
Hari sudah mulai siang, namun Dinda masih betah berada di balik selimut, wajahnya nampak bersemu merah saat seluruh keluarganya kini memenuhi kamarnya, apa lagi saat wanita itu menatap wajah dokter Tono yang terus tersenyum dan geleng geleng, makin menciut dan tak ingin bertemu mereka.
Mungkin jika ada sungai Dinda memilih untuk tenggelam dan tak nampak lagi, sayang itu tak bisa di lakukannya.
"Semuanya keluar!" rengeknya masih dengan wajah yang tertutup selimut tebal.
Pasti dokter Tono sudah cerita sama mereka kalau aku minum wine saat di menara kemarin. batinnya.
Setelah berteriak, ruangan itu mulai sepi, tinggal Pak Yanto dan Bu Tatik serta Dokter Tono yang ada di sana.
Dinda mulai menyibak selimut dengan pelan, matanya mengabsen setiap sudut kamar mewah itu, dan ternyata Abang, Salma serta Daka sudah tidak ada, sedikit beruntung setidaknya Dinda tak menjadi bahan tertawaan lagi akibat ulah konyolnya.
"Kenapa kamu bisa minum begituan?" tanya Bu Tatik ikut menghampiri Dinda yang masih di atas ranjang.
Dokter Tono masih mematung di pinggir ranjang sembari menautkan kedua tangannya.
Sedangkan Pak Yanto ikut duduk di tepi ranjang samping istrinya.
Tak menjawab pertanyaan sang Ibu, Dinda hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya melirik ke arah Dokter Tono meminta bantuan untuk menjawab.
"Dia kira air putih, Bu, dan waktu itu aku nggak lihat karena angkat telepon, dan setelah aku hampiri dia, segelas sudah amblas." jawab Dokter Tono dengan halus, kejadian di menara Eiffel lantai tiga yang membuat Dinda tanpa sadar meneguk segelas Wine dan membuat dirinya terus merancau karena mabok, hingga terpaksa Dokter Tono menggendongnya sampai ke bawah, itu membuat seluruh keluarga sangat khawatir pada Dinda.
"Kamu nggak kasihan sama Dokter Tono, sudah menemani kamu kemana pun, belum lagi gendong kamu." ucap bu Tatik mengelus pucuk kepala Dinda.
Dinda yang merasa bersalah beranjak menghampiri Dokter Tono dan mencium punggung tangannya, "Terima kasih, Dok, aku minta maaf, cuma bisa nyusahin Dokter." cicitnya.
"Tidak apa apa, yang penting jangan di ulangi, kalau ingin minum atau makan sesuatu, bilang dulu, jangan main selonong, iya kalau kamu ada yang menemin, kalau tidak, bagaimana, ini negara asing, bahaya." tuturnya.
Dinda mengangguk mengerti.
"Sekarang jadi nggak jalan jalannya lagi, kita belanja." Bahkan saat ini bukan kemauan Dinda melainkan Dokter Tono sendiri yang menawarkan diri.
Wanita itu menoleh menatap bapak Dan ibunya yang menggeleng kecil.
__ADS_1
Dinda ikut menggeleng.
"Loh, kenapa? katanya mau di puas puasin jalan jalannya sebelum pulang?"
"Nggak apa apa, biar aku temani." Karena sedikit memaksa akhirnya Dinda mengangguk dan menerima tawaran Dokter Tono.
Setelah Dinda menyetujui ajakannya, Alan langsung keluar dari kamar Dinda untuk bersiap, begitu juga dengan wanita itu, yang langsung ke kamar mandi, kali ini bukan hanya Dinda yang merasakan aneh pada sosok Dokter Tono, tapi Pak Yanto dan Bu Tatik juga, namun mereka pun masih diam.
Alan membuka pintu kamar dan melebarkan matanya saat mendapati dua sahabatnya sudah berada di sana.
"Kalian, ngapain disini?" tanya Alan bingung, apakah saat ini ia akan kena marah lagi sama Daka dan Faisal, atau memang ada sesuatu yang diperlukan kedua sahabatnya itu.
Tak ada yang bersuara Daka menepuk sofa yang masih kosong di sampingnya.
Setelah melepas kumis palsu dan jenggot palsunya Alan duduk di samping Daka.
''Ada apa?'' tanya lagi Alan mulai penasaran dengan keduanya yang terlihat serius.
Daka menatap Faisal, namun pria itu malah menyungutkan kepalanya ke arah Daka, mengisyaratkan kalau Daka lah yang harus bicara.
Alan mengangguk, masih belum paham dengan apa yang akan di katakan mereka.
''Dan sebentar lagi Dinda pasti akan minta cerai dari kamu,'' lanjut Daka sedikit tak tega dengan apa yang ingin di ungkapkan karena pasti Alan akan merasa kecewa.
''Dan aku lihat Dinda juga sudah lebih baik berkat kamu, dan maksud aku, bagaimana kelanjutannya setelah pulang dari sini?''
Alan tertawa kecil, ia kira mau kena marah namun ternyata masalah perceraiannya dengan Dinda yang di pertanyakan.
''Ya nggak apa apa?'' Jawab Alan sesantai mungkin untuk tidak sedih, ''Aku sudah siap menanggung semuanya, jika menjauh dan bercerai dariku, akan membuat Dinda bahagia, kenapa tidak, karena aku memang bukan laki laki yang baik buat dia. Jadi jangan khawatir, aku akan menepati janjiku.'' jelasnya menepuk lengan Daka dan Faisal bergantian lalu beranjak meninggalkan keduanya menuju kamar mandi.
''Masalahnya bukan itu, Al?'' teriak lagi Daka saat Alan sudah memegang handle, dan terpaksa Alan menoleh.
''Bagaimana jika dia tau kalau Dokter Tono adalah kamu, apa yang harus aku dan Faisal katakan padanya?''
__ADS_1
Alan menghela nafas panjang, ''Kalau kalian nggak bilang, pasti Dinda nggak akan tau, jadi, sampai kapanpun jangan pernah katakan pada Dinda kalau Dokter Tono dan Alan adalah orang yang sama, oke!" menyambung jari telunjuk dan jempolnya hingga membentuk lingkaran.
Kedua pria yang duduk di sofa itu tak menjawab malah saling tatap, masih bingung dengan keadaan nantinya.
Setelah menjelaskan secara terperinci, Alan membuka dan masuk, seketika ia mengunci pintunya. Alan menatap wajahnya dari pantulan cermin, semua yang di ucapkan tak sesuai isi hatinya yang kini malah makin hancur saat membahas peeceraiannya, namun Alan tak bisa berbuat apa apa selain menuruti kemauan Dinda.
Semua sudah terlanjur, sebesar apapun penyesalanku, tidak akan mengubah keadaan, mungkin aku tidak bisa memiliki Dinda lagi, tapi setidaknya aku bisa membuatnya bahagia lagi meski menjadi orang lain.
Sedangkan di kamar sebelah, Dinda yang sudah cantik itu pun keluar dari kamarnya menuju kamar Dokter Tono yang memang tepat ada di samping.
Di ketuknya pintu yang tertutup rapat, membuat Faisal langsung membukanya.
"Abang."
"Dinda."
Keduanya saling sapa bersamaan, dan saling membelalakkan matanya.
"Bukankah ini kamar Dokter Tono?" tanya Dinda memastikan seraya menatap nomor yang tertempel di pintu.
Gawat, Alan kan ada di kamar mandi dan dia kan melepas kumis dan jenggot palsunya bagaimana ini?
"I.. iya... memangnya kenapa?" gugup.
Dinda mengernyit dengan pertanyaan Faisal yang terlihat panik.
"Ya, aku kan mau ketemu sama dokter Tono, dia di mana?" menyembulkan kepalanya ke dalam di mana juga ada Daka yang masih duduk manis di sofa.
"Ada dokter Daka juga?" ucap lagi Dinda makin heran saja.
"Dinda," Faisal merangkul pundak Dinda dan mengajaknya keluar, lalu pria itu menutup pintunya kembali.
"Kami lagi diskusi masalah nanti saat pulang, dan dokter Tono di kamar mandi, mungkin dia sedang pup, kita tunggu disini saja ya!" membawa Dinda duduk di kursi depan kamar.
__ADS_1
Kenapa bang Faisal aneh gini, kayaknya ada yang di sembunyikan dariku, tapi apa, jika saat minggu lalu aku belum tau apa apa, sekarang abang tak bisa lagi membohongiku, aku harus cari tau apa yang mereka rencanakan di belakangku bersama Dokter Tono dan Dokter Daka.