Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Burung berbisa


__ADS_3

"Eits.....mau apa?'' Faisal menarik lengan Alan dari belakang, melihat wajahnya yang merah padam sudah pasti membuat Faisal khawatir dengan apa yang akan di lakukan adik iparnya.


"Lepas!" sedikit membentak dan mencengkal tangan Faisal yang kini melingkar erat di perutnya. Darahnya terasa mendidih saat melihat Syntia yang ada di depannya.


"Tidak!" Jawab Faisal tak mau kalah, bahkan keduanya kini yang menjadi pusat perhatian seluruh penghuni ruangan Manager mall.


Alan menghirup udara dalam dalam, merelasasikan dirinya untuk setenang mungkin, ucapan Dinda masih terngiang dan kembali melunakkan hatinya.


Ruangan itu bukan pengadilan, namun suasana nya sangat mencekam saat mantan suami istri itu saling berhadapan.


Meski keduanya saling di pertemukan berdekatan, Alan memalingkan wajahnya, tak ingin amarahnya kembali menghampirinya saat mengingat keadaan istrinya yang kini berbaring di rumah sakit.


Kenapa mereka malah pada diam sih, apa seharian akan membisu terus.


Ehemmm..... Faisal berdehem membuyarkan suasana yang sempat hening.


Tak mau mengulur waktu, Alan mulai menatap wajah manager yang terlihat menciut.


''Tujuanku kesini ingin meminta pertanggung jawaban atas apa yang terjadi pada istriku.''


Alan terlihat serius, bahkan sedikitpun tak menunjukkan gurat senyuman.


''Ba... baik pak, Saya akan pecat Syntia.'' jawab yang Manager dengan bibir gemetar.


Heh... Alan tersenyum getir setelah mendengarkan ucapan pria yang mematung di depannya.


''Itu tidak setimpal dengan kejahatannya, dia mencelakai istri dan anakku, apa kamu anggap ini sebuah permainan?'' Alan kembali beranjak seakan menantang sang Manager untuk adu hantam.


''Lalu, apa yang harus saya lakukan, Pak?''


Alan menoleh menatap Syntia yang hanya diam seraya menautkan kedua tangannya. tak menyangka Alan akan semarah itu padanya.


''Dia harus mendapatkan balasan yang sepadan dengan apa yang sudah di lakukan.''


Syntia mendongak menatap wajah Alan yang masih emosi.


''Kamu nggak terima?'' celetuk Alan.


Syntia kembali menunduk, nyalinya menciut memikirkan nasibnya yang saat ini ada di tangan mantan suaminya. Membantah pun percuma, hidup empat tahun bersama cukup membuat Syntia sangat mengenal Alan, jika dalam keadaan marah pria itu tak bisa di ajak negosiasi.


''Kenapa kamu nggak bunuh aku saja,'' ucap Syntia gemetar, menahan air mata yang hampir saja luruh.''


Alan bertepuk tangan penuh dengan kemenangan, pengkhianatan Syntia memang terlalu menyakitkan, wanita yang dulu sangat di cintainya tiba tiba saja menggores luka yang begitu dalam, untung saja ada obat yang paling mujarab di sampingnya hingga kini Alan tak peduli lagi dengan masa lalunya.

__ADS_1


''Itu terlalu ringan untuk kamu yang sudah sengaja membuat Dinda harus di rawat, dan aku tidak mau buang buang waktu untuk meladeni kamu. Bang.''


Faisal yang dari tadi menjadi penonton terpaksa mendekati Alan.


''Atur semuanya, aku tidak mau lagi dia berkeliaran dan mengganggu keluargaku,'' titahnya.


Karena sudah makin tak betah di ruangan itu, Alan beranjak dan meninggalkan semua yang masih di ambang ketakutan.


''Di apain?'' tanya Faisal menggoda adik iparnya untuk tidak tegang. Terpaksa Alan menghentikan langkahnya sejenak dan menatap abang iparnya.


''Terserah, di buang, di penjara, atau kurung saja di sangkar burung.'' Akhirnya kepala batu itu pecah juga, bahkan Faisal menahan tawa mendengar ucapan Alan yang sedikit melenceng. asal njeplak.


Kira kira sangkar burung apa yang muat untuk Syntia.


Faisal hanya bisa melirik ke arah Syntia yang di liputi ketakutan.


Jika di tempat itu merasa tegang dengan Alan yang emosi, di rumah sakit Dinda semakin gusar saat menatap jarum jam yang terus berputar, dan ternyata sudah terlewati satu jam lebih Alan meninggalkan dirinya.


''Mbak,'' akhirnya Dinda memanggil Amel yang menunggunya, sedangkan Bu Yanti dan Pak Heru pulang untuk menjemput Fana dan Tama serta Elfas.


Wanita itu menghampiri Dinda yang berbaring di atas brankar.


''Kok kak Alan lama ya, mbak, aku jadi takut kalau dia akan marah sama Mbak Syntia.''


Dinda diam meresapi setiap inci kalimat yang di lontarkan Amel, benar, selama ini ia memang tak peduli pada dirinya sendiri yang selalu tersakiti, melainkan selalu peduli dengan sekelilingnya.


Tapi tetap saja aku nggak bisa, karena aku tau rasanya di benci itu sakit, apa lagi orang yang membenci kita adalah orang yang kita cintai. Dan itu pernah aku alami.


Tak mau menambah masalah, Dinda hanya bisa berkata dalam hati, takut kalau Alan akan marah padanya seperti tadi.


''Mama....'' teriakan bocah dua yang baru saja masuk.


Fana dan Tama langsung berhamburan memeluk Dinda yang masih berbaring.


''Mama nggak apa apa kan?'' tanya Fana menempelkan punggung tangannya di jidat Dinda.


''Mama nggak apa apa sayang, cuma capek saja,'' cakapnya mencium pipi Fana dan Tama bergantian.


''Capek kok di rumah sakit, harusnya di rumah.'' timpal Tama.


''Kalian itu gimana sih, tante Dinda kan ingin tidur di rumah sakit, memang nggak boleh?'' kali ini giliran Elfas yang tak kalah lucu.


Bu Yanti dan pak Heru yang baru saja masuk hanya tersenyum mendengar ocehan anak anak yang tak berfaedah.

__ADS_1


''Ma, papa mana?'' tanya Tama yang dari tadi tak nampak batang hidung seorang Alan.


''Papa datang.'' Pucuk di cinta ulan pun tiba, Alan masuk di iringi dengan sebuah senyuman.


Pria itu mendekati Dinda dan anak anak yang ada atas brankar.


Dinda diam, namun wajahnya seakan penuh tanya dengan apa yang sudah di lakukan suaminya.


Akhirnya pria itu menggaruk alisnya yang tidak gatal lalu mencium kening Dinda.


''Om.'' Tiba tiba saja Elfas menarik pucuk jasnya.


Alan menunduk menatap bocah yang kini berdiri di depannya, menghalanginya untuk lebih dekat dengan sang istri.


''Papa mana?'' tanya nya.


''Papa Di sini,'' suara familiar membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh termasuk Alan, bahkan pria itu tercengang melihat abang iparnya yang sudah berada di belakangnya.


Kok bang Faisal sudah ada di sini, terus dimana dengan urusan Syntia, jangan bilang kalau dia membebaskan wanita itu.


Kali ini Alan geram saat menatap Faisal dengan santainya menggendong Elfas.


Di saat suasana sudah mulai stabil, Alan menarik lengan Faisal dan membawanya keluar.


''Ada apa sih, Al?'' menepis tangan Alan yang mencengkeram lengannya.


''Gimana ceritanya abang sudah sampai, terus Syntia?''


''Tenang saja, seperti yang kamu suruh, aku sudah memasukkannya ke sarang burung.''


''Whaattt....'' Alan terkejut dengan maksud Faisal yang kini malah menaikkan kedua alisnya dengan cepat.


''Burung apa?'' Tanya Alan penasaran.


''Burung yang berbisa.''


Setelah menjawab pertanyaan Alan, Faisal kembali masuk ke ruangan Dinda, meninggalkan Alan yang garuk garuk kepalanya.


Sedangkan Alan sendiri makin bingung dengan ucapan Faisal.


Kira kira burung apa yang berbisa, memangnya ada?''


Alan hanya bertanya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2