Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Keras kepala


__ADS_3

Tak ada sesuatu apapun yang melintas di otaknya selain bayi, itulah Dinda saat ini. Dengan jalan yang terseyok seyok, wanita itu masuk ke dalam gerbang setelah pak satpam membukanya. Di tatapnya rumah besar di mana ia menderita selama berbulan bulan di sana, bahkan sekali pun tak ada kemanisan yang ia gapai, dan itu membuatnya semakin terisak dan ambruk.


Demi melihat bayiku, aku rela menginjakkan kakiku disini lagi.


Kembali mendongak dan berdiri dengan bantuan pak satpam.


Tok... tok... tok... Dinda mengetuk pintu, meskipun masih tersendat wanita itu mencoba untuk kuat.


Ceklek, pintu terbuka, Bi Romlah mematung di depannya, keduanya saling pandang kemudian berpelukan, saling melepas kangen, karena sudah hampir dua bulan tak bertemu.


''Non apa kabar?'' Bi Romlah ikut menangis saat menatap wajah layu Dinda.


''Aku baik, ini untuk siapa?'' menunjuk baju yang ada di tangan Bi Romlah.


''Untuk anak Non, Bu Syntia belum bisa gantiin baju, jadi bibi yang rawat dia,'' jelasnya.


Ini kesempatanku untuk menemui bayiku.


''Sini, biar aku yang gantiin,'' mengambil alih baju dari tangan Bi Romlah.


Dengan hati yang mulai merekah Dinda menyusuri anak tangga menuju kamar Alan, karena Dinda meyakini kalau bayinya ada di kamar itu.


Seperti saat di depan, kini Dinda pun mengetuk pintu tanpa suara, terdengar celoteh Syntia menimang bayinya di dalam.


Pintu terbuka, Alan mematung di depannya diiringi senyuman.


''Dinda.'' tanpa aba aba pria itu langsung memeluk erat istri keduanya, Sedangkan Syntia yang mendengar suara Alan langsung menaruh kembali bayinya di box.


Mau apa dia kesini, apa dia mau mengambil bayinya lagi, terka Syntia dalam hati.


"Lepas, kak!" ucap Dinda mencengkal tubuh Alan untuk mengendurkan pelukannya.


Dengan segera Alan melepaskan pelukannya dan kembali tersenyum renyah.


"Kamu mau kembali kan sama aku, kamu mau tinggal disini lagi, kan?" tanya Alan meraih kedua tangan Dinda.


"Tidak, aku hanya ingin ketemu sama bayi aku," ucap Dinda mulai menitihkan air matanya.

__ADS_1


Syntia mendekati keduanya.


"Heh....Jangan percaya mas, aku yakin dia mau merebut kembali bayinya, dia pasti mau ingkar janji setelah melihat bayinya lahir.'' Ucap Syntia di belakang Alan.


Alan tak menjawab namun kini tatapan tajamnya itu mengarah ke wajah Syntia, bagaikan busur panah yang siap meluncur.


"Kamu bisa diam nggak?" ucap Alan tegas, kali ini Alan tak ingin kalau istri pertamanya ikut campur urusannya dengan Dinda.


''Din, kita harus bicara, tapi tidak disini.'' meraih tangan Dinda dan membawanya turun, tak peduli Dinda yang sudah meronta ingin di lepaskan, yang pastinya Alan terus memaksa Dinda untuk ikut dengannya.


''Kakak mau bicara apa, aku hanya ingin ketemu bayiku?'' ucap Dinda memukul lengan Alan.


Setelah sampai di kamar tamu, Alan melepaskan pergelangan tangan Dinda, sedangkan Dinda yang dari tadi meringis kesakitan itu memegang tangannya yang sudah memerah.


''Aku mau kita balikan.'' ucap Alan memohon dan duduk disamping Dinda.


Wanita itu menggeser duduknya menjauhi suaminya.


''Enggak, aku nggak mau balikan sama kamu.'' menegaskan kalau keputusannya untuk bercerai sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat.


Alan kembali menatap lekat manik mata Dinda.


Aku tau sekarang aku sudah tidak sempurna, tapi aku benar benar nggak bisa menerima kak Alan lagi, dan aku yakin, suatu saat nanti aku bisa bahagia meskipun aku tidak memiliki anak.


''Aku sudah memaafkan semua kesalahan kakak selama ini, tapi untuk balikan aku minta maaf, karena aku nggak bisa, aku mohon, ini adalah keputusan aku, jadi kakak jangan berharap diriku kembali.'' menangkupkan kedua tangannya.


Jika dengan cara halus aku nggak bisa, aku akan menggunakan cara lain untuk membuat kamu kembali ke rumah ini.


''Sekarang aku mau ketemu anak aku,'' ucap Dinda beranjak dari duduknya.


''Nggak bisa.'' jawab Alan saat Dinda mulai memutar handle.


Wanita itu kembali menoleh kebelakang menatap Alan yang masih duduk di tepi ranjangnya.


''Kenapa? aku hanya mau ketemu dia, kakak tau kan aku nggak mungkin ingkar janji, dan aku mohon, izinkan aku ketemu anak aku, aku ibunya, dan aku yang melahirkannya.''


Mungkin dengan cara ini kamu mau balik ke sini.

__ADS_1


''Oke, aku akan izinkan kamu ketemu anak kita, tapi dengan satu syarat, kamu harus kembali ke rumah ini dan batalkan perceraian kita.''


Dinda melongo, tak menyangka suaminya tega memberi sebuah negosiasi yang tak bisa ia lakukan, bahkan Alan dengan bangganya mengatakan syaratnya.


Dinda menggeleng, ''Nggak, aku nggak mau kembali, dan perceraian ini akan berlanjut.'' masih kekeh.


Setelah mengatakan semua itu, Dinda keluar dari kamar tanpa menghiraukan Alan yang masih di tempat.


Dengan langkah kebat Dinda kembali ke atas menuju kamar Syntia.


''Mbak, buka pintunya, aku mau ketemu bayi aku!" teriak Dinda saat pintu itu tertutup rapat, bahkan Syntia sengaja mengunci pintunya.


"Tidak, aku nggak yakin kalau kamu cuma melihatnya, jadi nggak usah berharap lagi dengan bayi kamu, lupakan dia!" teriak Syntia yang ada di belakang pintu.


Seketika Dinda runtuh dengan berlinang air mata, kini lebih tak menduga lagi kalau Syntia pun sama seperti Alan yang tak memperbolehkannya bertemu dengan putranya.


"Mbak, aku mohon, sebentar saja, setelah ini aku akan pergi, dan aku nggak akan ganggu kalian lagi." masih dengan tangisannya Dinda meninggikan suaranya.


"Aku bilang nggak ya nggak, lebih baik kamu pergi saja dari sini."


Aku harus minta bantuan kak Alan, semoga dia mau mengerti.


Dengan langkah yang mulai lemas Dinda turun dari tangga kembali menghampiri Alan yang saat ini hanya bisa menjambak rambutnya.


"Kak, aku mohon, tolong bujuk Mbak Syntia, bilangin sama dia, aku hanya ingin melihat bayiku," Alan merasa iba dengan permintaan Dinda, namun ia pun masih keras kepala dan tetap dengan syarat yang di ajukan.


"Aku akan sepenuhnya menyerahkan bayi kamu, asal kamu mau kembali sama aku."


Ucap Alan lagi.


Aku yakin kali ini kamu akan memenuhi syarat yang aku ajukan, karena aku tau kamu sangat menyayangi bayi kita.


Dinda menyeka air matanya, percuma dia mengemis sama Alan, pasti laki laki di depannya itu akan tetap dengan keputusannya.


"Tapi sayang aku tidak bisa."


Dinda memilih keluar dari kamar itu, meskipun hatinya hancur karena tidak bisa bertemu anaknya, Dinda masih mencoba untuk tegar saat meninggalkan Alan.

__ADS_1


Aku yakin pasti kamu akan kembali ke sini, mau sampai kapan kamu betah untuk tidak bertemu bayi kita, dan kita akan sama sama memberi nama bayi itu." gumamnya saat Dinda keluar dari rumahnya.


__ADS_2