ambilnya di kediaman pak Yanto waktu itu.


Jika di bilang Dinda depresi, Alan pun sama, penyesalan yang begitu mendalam membuatnya melupakan apapun, termasuk makan.


Ceklek, pintu kamar terbuka, namun Alan tak menoleh sedikitpun.


''Kamu nggak makan lagi?'' tanya wanita yang saat ini duduk di sampingnya. siapa lagi kalau bukan Bu Yanti yang ikut terpuruk dengan kepergian dua orang yang di sayanginya.


Alan menggeleng tanpa suara, karena kali ini pria itu tak punya nafsu makan.


''Cantik ya, ma?'' memperlihatkan foto Dinda yang ada di tangan Alan.


''Apa aku masih bisa memilikinya, setelah apa yang aku lakukan selama ini, apa aku masih pantas untuk memperjuangkannya?'' menatap wajah Bu Yanti meminta jawaban atas pertanyaannya.


Bu Yanti tersenyum mengelus punggung tangan Alan.


''Pantas tidaknya hanya Dinda yang punya jawaban, mama nggak bisa lagi membantu kamu, tapi kamu tenang, niat yang baik akan mendapatkan hasil yang baik, jadi jangan gunakan ambisi kamu untuk mendapatkan Dinda, tapi gunakan cinta tulus kamu untuk menebus kesalahan kamu selama ini.''


Alan mengangguk mengerti menopangkan kepalanya di pangkuan sang mama.


Ting tung, bunyi notif dari ponsel.


Alan segera merogohnya di saku celananya dan membuka, ternyata pesan dari Daka, sebuah video berdurasi lima belas menit di kirimkannya.


Alan bersama Bu Yanti menonton video itu dengan seksama, Di mana Dinda menangis histeris sembari menjambak rambutnya hingga berantakan, wajahnya terlihat begitu kurus dan mengenaskan dan itu sukses membuat dada Alan sesak dan hatinya merasa teriris.


Tak berkata sepatah kata pun Alan langsung menghubungi sahabatnya itu.


''Ada apa, Al, kamu sudah lihat video itu?'' tanya Daka, entah itu ejekan atau hinaan untuk Alan, yang pastinya bukan saatnya untuk saling ketus.


''Kita bisa ketemu, kan?'' ucap Alan memohon Daka untuk meluangkan waktu untuknya.


''Bisa, di cafe x, kamu datang saja, aku tunggu!"


Alan merapikan penampilannya yang selama dua hari ini tak di urus serta menyambar jaket.


"Doakan aku ma!" mencium punggung tangan Bu Yanti.


Mama akan selalu doakan kamu Al, bagaimanapun nantinya kamu harus ikhlas menerima kenyataan.

__ADS_1


Baru saja Alan menancapkan gas, mobil familiar masuk dari gerbang dan itu membuatnya harus menghentikan mesin miliknya.


Dua orang dengan baju warna hitam menghampirinya.


"Bawa kabar apa?" tanya nya masih di dalam mobil Alan bertanya.


"Tadi saya bertemu dengan Bu Syntia di sebuah hotel bersama dengan laki laki yang bernama Rey." ucap laki laki yang bertubuh kekar.


Kali ini Alan sudah tak terkejut lagi, baginya pernyataan kemarin saja sudah jelas, tinggal menunggu kepastian yang memang nyata.


"Baiklah, kalau gitu awasi dia terus dan kumpulkan semua bukti yang akurat supaya dia tidak bisa mengelak lagi." titah Alan.


Dua pria itu mengangguk dan kembali.


Baru saja Alan menutup kaca pintu mobil, lagi lagi mobil kembali datang ke halaman dan itu membuatnya berdecak kesal sembari memukul setir.


"Cepat!" teriak Alan saat pria itu baru turun dari mobil.


"Ada apa?" dengan cepat Alan bertanya.


"Saya sudah tau di mana Non Dinda Tuan." ucap pria itu menyodorkan sebuah lipatan kertas kecil.


"Kamu yakin?" memastikan kalau alamat yang tertulis adalah tempat Dinda sekarang.


"Tuan boleh cek sendiri." ucapnya lagi.


Tanpa aba aba Alan langsung melajukan mobilnya keluar dari gerbang, bukan ke alamat itu, melainkan bertemu dengan Daka.


Tak ada hambatan dalam perjalanan, hanya menghabiskan waktu lima belas menit saja Alan sudah tiba di depan cafe itu, di mana Alan serta Daka dan Faisal menghabiskan waktunya di sana selama masa kuliah, namun kini persahabatan mereka renggang karena hubungan yang di luar dugaan.


Dengan langkah gontainya Alan masuk, menghampiri tempat favoritnya, di mana Daka sudah duduk di sana.


"Ada apa kamu mau ketemu aku?" celetuk Daka saat Alan menarik kursi.


Alan meneguk air putih merelasasikan diri untuk bicara, apa lagi seharian penuh perutnya masih kosong.


"Aku tau kalau Dinda ada di rumah sakit....ucap Alan menggantung, tak sanggup untuk melanjutkan kalau tempat Dinda adalah rumah sakit khusus kejiwaan.


"Terus?" tanya Daka singkat.


"Daka, aku mohon, ajari aku untuk menyembuhkan Dinda." Alan menjeda ucapannya. "Aku tau aku bukan ahli dalam bidang kesehatan seperti yang di alami Dinda, setidaknya aku bisa di dekatnya dan bisa menghiburnya, Alan menangkupkan kedua tangannya.

__ADS_1


Alan mengernyit dengan permintaan Alan kali ini, bagaimana bisa jabatannya sebagai pemegang perusahaan itu akan beralih menjadi psikiater, aneh memang, tapi itulah yang ingin di lakukan Alan setelah menemukan keberadaan Dinda.


"Caranya gimana? Aku yakin Dinda nggak mau ketemu sama kamu." ucap Daka tak sadar menyeruput kopi hitam yang baru datang, tanpa menjeda kopi itu hingga membuat lidahnya kepanasan.


Alan memutar otaknya, benar apa yang di katakan Daka, pasti Dinda akan kembali mengamuk jika ketemu dirinya.


"Menyamar." ucap Alan seketika, karena itulah yang sekelebat melintas dalam otaknya.


"Suara kamu?" masih juga Daka pertanyakan.


Alan berdehem dan sedikit membesarkan suaranya.


Daka hanya bisa cekikikan dalam hati saat suara Alan di ubah.


"Wajah kamu?'' tanya nya lagi menggoda, padahal Daka sudah tau apa yang di lakukan orang menyamar.


"Pakai tompel, kumis, jenggot menebalkan alis bisa, kan, ngapain kamu pertanyakan, dan aku akan pakai masker juga." jelas Alan gedeg dengan sahabatnya yang banyak tanya kayak wartawan.


"Bagus, besok aku akan panggil dokter yang bisa menumbuhkan kumis dan membuat tompel di wajah kamu."


"Tidak." jawab Alan seketika.


"Kenapa?" heran.


"Kan bisa pakai lem, nggak usah di tumbuhin, aku nggak suka."


Yang bego aku atau dia sih?


Daka kembali cekikikan dan itu sukses membuat Alan marah.


"Baiklah, malam ini kamu datang ke rumah aku, aku akan ajari kamu bagaimana cara menjadi psikiater yang baik dan bisa cepat menyembuhkan Dinda.''


Alan tersenyum renyah saat Daka menyetujui permintaannya. Sedangkan Daka menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


''Tapi bagaimana jika Dinda masih tetap mau bercerai dengan kamu.''


Alan memejamkan matanya dan harus siap untuk itu.


''Aku akan kabulkan permintaannya, setidaknya aku bisa mengembalikan jiwanya yang pernah aku hancurkan, meski ia tak bisa sepenuhnya seperti dulu, aku ingin Ia menjadi Dinda, orang yang pernah aku cintai meskipun terlambat.''


Bentar lagi bukan Dinda yang gila, tapi Alan Sudrajat, direktur utama Arkana Group.

__ADS_1


__ADS_2