
Seharian penuh Alan berperan sebagai orang asing untuk bisa di dekat Dinda, meskipun geli dengan wajahnya sendiri Alan akan tetap menjalaninya sampai waktu yang akan menghentikan penyamarannya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Namun Alan masih betah di kamar rawat Dinda, Sedangkan wanita itu sudah menyipitkan matanya. Mungkin bisa di katakan jika hari itu adalah hari yang baik buat Dinda, buktinya dalam sehari semenjak pertemuannya dengan dokter Tono, Dinda mampu berinteraksi dengan siapapun lebih baik dan tak marah sedikit pun.
Dalam keadaan mengantuk Dinda masih bisa dengan jelas menatap Alan yang saat ini masih setia duduk di samping ranjangnya.
Dinda kembali membuka mata, sayup sayup wanita itu memegang punggung tangan Alan.
''Dokter nggak pulang?'' tanya Dinda memiringkan tubuhnya menatap Alan, karena biasanya Dokter Andra pasti sudah pulang saat jam tujuh malam.
''Masa iya Dokter menemin aku sehari semalam, kasihan istri Dokter, di tinggalin itu paling nggak enak.'' ucapnya lagi.
Istriku adalah kamu, karena orang yang dulu aku cintai dan banggakan sudah mengecewakanku, tapi aku kesini bukan karena rasa kecewaku pada Syntia, aku memang merindukanmu sebelum kebusukan Syntia terbongkar.
Faktanya Alan hanya bisa mengatakan itu dalam hati.
''Kamu tidur saja dulu, nanti baru aku pulang, karena tugasku adalah menjaga kamu dari membuka mata sampai menutup mata.'' tutur Alan lagi.
Dengan cepat Dinda memejamkan matanya kembali.
Alan yang masih setia di sana hanya bisa tersenyum saat menatap wajah sendu di depannya.
Andai saja bisa, aku pun ingin menemani di saat kamu terlelap seperti ini, tapi bang Faisal pasti tidak akan mengizinkanku untuk itu.
Selang beberapa menit, Alan beranjak dari duduknya, merapikan rambut Dinda yang menutupi jidatnya.
''Mimpi yang indah, dan lupakan Alan yang pernah menjadi suami kamu, cukup ingat luka yang di torehkan dia, benci dia jika itu yang membuat kamu bahagia.'' bisiknya lalu mencium kening Dinda.
Tak peduli jika ada yang melihat Alan benar benar tak bisa memendam rasa rindunya kali ini.
Setelah puas memandang wajah Dinda, Alan menutup tubuhnya dengan selimut, lalu meninggalkannya.
Dengan langkah yang berat Alan menjauhi ranjang itu, meskipun tak tega, namun ia harus tetap pergi.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu kaca yang transparan, Alan kembali menatap wajah yang mungkin kini sudah berada di alam mimpi, tak menyangka penyamarannya bisa mengobati sejuta kerinduan selama lebih dari seminggu.
"Tunggu!" tiba tiba suara dari belakang itu menghentikan langkahnya yang hampir saja menjauh dari ruangan Dinda.
Alan terbelalak tanpa menoleh saat mendengar dengan jelas suara yang familiar itu.
Suara dentuman sepatu dan lantai makin dekat, itu tandanya sang empu sudah ada di belakangnya tepat, namun Alan masih bergeming di tempat.
Plok...plok.... plok... suara tepuk tangan itu menggema kembali di telinganya.
Alan hanya bisa menghembuskan nafas dan bersiap untuk menerima apapun yang akan di lontarkan abang iparnya, karena Alan tau, se perfec apapun tipuannya, Faisal bukanlah orang bodoh yang bisa di kibulin begitu saja, Apa lagi kebersamaan mereka sudah bertahun tahun dan itu membuat apa saja yang ada di diri Alan ia ketahui.
"Hebat sekali kamu." menarik lengan Alan hingga kini keduanya bersihadap.
Keduanya saling menatap mata manik lawannya.
"Jika kalian mau berantem, jangan disini, di stadion saja!" tiba tiba suara Daka membuyarkan keduanya, pria yang juga baru datang itu mendorong Alan dan Faisal menuju ruangan kosong.
"Silahkan bertanding, biar aku yang jadi wasit, dan aku akan nilai siapa yang menang di antara kalian, tapi,_ Daka menjeda ucapannya memutari kedua sahabatnya yang saling menantang satu sama lain.
"Aku nggak nyangka kalau kamu akan membantu dia bertemu dengan Dinda," celetuk Faisal menatap wajah Daka namun menunjuk wajah Alan dengan jari telunjuknya.
Daka geleng geleng menurunkan jari Faisal.
"Bang, bukan Daka yang bantu aku, tapi aku sendiri yang memang ingin bertemu Dinda." jelas Alan tak mau menyudutkan Daka yang sudah susah payah membantunya selama ini.
"Jika abang mau marah, pukul aku sepuasnya!" mengangkat tangan Faisal dan menamparkan dipipinya.
Alam melepas kumis palsu serta jenggot palsunya, dan kini pria itu kembali tampan seperti semula.
"Silahkan, bang!" ucapnya lagi lebih mendekat ke arah Faisal.
Pria yang masih mengepalkan tangannya itu langsung mendaratkan genggamannya di tembok melewati wajah Alan.
__ADS_1
"Tapi adik aku bukan mainan, yang dengan seenaknya kamu campakkan begitu saja dan kamu ambil jika kamu butuhkan, Al." seru Faisal dengan lantang.
Alan menunduk mengerti apa yang di maksud Faisal, karena itulah yang memang di lakukan Alan selama ini, mengabaikan Dinda, dan setelah sadar Alan berharap hati wanita itu kembali.
''Dan dia adalah wanita yang butuh kasih sayang, aku pikir, kamu akan menyayanginya, meskipun kamu tidak mencintainya, setidaknya kamu bisa menganggapnya sebagai adik, tapi apa, kamu sudah tega menghancurkan hidupnya dengan keegoisan kamu.'' tiga pria dalam satu ruangan itu sama sama meloloskan air matanya mendengar ucapan Faisal.
Alan menyeka air matanya lalu mendekati abang iparnya.
''Aku tau aku salah bang, dan aku sudah terlambat mencintainya, tapi setidaknya izinkan aku untuk menemani dan mengembalikan dirinya seperti dulu, tentang perceraian itu, nanti akan kita lanjutkan setelah Dinda sembuh, karena aku tau, aku bukan laki laki yang pantas untuk nya.'' jawab Alan bergetar.
''Lusa aku akan mengajaknya ke Paris dengan kalian.'' imbuhnya lagi, menatap wajah Faisal dan Daka bergantian.
Cetikkk....suara petikan jari Daka tiba tiba saja beranjak dan menghampiri keduanya.
''Ide bagus, dengan melihat tempat yang di sukainya, dinda akan melupakan rasa sakit hatinya.'' ucap Daka membantu Alan untuk tidak di pojokkan terus menerus oleh Faisal.
''Tapi, _ ucap Faisal terpotong saat Daka menangkupkan tangannya.
''Aku akan menjaganya sebagai dokter Tono, dan abang harus yakin kalau Dinda akan segera pulih dan berada di tengah tengah kalian lagi.''
Jika Dinda sembuh, dia memang akan berada di tengah tengah kami lagi, tapi bagaimana dengan rahimnya yang sudah di angkat, apa akan ada laki laki yang masih mau menerima dia setelah Alan menceraikannya.'' batin Faisal, masih di resahkan dengan masalah itu.
''Baiklah, jika itu bisa membantu membuat Dinda lebih baik, aku izinkan, asalkan dia kembali seperti dulu lagi.''
Spontan Alan memeluk tubuh kekar Faisal yang ada di depannya.
Sedangkan Daka hanya bisa menerbitkan senyumnya melihat kedua sahabatnya yang tak jadi baku hantam.
''Tapi, dari mana kamu mengenali kalau dia Alan, bukankah wajahnya kayak pemulung?'' ejek Daka.
Faisal tak menjawab, namun matanya melirik ke arah cincin kawin milik Alan, karena waktu itu ia yang beli.
''Kamu lupa melepasnya.'' cetus Faisal meninggalkan Alan Dan Daka.
__ADS_1
Aku tidak akan melepasnya sampai kapanpun.