Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Amarah sang mama


__ADS_3

Plaaakkk..... Sebuah tamparan mendarat di pipi Alan yang baru saja masuk bersama Daka, tak mengerti, tapi Alan bisa melihat kemarahan di wajah mamanya, dan pria itu memilih diam dari pada harus berdebat, apa lagi saat itu jam 00.01 itu artinya tengah malam.


Daka memilih undur diri, tak mau ikut campur urusan Alan kali ini, karena baginya itu pribadi, dan tak perlu ia tau sebelum Alan sendiri yang bercerita.


''Apa kamu sudah merasa hebat dengan diri kamu, sampai kamu menyakiti hati Dinda.'' ucap Bu Yanti tepat di depan Alan.


Ternyata mama marah karena Dinda, apa mungkin mama sudah tau semuanya, apa Dinda sudah cerita ke mama tentang kelakuanku selama ini padanya?


Pak Heru bungkam dan tak membela putranya karena menurutnya Bu Yanti benar dan perlu menegur sikap Alan yang kelewatan.


Tak mengelak atau membantah Alan menerima saat Bu Yanti kembali menampar pipi sebelahnya.


''Apa mata kamu sudah buta, sampai tak bisa melihat kebaikan dan keburukan, mama nggak nyangka jamu sejahat itu?'' tanya Bu Yanti lagi, kali ini wanita itu makin histeris dan menarik kerah baju Alan.


Bagaikan patung hidup, itulah Alan saat di hadapkan dengan amarah sang mama, membiarkan Bu Yanti meluapkan kemarahannya mungkin jauh lebih baik dari pada harus menghindar, dan baginya kali ini tak ada celah untuk membela diri.


Setelah Bu Yanti kembali duduk, Alan mendekati mamanya dan bersimpuh di depannya.


''Aku minta maaf, aku salah sudah menyakiti Dinda, aku menyesal,'' ucapnya menunduk, pria yang habis meneguk minuman itu masih sadar betul dengan situasi saat ini.


''Ma, tolong katakan apa yang harus aku lakukan?'' ucap Alan lagi seperti orang bodoh yang berjalan dalam kegelapan, dan butuh tuntunan untuk melangkah, itulah Alan saat ini.


Bagaimanapun kemarahan Bu Yanti dia tetaplah seorang Ibu yang tak mungkin tega dengan putranya.


''Kamu harus minta maaf sama Dinda, jika memang dia tidak mau kembali sama kamu, ikhlaskan dia, jangan buat lagi dia harus menderita seperti waktu itu,'' mengingatkan lagi masa sepuluh bulan saat bersama.


Tapi aku belum ikhlas untuk melepasnya ma, semoga masih ada jalan untuk membawa dia kembali, aku ingin dia merawat bayi kami bersama sama, batin Alan.


Alan mengangguk dan mencium punggung tangan Bu Yanti, meskipun sangat kecil kemungkinan, Alan masih berharap untuk bersatu lagi.

__ADS_1


''Sekarang kamu istirahat, besok temani mama ke rumah sakit untuk jenguk anak kamu!" menepuk punggung Alan.


Alan langsung saja masuk ke kamarnya, selain merasa lelah dengan masalah yang menerpa, Alan juga pusing karena minuman yang di teguknya, untung Daka cepat datang, kalau tidak, mungkin Alan sudah teler tak sadarkan diri di sana.


Dengan segera pria itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, di tatapnya langit langit kamarnya, mengingat terakhir kali saat ia tidur di kamar itu bersama Dinda.


Aku memang laki laki bodoh, karena sudah melukai hati kamu, tapi kali ini aku tidak akan membiarkan kamu pergi, apapun caranya, aku akan membawamu pulang, kita akan merawat anak kita bersama, batin Alan sebelum memejamkan matanya.


Sama seperti Alan yang terus meratapi nasibnya, di sisi lain Dinda terus saja termenung, meskipun ini adalah waktu istirahat wanita itu seakan ingin menatap masa depan yang cerah, melupakan masa kelam yang baru saja tersungkur dari kehidupannya.


"Kamu kenapa senyum senyum gitu? nggak ngantuk?" ucap Faisal duduk di samping Dinda yang masih betah di ruangan tamu semenjak pulang dari rumah Bu Yanti.


Dinda menggeleng, "Bang, besok aku mau pulang bareng Ibu dan bapak," ucapnya penuh harap.


Faisal tersenyum.


"Kita sama sama saja, abang juga mau pulang kok," timpal Faisal.


Faisal meringsuk duduknya dan makin mendekati Dinda.


"Nggak apa apa, itu mudah, lagi pula abang juga mau yang sederhana saja, yang penting sah, bukankah kamu juga masih harus ceck up ke rumah sakit, dan abang nggak mau terjadi sesuatu sama kamu, perjalanan ke rumah kita itu jauh, dan kamu belum boleh untuk terlalu capek." jelas Faisal.


Dinda mengangguk, karena dari tadi ia lupa itu, sedangkan yang di ingat Dinda ingin kembali menjadi penjahit membantu ibunya di kampung.


Kita akan pulang setelah apartemen ini laku Din, dan abang akan menggunakan uangnya untuk modal kamu nanti, semoga kamu cepat melupakan masa lalu kamu bersama Alan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari belum menyapa bahkan tetesan embun masih membasahi dedaunan, namun Bu Tatik sudah bergulat di dapur, ini adalah tugas yang di embannya berpuluh puluh tahun menyiapkan sarapan untuk suami dan putra putrinya, dan kali ini terjadi lagi setelah hampir setahun tak di lakoninya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu sengaja memasak kesukaan Dinda dan Faisal yang kebetulan sama, cukup sederhana, nasi goreng dengan telor ceplok khas Bu Tatik.


Dinda yang baru bisa memejamkan mata tiga jam yang lalu itu masih terlelap di balik selimut, namun karena butuh minum obat dan vitamin untuk pemulihan, terpaksa bu Tatik membangunkannya.


Dengan mata yang masih berat Dinda keluar dari kamarnya bersama sang Ibu.


Baru juga duduk, Dinda terbelalak saat mendapati bajunya yang basah karena Asinya yang terus menetes.


"Bu, ini gimana?" keluhnya sembari menutup piyama dengan kedua tangannya.


"Ya sudah nanti di kop dan di bawa ke rumah sakit." titah sang Ibu, seperti pengalamannya selama menjadi orang tua.


Faisal yang duduk di sebelah Dinda pun setuju karena ia pun ingin menjenguk keponakannya yang paling tampan.


"Aku mau ikut, aku juga ingin lihat bayiku." rengek Dinda menggoyang goyangkan lengan Faisal.


Melihat keadaan Dinda yang masih kurang sehat Bu Tatik pun mendekatinya.


"Lain kali saja, kamu dengar kan, ucapan Dokter Daka?" sang ibu masih mengingat dengan jelas omongan dokter itu yang melarang Dinda untuk kelelahan dan banyak fikiran untuk mempercepat kesembuhannya.


Akhirnya Dinda menyerah dan menuruti kemauan Ibunya.


"Baiklah, tapi nanti setelah aku sembuh, aku ikut ya?"


Faisal mengangguk, "Sini abang suapin!" menyodorkan sesuap nasi goreng plus telur di mulutnya.


Abang akan pastikan kalau kamu akan segera bercerai dari Alan, dan kita akan pulang kampung untuk selama lamanya. batin Faisal saat satu sendok nasi masuk ke mulut adiknya.


Baru saja dua suap, ponsel Faisal berdering tanda pesan masuk, dengan sigap pria itu membukanya.

__ADS_1


Seketika Faisal tersenyum renyah setelah membaca pesan itu, ternyata dari seseorang yang akan membeli apartemennya.


''Bu, pak, Din, aku keluar sebentar ya, nanti setelah ini aku langsung ke rumah sakit, kamu siapkan asinya.'' ucapnya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


__ADS_2