Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Mulai sadar


__ADS_3

'Jenuh' itu pastinya, sebuah rumah tangga yang harusnya penuh dengan warna itu hanya kelam, tak ada sedikit cahaya pun yang menyinari, seakan hidup di tengah hutan belantara, hanya berteman dengan binatang buas, itulah Dinda dan Alan, jangankan bercanda, setelah perdebatan itu kini keduanya saling diam, bahkan semakin jauh, untung saja masih ada Bi Romlah dan pembantu lainnya yang masih peduli dengannya, dan itu sedikit menghibur Dinda.


Kini tinggal beberapa hari lagi menuju acara tujuh bulanan di rumah mama mertuanya, acara akan diadakan semeriah mungkin mengingat ini adalah cucu pertama Sudrajat.


Dinda dan Alan harus mempersiapkan diri untuk ke sana, tak tanggung tanggung Bu Yanti mengundang seluruh keluarga jauhnya meskipun tak bisa semua, yang pasti ini adalah acara istimewa.


Jika istri di luaran sana selalu mempertimbangkan segala hal dengan suaminya, tidak bagi Dinda yang selalu meminta pendapat dari Bi Romlah selaku pembantu yang sangat setia selama ini.


Dinda yang mendapat kiriman baju dari rumah Bu Yanti itu hanya bisa memandanginya, bingung mau pakai yang mana semua sangat elegan dan mewah, akhirnya Ia pun menanyakan kepada Syntia.


Dinda keluar dari kamarnya menuju kamar Alan, terpaksa karena Ia nggak mau kalau mereka sampai nggak pakai baju yang sama, pasti Bu Yanti curiga.


''Mbak, mengetuk pintu kamar Alan.


Ceklek, pintu terbuka, Alan mematung di sana, sedangkan Syntia berbaring di ranjang.


''Kak aku cuma mau nanya, besok pakai baju warna apa ya?'' tanya Dinda, karena baju yang di berikan Bu Yanti ada tiga stel dengan model yang berbeda.


''Terserah kamu aja, pakai yang mana pun bisa kan.'' jawab Alan ketus.


''Baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau mama marah.'' Dinda tak kalah ketus.


Dinda meninggalkan Alan yang masih mematung itu turun ke bawah.


Ternyata sudah ada Faisal dan Amel di sana.


''Abang, Mbak Amel, kok nggak bilang mau kesini?'' seru Dinda yang masih menyusuri anak tangga.


''Kejutan, Amel membawa beberapa paper bag di tangannya.


Setelah saling peluk, ketiganya ngobrol di ruang keluarga. ''Alan mana?'' tanya Faisal, namun matanya mengarah ke atas lantai dua.


''Di kamar.''

__ADS_1


Faisal hanya manggut manggut saja.


Amel tersenyum menatap wajah Dinda yang polos.


''Calon Ibu, kita nyalon yuk, kayaknya udah lama kamu nggak perawatan, biar lebih cerah gitu,'' cetus Amel yang memang tak pernah lihat Dinda ke sana.


Dinda tersenyum, ''Wajib ya Mbak?'' tanya Dinda.


Amel menatap wajah Faisal yang memang tak pernah peduli dengan penampilan pacarnya tersebut.


''Harus dong, biar kelihatan lebih cantik, masa iya istri Alan Sudrajat nggak di rawat, harusnya itu setiap minggu kamu ke sana, kecantikan juga penting,'' tutur Amel yang tak pernah melewatkan untuk mempercantik diri, seperti Syntia yang selalu saja ke salon setiap ada acara.


Jangankan ke salon Mbak, untuk beli make up saja aku pakai uang dari abang.


''Baiklah, aku izin sama kak Alan dulu,'' Dinda kembali ke kamarnya.


Ternyata pintu Alan masih terbuka, Dinda kembali mengetuk dengan pelan.


''Apa lagi?'' kini giliran Syntia yang membuka dengan bajunya yang sudah rapi, di ikuti Alan dari belakang.


Sama Amel, pasti di bawah juga ada Faisal.


Syntia menggeser tubuhnya mempersilahkan Alan untuk menghadap istri keduanya.


''Terserah, itu urusan kamu, yang penting kamu harus jaga bayi dalam kandungan kamu, jangan sampai kenapa napa, dan aku tidak peduli sama kamu,'' jelasnya.


Setidaknya aku masih menghargai kamu sebagai suami aku, tapi kalau kamu memang tidak mau hormat dari aku nggak apa apa.


''Baiklah, anggap aja ini yang terakhir kali aku izin sama kakak, setelah bayi aku lahir, aku akan bilang sama bang Faisal untuk mengurus perceraian kita, dan satu lagi,'' mengangkat jari telunjuknya, '' Apapun yang terjadi, jangan pernah mencariku lagi, karena aku tidak sudi untuk bertemu orang macam kamu.'' lagi lagi Dinda langsung meninggalkan Alan begitu saja lalu masuk ke kamarnya untuk ganti baju.


Mulai dari sekarang aku akan bilang sama abang kalau pernikahanku ini memang tidak bisa berlanjut, dan semoga abang mengerti dengan keputusanku, yang kuat Dinda, dunia masih luas, jalan masih panjang, dan kamu masih bisa menggapai mimpi yang tertunda.


Setelah puas berbicara dalam hati, Kini Dinda sudah siap untuk pergi bersama Amel, Dinda mulai mencari cara untuk mengatakan permasalahan rumah tangganya itu dengan abangnya, namun Dinda tak mau menyangkut keegoisan Alan yang tak pernah adil padanya.

__ADS_1


Faisal tersenyum saat mendapati Dinda yang kini turun dengan dress berwarna peach dengan sepatu yang senada.


''Lihat, Adik abang belum ke salon saja sudah cantik, apa lagi nanti, cicitnya di depan tunangannya.


''Aku nggak cantik?'' Amel tersinggung.


''Ya Ampun, susah ya kalau muji adik di depan pacar.''


Faisal menoleh menatap lekat wajah Amel yang tak kalah cantik.


''Kamu itu cantik, lagi pula kenapa sih harus iri, Dinda kan calon adik ipar kamu,'' menoel hidung Amel yang memanyunkan bibirnya.


''Mbak Amel nggak usah cemburu, selama ini belum ada wanita yang bisa menaklukkan hati abang selain Mbak, itu artinya tidak ada wanita cantik yang bisa kengalahkan mbak'' meraih tangan Amel untuk berdiri.


Amel jadi tersipu malu sekaligus tersanjung mendengar pujian dari calon adik iparnya.


Tempat yang kebanyakan di kunjungi kaum hawa itu sangat ramai, namun Amel sudah mempunyai tempat khusus untuk dirinya dan tak perlu mengantre di antara pengunjung lain. karena itu adalah salah satu usaha milik sang ayah yang di berikan padanya.


Kali ini Dinda hanya diam bak boneka yang hanya manut dengan sang empunya.


Tak mau banyak komentar, pasti Amel akan memberikan perawatan yang terbaik untuknya, dari segi rambut hingga wajah, kuku serta yang lainnya, pokoknya Amel memilih yang terbaik untuk Dinda yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu.


Dinda yang merasa nyaman sampai memejamkan mata menikmati pijatan dari tangan tangan yang sudah ahli.


''Mas, kamu yakin kalau Dinda itu bahagia dengan pernikahannya?'' tanya Amel, karena itu yang menjanggal dari hari yang lalu.


Faisal menatap sang adik dari jauh, kenapa selama ini dia tidak pernah menanyakan itu padanya.


''Memangnya kenapa?'' malah balik nanya karena yang ia tau selama ini Dinda memang bahagia saat di depannya.


''Mas, jarang lo perempuan itu mau menjadi istri yang kedua, apa lagi Dinda itu masih terlalu muda,'' Faisal jadi mengingat saat pertama kali meminta Dinda sampai histeris dan kekeh tidak mau.


''Sekarang bayangkan deh, di saat Alan tidur dengan Syntia, gimana hati Dinda saat itu, meskipun nggak cinta, pasti dia juga cemburu, dan aku yakin sekuat apapun Dinda tetap merasakan itu.''

__ADS_1


Faisal mencerna setiap kata dari Amel yang mungkin ada benarnya, karena selama ini ia tak pernah berfikir sejauh itu.


__ADS_2