Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Ketakutan Alan


__ADS_3

"Kakak pergi, jangan tidur disini!"


Dengan langkah lebar Dinda mendorong tubuh kekar Alan sampai ke kamar samping.


''Kenapa sih?'' tanya Alan yang tak mengerti alasan istrinya yang tak mau berada di dekatnya.


Dinda hanya menggeleng tanpa suara, karena ia pun tak mengerti dengan dirinya sendiri.


Alan hanya mematung di ambang pintu, masih tak terima dengan permintaan Dinda.


''Nanti malam kalau kamu kedinginan siapa yang peluk?'' mencoba mencari celah untuk meluluhkan hati bu mil muda itu.


''Nggak akan.''


Masih kekeh lalu kembali ke kamarnya meninggalkan Alan yang masih di kelilingi rasa penasaran.


Dia kenapa ya, perasaan kemarin tidak begitu, apa ini efek vitamin dari Daka.


Tak masuk kekamarnya, Alan memilih untuk ke ruang keluarga dan menyalakan tv menunggu Dinda yang mungkin akan berubah pikiran.


Beberapa kali Alan memencet remot mencari chanel yang di sukainya, namun nyatanya itu tak menghilangkan rasa gusarnya dan terus menatap pintu kamar nya yang tertutup rapat. Barang kali sebentar lagi terbuka dan suara khas itu memanggilnya.


''Apa aku tanya Daka saja ya, dia kan dokter kandungan pasti dia tau apa yang di alami Dinda saat ini.''


Alan meraih ponselnya dan menghubungi Daka.


Kali ini Alan mengernyit sekaligus kesal saat mendapati nomor Daka tak aktif.


Setelah umpatan demi umpatan ia lontarkan di depan benda pipihnya, Alan beranjak menuju kamar Dinda.


''Sayang...'' Panggilnya seraya mengetuk pintu.


Tak butuh waktu lama, pintu terbuka, wajah sinis dari istrinya menyambut kedatangannya kali ini. Bahkan sedikit pun tak ada senyum yang terukir dari bibir merah merona tersebut.


''Kamu yakin nggak mau tidur sama aku?'' Sekali lagi Alan bertanya.


Dinda menggeleng. ''Sekali nggak, tetap nggak, sudah kakak sana!" Mendorong tubuh Alan hingga sedikit terhuyung, untung saja Alan masih mengimbangi dan tidak jatuh.


Setelah Dinda kembali menutup pintunya, Alan menghampiri Bi Romlah yang masih di dapur.


"Bi, nanti kalau Dinda cari, bilang aku ke rumah Daka bentar." Pesannya.


Bergegas Alan menancap gasnya ingin sebuah penjelasan Dinda yang makin hari makin aneh. Bagaimana tidak, kemarin tak memperbolehkannya ke kantor, nah saat ini malah menjauhinya dan besok apa lagi yang akan Alan hadapi.


Tiga puluh menit Alan membelah jalanan yang masih terbilang ramai, dengan bantuan lampu penerang, saat ini Alan sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Daka.

__ADS_1


Dengan perasaan yang semakin semrawut Alan mengetuk pintu. Seumur umur ini pertama kalinya ia di buat repot Dinda.


Ceklek, pintu terbuka, bukan Daka di sana melainkan Bu Entin, Ibu dari sahabatnya.


"Bu, Dakanya ada?'' mencium punggung tangan Bu Entin.


"Ada di kamar, menunjuk kamar Daka yang sedikit terbuka.


Tanpa minta izin Alan nyelonong masuk mendekati pintu kamar itu.


Pantas, rupanya pacaran.


Alan masih mengamati tubuh Daka yang tengkurap di atas ranjang sembari cekikikan dengan seseorang di balik ponselnya.


Bahkan Daka saja belum melepas jas putihnya dan sepatu kerja yang juga masih melekat.


Dengan segera Alan menghampirinya dan menarik kakinya.


"Ibu, apaan sih?" teriaknya tanpa menoleh.


Ehemmm... Akhirnya Alan berdehem.


Mendengar deheman besar, Daka segera menutup teleponnya dan menoleh.


Tak menjawab, Alan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang menurutnya tak terlalu empuk. Sudah seharian capek kerja, kini capek lagi mikirin istrinya.


"Kamu kasih vitamin apa untuk Dinda?" Tanya Alan ke inti. Karena pria itu tak mau basa basi lagi.


Daka mengernyit, yang bodoh Alan apa dirinya sih.


"Maksud kamu?" tanya Daka balik, menghentikan langkahnya yang hampir membuka pintu kamar mandi.


"Masa semenjak minum obat dari kamu dia aneh gitu, kamu nggak lagi ngasih racun untuk menjauhiku kan?" lagi lagi Alan terlihat menyelidik.


Daka berdecak dan meninggalkan Alan untuk membersihkan dirinya.


Sepuluh menit suara gemericik air itu menghiasi pendengarannya, kini Daka sudah nampak kembali dengan wajah yang lebih segar.


"Itulah ibu hamil." Cetusnya, saat menyisir rambut yang sudah di keringkan.


"Kadang moodnya berubah ubah, jangan kaget, ini belum seberapa, terkadang ada juga yang minta cerai."


Alan yang dari tadi menjadi pendengar setia sontak membulatkan matanya. Kerongkongannya menyempit hingga untuk menelan ludahnya saja tidak bisa saat mendengar kata Cerai.


"Cerai?" memastikan ucapan Daka.

__ADS_1


Makan tu takut, aku kerjain sekalian, mumpung dia kesini, kapan lagi kalau nggak sekarang.


Daka mengangguk lalu duduk di tepi ranjangnya. Memasang wajah memelas supaya Alan percaya dengan bualannya.


"Makanya kamu harus lebih waspada lagi. Jangan sampai terjadi pada Dinda juga, mau jadi duda kamu." lagi lagi ucapan Daka membuat bulu kuduk Alan merinding hebat bahkan Alan tak bisa membayangkan jika itu benar benar terjadi.


Daka yang baru saja mengambil baju gantinya itu kembali mendekati Alan yang tak bergairah.


''Jangan jangan anak kamu balas dendam, karena dulu kamu menyia nyiakan ibunya.''


Alan memijat pelipisnya, ini baru tiga puluh menit dia bersama Daka, kalau satu jam mungkin akan stres mendengar terkaan terkaan pria itu.


"Makan dulu, yuk!" ajaknya tanpa rasa bersalah sedikit pun sudah membuat Alan gelisah.


Masih dengan pikiran yang kacau Alan mengikuti Daka menuju ruang makan, di sana sudah ada Bu Entin yang menunggu.


"Kayaknya ada masalah?" membantu Alan mengambilkan nasi dan lauk, meskipun tak mafsu makan Alan tetap menyendoknya, berharap setelah perutnya kenyang bisa kembali berpikir dengan jernih.


"Istrinya memintanya menjauh Bu." Daka yang menjelaskan.


Bu Entin meletakkan sendoknya dan tersenyum.


"Jangan takut, ibu hamil memang seperti itu, sabar saja, Ibu dulu saat ngidam Daka juga gitu, malah ibu suruh ayah Daka pulang."


Setelah mendengar penjelasan Bu Entin, Alan sedikit lega, setidaknya bukan cuma istrinya yang mengalami seperti itu.


"Kalau ngidamnya sama, anaknya nggak mungkin sama kan bu?" ucapan Alan menegaskan kalau ia tak mau nanti anaknya mirip Daka.


"Nglunjak kamu ya.'' mendorong kursi tempat duduk Alan memakai kaki.


Bu Entin kembali tersenyum lalu menggeleng.


Setelah perutnya terasa kenyang Alan kembali untuk pulang, berharap sampai rumah istrinya sudah mau tidur dengannya.


...Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω...


Tak semudah yang di pikirkan ataupun yang ada dalam bayangannya, nyatanya Bi Romlah mengatakan kalau Dinda tak keluar sama sekali dari kamarnya. Dan itu membuat hatinya kecewa.


Apa yang di ucapkan Daka itu benar, apa anak anakku balas dendam sama aku karena dulu aku tidak mencintai mamanya saat hamil, apa ini akan berlanjut sampai nanti.


Setelah bermonolog dengan hatinya, Alan mendekati pintu kamarnya dan membukanya.


Di hampirinya Dinda yang sudah terlelap di balik selimut.


''Mimpi yang indah.'' mengecup kening Dinda dan kembali keluar, takut mengganggu.

__ADS_1


__ADS_2