Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Salah sangka


__ADS_3

Di kamar, tidak masalah itulah menurut Dinda, yang penting Alan tidak terlalu mengekang keinginannya yang sudah membuncah di ubun ubun yang ingin segera di salurkan.


Setelah meminta tolong pak Tedi dan Bi Romlah, kini mesin itu sudah bersemayam di samping jendela kamarnya.


''Bener apa kata kak Alan, di sini lebih enak,'' cicitnya menghirup dalam dalam udara segar dari balik kaca yang terbuka.


Setelah puas dengan santainya, Dinda mengambil buku dan pensil, biasa menggambar desain yang akan di buatnya.


''Aku kan belum tau anakku, cewek apa cowok ya?'' mengetuk ngetukkan pulpen di atas meja.


''Kata orang orang sih kalau wajah ibu hamil itu berubah jadi cantik anaknya cewek, nah kalau berubah jadi jelek anaknya cowok.''


Setelah bergumam, Dinda melangkah menuju ke depan cermin memastikan wajahnya saat ini.


''Ternyata kamu jelek Din,'' ucapnya lemah.


''Itu artinya anaknya cowok,'' padahal bukan itu, semenjak menikah dengan Alan, Dinda tak pernah memikirkan penampilannya, apa lagi sejak hamil, sekali pun tak pernah memakai make up dengan alasan tak suka.


Sudah kayak orang gila tak punya teman bicara Ia selalu bicara sendiri, mungkin perabot kamar yang mati bisa menjadi saksi bisu betapa miris hidupnya Dinda saat ini.


Baru juga duduk dengan posisi enak sembari membenarkan mesinnya yang belum pas, Pintu di ketuk dari luar, untung tidak di kunci, jadi Dinda hanya berteriak saja.


''Masuk!" serunya.


Bi Romlah nongol dengan sekantong kresek di tangan kanannya.


''Ini pesanan non," ucapnya menghampiri Dinda dan menyodorkan belanjaannya.


Setelah mengecek semuanya dan ternyata lengkap, Dinda kembali merangkul Bi Romlah.


''Sekali lagi terima kasih ya Bi, dan aku minta maaf sudah merepotkan Bibi."

__ADS_1


''Non, apapun yang non butuhkan sudah menjadi tanggung jawab Bibi," mengelus lengan Dinda.


''Nggak gitu juga Bi," suara dari ambang pintu membuat keduanya menoleh, ''Dia kan punya kaki harusnya bisa dong cari sendiri nggak harus menyuruh orang lain." jelasnya dengan lantang.


Dinda diam begitu juga dengan Bi Romlah, sepatah kata pun ia tak mau membantah, di bentak sudah biasa, dan menurutnya ada benarnya juga kalau dia di kasih kaki memang untuk berjalan dan berusaha tidak harus meminta tolong pada orang lain.


Bi Romlah diam, tidak mungkin dia membantah ucapan majikan mudanya meskipun sikapnya keterlaluan pada istrinya.


''Oke, Bi, Aku minta maaf ya, Tolong kasih alamat toko peralatan ini sekali gus nama tokonya ya Bi, lain kali aku akan cari sendiri."


Ucap Dinda dengan begitu tegar, bahkan sama sekali wanita itu tak menampakkan kesedihannya meskipun hatinya tersayat mendengar omongan ketus Alan padanya.


Terpaksa Bi Romlah mencatat alamat serta nama toko yang baru Ia kunjungi, meskipun tak tega.


''Baik Non, bibi permisi," dengan ramahnya Bi Romlah meninggalkan kamar Dinda.


Sedangkan Alan masih mematung di ambang pintu, ingin rasanya Dinda mengusir pria itu namun di urungkannya, lebih baik melanjutkan aktivitasnya dari pada meladeni pria tersebut.


Mau sampai kapan kalian pamer mesra di depanku, dan membuat sakit hati.


Namun Dinda tak mau lagi larut dalam suasana karena itu tak akan mengubah nasibnya saat ini.


Alan menyungutkan kepalanya ke arah Dinda yang masih sibuk bergelut dengan buku dan pensilnya.


''O... jadi istri kedua kamu beli mesin jahit butut." ujarnya keras yang masih bisa di dengar oleh Dinda.


''Ngapain urusin dia, mendingan kita ke kamar," merangkul pundak Syntia, keduanya saling memangut dan tentunya tahulah apa yang akan di lakukan suami istri di waktu yang senggang.


Dinda mendesah, masih tak menyangka kehidupannya akan seperti ini, ia harus mengalami stres kecil yang seharusnya tak bisa di alami oleh Ibu hamil, namun keadaan yang membuatnya harus berhadapan dengan itu semua, tak mendapatkan kasih sayang suami saja merasakan sakit, apa lagi saat melihat suaminya mementingkan istri pertamanya, rasanya sudah tidak sanggup, namun demi janin yang di kandung Dinda mencoba untuk bersabar.


''Nak, kamu yang sehat ya di dalam perut Ibu, meskipun kamu tak pernah mendapatkan kasih sayang ayah, Ibu akan menjaga kamu dengan sepenuh jiwa." ungkapnya mengelus perut ratanya.

__ADS_1


Tak mau pilih kasih, karena jenis kelamin si jabang bayi belum tentu, kini Dinda mencoba untuk membuat dua desain yaitu cowok dan cewek, karena menurutnya, bisa di kasih ke anak kerabatnya di kampung jika tak terpakai.


Setelah selesai, kini Dinda mulai mengambil kain yang akan di buat dan mulai mengguntingnya dengan perlahan dan mencoba se bagus mungkin untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal.


Saat Dinda di disibukkan dengan aktivitasnya membuat baju untuk calon bayinya, justru di kamar sebelah, suaminya di disibukkan dengan istri pertamanya yang begitu memanjakannya, namun sekelebat bayangan istri keduanya itu mengganggu otaknya meskipun berulang kali Alan mencoba menepisnya, senyuman itu terus menghiasi bibir Dinda, seakan wanita itu tersenyum padanya.


''Syn..." ucap Alan menghentikan Syntia yang hampir saja melucuti pakaiannya, entah kenapa Alan menjadi tak bersemangat setelah bayangan Dinda itu melintas, padahal hasratnya sudah tak terbendung dan memuncak hingga di ujung kepala.


Syntia mendengus karena ia tau raut wajah suaminya yang terlihat resah.


''Mikirin apa?'' kembali mengecup pipi Alan.


Alan tersenyum renyah, tidak mungkin Ia bilang kalau Dia teringat dengan dengan Dinda.


''Aku cuma capek saja, mendingan kamu tidur, nggak apa apa kan?'' menyelipkan rambut Syntia yang kini masih bertumpu di atasnya.


''Nggak, aku juga sedikit capek, oke nanti kita lanjut." menggeser tubuhnya mempersilahkan Alan untuk bangun.


Alan kembali tesenyum lalu beranjak dari ranjangnya.


''Aku mau turun kamu ikut nggak?" merapikan baju dan rambutnya di depan cermin.


''Nggak ah, malas, lagian ngapain juga, sudah malam,'' meraih ponsel yang baru saja di taruhnya.


Sama seperti Syntia, Alan pun mengambil ponselnya, sebenarnya ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya yang belum sempat Ia lihat, dan kini Alan memilih untuk turun dan santai di ruang keluarga.


Dengan cepat pria itu membuka layar ponselnya, selang beberapa menit tak menemukan apapun, Alan menghempaskan tubuhnya menatap langit langit.


Kalau dia nggak pakai ATM itu, dia dapat uang dari mana, apa dia minta uang ke Faisal, atau jangan jangan minta ke mama, tapi kalau ke Faisal nggak mungkin, dia pasti sudah cerita ke aku, terka nya dalam hati.


Entah perasaan apa yang menyelimuti hati Alan saat ini, yang pastinya Ia pun tak bisa memejamkan matanya.

__ADS_1


''Kamu benar benar licik Din, meskipun kamu nggak memakai uang yang aku kasih, nyatanya kamu malah memanfaatkan kebaikan mama yang begitu menyayangimu."


__ADS_2