Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Bapak sakit


__ADS_3

Sebuah kecupan lembut mendarat di kening yang di penuhi peluh, suasana siang semakin memanas karena ulah Alan yang memang sengaja menggarap Dinda sesuka hatinya, itung itung balas dendam dengan waktu yang terulur gegara anak anak.


''Apa kamu puas?'' bisa bisanya itu yang terucap dari bibir Alan untuk menggoda istrinya yang sudah merah merona.


''Bukan puas, tapi lemas,'' jawab Dinda ketus, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh polosnya.


Alan hanya bisa terkekeh melihat tingkah istrinya yang kini membenamkan wajahnya di dada bidangnya.


Di saat suasana hening untuk mengembalikan tenaga yang sempat terkuras setelah bergulat, suara cempreng menggema.


Huuuaaa...hua.... tiba tiba suara tangisan bak kaset kusut mengusik.


Dinda yang tadinya ingin memejamkan mata kembali terbelalak seraya menelan ludahnya dengan susah payah, menatap Alan yang juga terlihat panik.


''Fana,'' ucap keduanya serempak. Alan yang juga masih belum memakai baju langsung beranjak dan memakainya.


''Sayang, kamu ke kamar mandi saja, biar Fana aku yang temuin.'' Setelah mendapat perintah dari Alan, Dinda membawa selimut tebalnya berlari kecil menuju kamar mandi.


Huuh..... Suara deru hembusan napas Alan setelah memungut baju Dinda dan menaruh di keranjang.


''Selamat, untung sudah selesai, kalau belum bisa bisa senjataku ini bakal karatan karena sudah berhari hari di anggurin.'' gumamnya cekikikan.


Alan segera membuka pintu, takut putri kecilnya itu malah ngambek karena di abaikan.


Ceklek...pintu terbuka, benar saja, Fana sudah menangis di depan kamarnya sembari menutup wajahnya.


''Dek Fana kenapa?'' tanya Alan menggendong gadis cilik tersebut. Khawatir, takut terjadi apa apa dengan anaknya. Bahkan Alan mengabsen setiap inci tubuhnya takut ada luka.


Bu Yanti yang baru saja tiba di ujung tangga tersenyum, ternyata cucunya itu sudah makin pintar, di saat jengkel kedua orang tuanya yang di cari.


''Dia nggak kenapa napa,'' ungkapnya mendekati Alan yang masih berada di ambang pintu.


''Cuma kalah sama yang lain,'' imbuh Bu Yanti.


Alan mengernyit, ''Kalah, maksudnya apa?'' tanya Alan penasaran.


Bu Yanti menceritakan perdebatan antara Fana dan Elfas serta Tama di mobil, dimana Tama dan Elfas mengejek Fana nggak punya teman cewek, sedangkan mereka berdua bangga bisa berteman dan bisa punya mainan kembar, si kecil Saka pun ikut ikutan menjulurkan lidahnya dan memilih berdekatan dengan Tama dan Elfas, Akhirnya Fana menangis dan mengadu ke papanya.


Alan langsung mencium kedua pipi gembul putrinya dan membawanya masuk ke dalam. Bu Yanti kembali turun untuk menemani yang lain.


"Fana, dengerin papa!" mendudukkan Fana di atas kasur.


"Fana tenang saja, sebentar lagi Fana akan punya adik cewek yang bisa di ajak main masak masakan," membantu membuka satu set mainan peralatan dapur yang di pegangnya.


Gadis itu menyeka air matanya.


''Beneran, pa?'' tanya nya antusias.

__ADS_1


Alan mengangguk tanpa suara.


''Kapan?'' Tanya Fana penuh harap.


Alan memutar bola matanya tak menyangka kalau putrinya akan sedalam itu mempertanyakannya.


''Nanti,'' jawab Alan diiringi dengan sebuah senyuman.


''Yaaa.... kenapa nggak sekarang saja.'' mendengus kesal, karena Alan tak bisa menuruti keinginannya.


Ni bocah, memangnya buat adik kayak buat donat yang langsung jadi, tadi saja belum tentu langsung tercetak.


''Sekarang kan baru bikin, ya belum jadi.''


''Fana,'' suara Dinda yang baru saja membuka pintu kamar mandi.


''Mama....'' Serunya.


Dengan rambut yang masih basah Dinda mendekati Fana.


''Kenapa, sayang?''


''Dia mau adik cewek, ma.'' Sahut Alan yang saat ini mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Dinda.


''Adik cewek?''


Ini pasti kak Alan yang bicara macam macam ke Fana.


Dinda menoleh ke belakang menatap Alan yang sibuk mengeringkan rambutnya. Sepertinya pria itu cuek tak mau membantu untuk menjawab pertanyaan dari Fana.


''Bentar lagi ya, Fana sabar saja.''


Setelah selesai, kini Dinda membawa Fana keluar untuk menemui yang lain di bawah.


Suasana kembali renyah saat Fana bisa tersenyum dengan yang lain, gadis itu tak lagi merasa terpojok dengan statusnya yang di bilang tak mempunyai teman.


Sedangkan di dalam kamar, Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung saja mengambil ponsel Dinda yang dari tadi berdering.


Ternyata nama ibunya mertuanya yang berkelip di sana.


Ada apa ya, kenapa sampai sepuluh kali.


Alan merasa nggak enak hati dan beralih meneleponnya.


Tak butuh waktu lama, teleponnya terhubung.


''Halo, Bu, ada apa?'' Tanya Alan mengawali pembicaraan.

__ADS_1


Terdengar isakan tangis di telinga Alan dan itu pasti mertuanya.


''Bapak sakit, Nak, dia ingin bertemu dengan anak anaknya, tolong sampaikan ke Dinda supaya dia kesini, tapi Ibu mohon jangan bilang yang jujur, ibu takut Dinda sok.'' ucap Bu Tatik dari seberang sana.


Alan termangu, tubuhnya seakan tak berdaya mendengar suara yang tersendat itu.


Tanpa menjawab dan mematikan teleponnya, Alan berlari keluar dari kamarnya menghampiri Dinda dan yang lain di bawah.


Karena kepanikannya, sampai sampai Alan masih bertelanjang dada.


Aku harus bilang apa, Ibu melarangku untuk jujur, tapi jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya yang lain juga nggak akan tau.


Meskipun masih bingung Alan mencoba untuk terlihat biasa saat mendekati semuanya.


''Ma, pa, kita ke rumah bapak sekarang,'' ucap Alan ragu, semua orang tercengang menatap Alan.


Pak Heru mengernyit, tidak biasanya Alan mendadak dengan tujuannya.


''Bapak, memangnya kenapa, kak?'' Dinda mendekati suaminya, ingin penjelasan dengan maksud Alan.


''Bapak kurang enak badan, tadi ibu telepon kalau beliau ingin bertemu kamu dan bang Faisal.''


''Bapak sakit?'' tanya Dinda menggoyang goyangkan lengan Alan.


Alan mengangguk lalu merengkuh tubuh Dinda yang seketika melemah.


Mama Yanti menepuk punggung Dinda, ''Kamu tenang ya, kita ke sana sekarang.''


Semua ikut panik termasuk Amel yang langsung menghubungi Faisal.


''Kak, apa kata Ibu?'' Tangan Dinda mulai gemetar, takut penyakit jantungnya dulu kembali menerpa pak Yanto.


''Kita ke sana saja, bapak pasti baik baik saja.'' mencoba menenangkan Dinda yang sudah sesenggukan.


Salma ikut menangis, kabar yang sangat mengejutkan yang tak pernah terlintas olehnya.


Seperti yang ada di rumah Alan, Faisal yang mendapat telepon dari ibunya sendiri pun melajukan mobilnya untuk menjemput Amel.


Sebelum berangkat Daka menjemput Bu Entin, sedangkan Amel menghubungi papanya untuk segera menyusul.


Alan memilih untuk di antar pak Tedi, dan memisahkan Dinda dari anak anak yang kini naik mobil opanya, takut kedua buah hatinya ikut sedih melihat mamanya yang tak berhenti nangis.


''Sayang, kamu tenang ya, aku yakin bapak pasti baik baik saja.'' mengelus bahu Dinda yang bergetar karena tangis.


Seketika Dinda merenggangkan pelukannya dan menatap manik mata Alan. ''Kakak sayang sama bapak?''


Alan mengangguk. '' Pasti, karena bapak sudah memberikan putri cantiknya untuk aku, jadi tidak ada alasan untuk tidak menyayanginya, bahkan rasa sayang saja tak akan bisa membalas dengan apa yang sudah aku miliki sekarang, yaitu kamu.'' Tegasnya dan kembali membawa Dinda ke dalam dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2