
Jika di kira rumah sakit adalah terakhir kali untuk menguras air mata, tidak, di pemakaman itu pun semua keluarga dan kerabat kembali terisak dan menumpahkan air mata saat jasad sang jabang bayi di masukkan ke dalam liang lahat. Bahkan Alan sempat tak kuasa dan hampir runtuh, tangannya gemetar begitu saja saat mendekap tubuh yang sudah berbalut kain putih tersebut.
Selamat jalan anakku, mungkin bukan sekarang kita bisa berkumpul, dan Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah.
Ikhlas, hanya kata itulah yang bisa membuat hati tenang, meskipun sulit namun mereka mencoba untuk menguasainya.
Dengan perlahan jasad itu mulai tertutup tanah dengan rapi, semua keluarga menabur bunga dan melantunkan doa untuk bayi yang kini tak nampak di mata.
Bu Tatik yang juga ikut hadir ke pemakaman cucunya itu hanya bisa mengelus batu Nisan yang baru saja terpasang, tak ada kata yang di ucapkan selain doa untuk malaikat kecil yang kini sudah berada di alam lain.
Tangis itu mulai reda setelah beberapa menit berlalu, kini semua kenangan bayi mungil itu tinggal nama yang baru beberapa jam di berikan oleh sang papa.
Setelah kerabat berpamitan untuk pulang, kini tinggal Alan dan keluarga Dinda di sana, sedangkan Faisal sedikit gusar dan sesekali menilik jam tangannya.
Semoga Dinda baik baik saja, pasti Salma bisa mengatasi semuanya.
Sedikit tak khawatir akan adiknya yang pasti mengamuk jika kedatangan dokter, karena Pak Yanto dan Bu Tatik sengaja mengajak keponakannya untuk menjaga Dinda selama proses pemakaman cucunya berlangsung.
"Maafkan keluarga kami ya, bu!" Ucap Bu Yanti memeluk erat Bu Tatik yang baru saja bangkit dari duduknya.
Bu Tatik hanya bisa mengangguk tanpa suara dan menepuk punggung Bu Yanti yang bergetar karena tangis.
"Semua sudah terjadi, Bu, mungkin ini memang yang terbaik, Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Aku yakin Dinda akan kuat menerima kenyataan ini. Dan bagaimanapun kedepannya, silaturrohmi akan tetap terjaga dari kami, terima kasih karena selama ini sudah peduli dengan keluarga kami." Bu Tatik mencoba tegar meskipun ingin menangis, bukan hanya kehilangan cucu tapi juga kehilangan sosok putrinya yang kini entah bagaimana keadaannya.
Alan menunduk malu mendengar ucapan mertuanya, setelah seutas doa di persembahkan untuk anaknya, kini Alan menghampiri kedua mertuanya.
"Maafkan aku, Bu, Aku sudah menghianati pernikahanku dengan Dinda, aku sudah melukai hatinya selama ini, tapi tolong, aku ingin bertemu dengannya.'' mencium kedua tangan Bu Tatik.
Meskipun ibu kandung, saat ini bukan haknya untuk memberi izin Alan, melainkan Faisal dan Daka lah yang lebih tau.
__ADS_1
"Maaf, bukannya Ibu tidak mau, tapi biarkan Dinda sendiri dulu, dia butuh kedamaian.''
Alan mengangguk mengerti dengan ucapan Bu Tatik.
"Al, kita harus bicara!" ucap Daka menarik lengan Alan meninggalkan yang lain.
"Kalau gitu kami juga permisi ya Bu, semoga semuanya di beri kesehatan. Bu Tatik dan Bu Yanti kembali berpelukan sebelum keluarga Dinda meninggalkan tempat lebih dulu.
"Ada apa, apa kamu juga akan menertawakanku dengan nasibku ini." ucap Alan asal, meski itu bukan sikap sahabatnya.
Heh.... Daka tersenyum sindir. ''Aku nggak tau harus bilang apa, yang pastinya aku ikut prihatin dengan apa yang menimpa kamu dan Dinda."
Alan melengos menatap tubuh tegap Faisal yang kini menghampiri taksi di seberang jalan.
Tak bicara menghadap Daka, Alan mengetik sebuah pesan lewat ponselnya, entah untuk siapa yang pastinya itupun tak di ketahui Daka.
"Kalau gitu apa?" tanya Alan menegaskan untuk langsung ke inti.
"Aku hanya ingin mengingatkan, jangan terlalu percaya sama orang yang kamu cintai, karena kepercayaan kamu itu terkadang di salah gunakan saat di belakang kamu."
Alan mulai mengerti arah pembicaraan Daka saat ini.
"Dan tenanglah aku akan tetap ada untuk kamu, untuk sementara jangan dekati Faisal, karena aku tau dia pasti sangat marah sama kamu."
Itu yang aku mau, dia meluapkan amarahnya padaku.
Alan menghembuskan nafas panjang lalu memeluk Daka.
''Terima kasih, kamu selalu ada di saat aku butuh, dan aku akan dengar ucapan kamu, semoga kedepannya aku bisa lebih baik, bantu aku.''
__ADS_1
Daka mengangguk, bagaimana pun juga persahabatan yang sudah mengental itu sangat sulit untuk dicairkan, sebuah komitmen yang pernah terjalin tidak dengan mudahnya terurai karena saking eratnya pengikat antara mereka bertiga.
''Tenangkan hati kamu dulu, tidak ada kata terlambat selama kita mau berusaha.'' Ucap Daka terakhir kali sebelum keduanya berpisah.
Setelah punggung Daka menghilang, Alan kembali menghampiri papa dan mama serta Syntia yang masih di samping gundukan tanah basah itu.
''Al, kita harus pulang, kasihan mama kamu, sudah beberapa hari ini nggak mau makan.'' ucap Pak Heru khawatir.
Alan mengangguk.
''Syn, aku mau nginep di rumah mama, kamu mau ikut atau pulang?''
Syntia yang merasa tak enak dengan kedua mertuanya itu memilih pulang, apa lagi melihat Bu Yanti yang sangat kacau, Syntia enggan untuk dekat dengan wanita yang membencinya tersebut.
''Aku pulang saja, mas, di rumah nggak ada orang.'' sebuah alasan yang masuk akal.
Baru saja beberapa langkah menuju mobil, Alan menghentikan kakinya saat ponselnya berdering, ternyata dari anak buahnya.
''Ada apa?'' tanya Alan dengan nada datar.
Tuan, kali ini Tuan akan terkejut mendengar berita dari saya. ujarnya.
''Jangan banyak basa basi, cepat katakan!" ucap Alan lagi penasaran dengan berita apa yang di bawa anak buahnya kali ini.
Saya bertemu dengan Jenika, sahabat Bu Syntia, dan Saya sempat menyandra dia, katanya Rey itu memang sering bersama Bu Syntia, bukan hanya siang, Bu Syntia juga pernah menginap di apartemen Rey.
Sebuah fakta yang begitu mengagetkan bagi Alan, ternyata wanita yang selama ini di cintainya sudah main serong di belakangnya.
Seketika Alan mematikan sambungannya dan mengepalkan tangannya seraya menatap punggung Syntia yang sudah membuka pintu mobil, andai saja itu bukan hari dukanya, ingin rasanya Alan mengimintidasi Syntia saat itu juga, namun kali ini pria itu masih menahannya.
__ADS_1
''Tunggu saja Syntia, selama ini aku begitu percaya sama kamu. Bahkan aku sudah mati matian membela kamu di depan mama demi pernikahan kita, sampai kamu terbukti mengkhianati aku, aku tidak akan memaafkan kamu.''
Setelah bermonolog, Alan kembali melanjutkan langkahnya mengikuti Papa dan mamanya. Mungkin kali ini ada yang lebih penting dari pada urusan Syntia, apa lagi kalau bukan keberadaan Dinda.