Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Berani


__ADS_3

Status istri kedua bukanlah hal yang mudah di sandang, namun itu yang terjadi pada Dinda saat ini, mau menghindar seperti apapun pasti semua akan terkuak, namun Dinda belum siap untuk itu, Dinda tidak mau kalau orang tuanya menjadi pelampiasan bibir tak bertulang orang kampung yang akan mencemooh dan menghujatnya, apa lagi saat ini dirinya sedang hamil yang pernikahannya pun masih rahasia di kalangan mereka, pasti akan menimbulkan banyak tanda tanya, bagaimana Dinda menyikapinya?


Apakah Alan mau membantunya?


Ataukah dia akan tetap menghadapinya seorang diri?


''Aku nggak boleh keluar rumah, aku nggak mau ketemu mas Budi lagi, aku nggak mau dia tau kalau aku aku ini hamil dan aku adalah istri kedua, gumamnya memasukkan potongan kain ke dalam kantong kresek besar.


Entah kenapa semenjak hamil perasaan Dinda sering tak karuan, dan takut akan hal yang menimpa keluarganya.


"Bi, datang ke kamar aku ya!" ucapnya lewat sambungan telepon.


Bi Romlah yang sudah melangkahkan kakinya di ujung tangga terpaksa berhenti saat Alan menghadang di depannya.


"Mau ke mana, Bi?'' Alan sembari memasukkan tangannya ke saku celananya.


"Non Dinda mungil den, kayaknya butuh bantuan,'' jawab Bi Romlah sopan.


"Nggak usah, balik, mungkin dia cuma minta di bantuan beresin kamarnya yang jorok itu," menyungutkan kepala ke arah kamar Dinda yang tertutup rapat.


"Baik Den, meskipun berat Bi Romlah tetap turun dan kembali ke dapur, karena tidak bisa datang, akhirnya Bi Romlah menelepon Dinda kembali.


"Kenapa bi?" tanya Dinda tersendat, dan menahan air matanya.


"Den Alan yang larang Non, jawabnya ragu, namun Bi Romlah juga tak mau salah di mata Dinda dan lebih baik jujur.


Seketika Dinda menjatuhkan ponselnya.


"Kamu kenapa sih kak, kenapa kamu larang Bi Romlah ke sini, aku cuma butuh pelukan sebentar saja, aku takut, aku butuh semangat, Dinda yang tak bisa menahan air matanya itu melorot dan merangkul kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya.


"Gimana Kalau mas Budi cerita ke orang kampung tentang kehamilanku, apa yang akan terjadi, sedangkan Kak Alan nggak mau mengakui di depan umum kalau aku istrinya, apa yang harus aku lakukan?"


Dinda mendongak menatap luar jendela jauh di sana burung berterbangan dengan bebasnya.


"Dinda kamu itu kuat, kenapa cuma masalah seperti ini saja kamu rapuh, bukankah masalah adalah makananmu dari kecil, hadapilah dengan tenang, jangan khawatir, meskipun suami kamu tidak mencintai kamu, masih banyak yang menginginkanmu untuk ceria.

__ADS_1


Dinda menyeka air matanya dan tertawa berharap bisa melupakan kejadian tadi.


Setelah puas bermonolog, kini Dinda bangkit, dia ingin melanjutkan hidup, bukan meratapi nasib yang tiada ujungnya, percuma saja di sesali, semua sudah terjadi dan tidak bisa di kembalikan.


Dinda keluar dari kamarnya meskipun matanya masih memerah ia mencoba seperti biasa.


Setibanya di dapur Dinda mencari Bi Romlah, karena yang lain memang pulang saat malam.


''Bi, panggilnya, namun tak ada, justru yang ada kini Alan yang sudah duduk di ruang makan.


Bibi ke mana sih, apa dia keluar, ya sudahlah, nanti juga datang.


Dinda kembali untuk ke kamarnya namun langkahnya berhenti saat Alan menatapnya dengan tatapan sinis.


''Jam berapa kamu pulang?'' tanya Alan menyelidik.


''Jam tiga sore,'' jawabnya santai.


''Heh... Ternyata makin hari kamu makin aja keliaran di luaran, Alan mendekatkan wajahnya di telinga Dinda.


Dinda menoleh tak menyangka wajah setampan itu namun fikirannya begitu kotor.


Hehehe.... Dinda tersenyum paksa.


''Memangnya kalau hobiku keluyuran kenapa?'' bukankah kakak tidak peduli denganku, ngapain juga nanya?'' seketika Alan mengeratkan giginya dan mengepalkan tangannya.


Dinda makin mendekat dan menatap wajah Alan.


''Dan sekarang kakak tidak usah mencari kebutuhanku, ingatlah, setiap hari istri tercinta kakak juga keluar rumah, dari jam berapa sampai jam berapa, kenapa kakak nggak coba nanya apa yang di lakukan di luar?''


Plaaakkk.... sebuah tamparan mendarat dipipi mulus Dinda saat ini.


''Berani kamu ikut campur urusanku,'' ucap lagi seraya menunjuk wajah Dinda dengan jari telunjuknya.


Dinda memegang pipinya yang memerah bekas tangan suaminya.

__ADS_1


''Miris kalau aku mengurus hidup kakak, untuk apa, lebih baik kakak meraba diri kakak sendiri, apakah yang kakak lakukan selama ini sudah benar, apa perlu aku ingatkan siapa posisi aku di rumah ini?'' ucap Dinda tanpa rasa takut, memegaskan jika ia di sana bukan atas permintaannya melainkan permintaan siaga mama.


''Maaf, bukan maksudku berani, aku hanya ingin sedikit saja kakak memandang aku sebagai seorang istri.


Dinda menurunkan pandangannya menatap tangan Alan yang masih mengepal lalu meraihnya dan membukanya dengan pelan.


''Setidaknya kamu menghargai anakmu yang akan lahir dari rahimku,'' membawa tangan kekar Alan ke perutnya dan mengusapkannya.


Ada rasa aneh yang menjulur di tubuh Alan saat ini, namun laki laki itu kembali menarik tangannya dan kembali duduk menatap ke depan.


Dinda yang sudah merasa lega kembali menuju kamarnya, harus dengan cara apa lagi untuk membuat Alan sadar akan keberadaannya, berbagai cara sudah di lakukan namun masih saja membuat Alan acuh padanya.


Setidaknya aku sudah berusaha merebut hatimu tapi jika memang aku tercipta bukan untukmu, aku ikhlas untuk berpisah, dan aku akan menganggapmu orang yang pertama kali merebut cinta dan kesucianku.


Sesampainya di kamar, Dinda kembali mengunci pintunya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, mungkin memejamkan mata bisa membuatnya lebih tenang dan melupakan masalah tadi.


''Kenapa Dinda berkata seperti itu, aku tau setiap hari Syntia pergi pagi pulang malam, tapi dia kan hanya bertemu dengan teman sosialitanya, dan itu pun sering di unggah di media, apa dia fikir aku akan termakan omongannya untuk menyelidiki Syntia, dasar nggak tau malu.'' kembali meminum teh hangat buatan Bi Romlah sebelum pergi atas permintaannya untuk ke supermarket.


Alan yang sedikit pusing itu hanya memijat pangkal hidungnya, tak mengerti dengan keadaan yang kacau ini, tapi kali ini ia tak bisa menepis kalau ini adalah ulahnya selama ini yang menang tak pernah berbuat baik sama Dinda.


''Huh.... kapan ini berakhir?'' itulah yang sering di keluhkan.


Pintu terbuka, Syntia di sana dengan wajah yang berseri seri, entah baru dapat apa Alan pun ikut tersenyum renyah.


''Kamu belum tidur mas?'' sapanya menghampiri Alan yang masih di tempat.


''Nungguin kamu,'' jawabnya menatap wajah Syntia dengan lekat.


''Kamu dari mana?'' tanya Alan tiba tiba membuat Syntia mengernyit.


''Tumben nanya,'' sembari tersenyum, ''Ketemu Jenita lah, aku ingin mencoba bekerja mas, bosan juga cuma main saja, cicitnya mencium pipi Alan.


Namun kali ini Alan langsung mendengus saat mencium bau parfum di baju Syntia.


Parfum siapa ini, kayaknya parfum laki laki, nggak mungkin, pasti ini cuma perasaanku saja karena masih teringat omongan Dinda.

__ADS_1


__ADS_2