Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Sandiwara


__ADS_3

''Maaf, untuk apa?'' Dinda seakan tak pecaya dengan ucapan suaminya barusan, kini dia ikut duduk di tepi ranjang samping Alan, ingin Alan menjelaskan lebih detail lagi.


Alan menoleh menatap Dinda yang juga menatapnya.


''Maaf untuk semuanya yang sudah pernah aku lakukan ke kamu.'' imbuhnya lagi membuat jantung Dinda berdebar, apakah itu mimpi, Dinda makin tak percaya dengan kelembutan ucapan suaminya.


Kak Alan minta maaf, itu artinya dia bisa menerimaku sebagai istrinya, Tuhan apakah ini nyata, aku tidak sedang bermimpi di siang bolong kan, semoga ini awal yang baik untukku.


Dinda tersenyum seakan hamparan panasnya matahari yang singgah di terpa oleh salju yang menyejukkan hatinya, mampu membuat goresan luka itu sedikit tertutup, ini yang Dinda inginkan selama ini, kelembutan dari seorang suami, dan saat ini Alan meminta maaf itu sesuatu yang luar biasa. menurutnya.


''Kakak nggak salah ngomong kan?'' Dinda memastikan.


Alan menggeleng.


Dengan sigap Dinda memeluk tubuh kekar di sampingnya.


''Terima kasih, akhirnya kakak mau menerimaku, aku akan menjadi istri yang baik untuk kakak, meskipun aku tidak se sempurna Mbak Syntia, setidaknya aku bisa mengabdikan hidupku untuk kakak, ucap Dinda dengan mata yang sudah berkaca.


Mendengar ucapan Dinda, Alan melepaskan tubuh Dinda dari tubuhnya.


''Nggak gitu Din, ucap lagi Alan dengan wajah yang masih serius, Alan tau kalau Dinda salah paham dengan perkataannya.


''Terus?''


Alan menatap ke depan, ''Maksud aku, ya, aku minta maaf karena aku nggak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu,'' masih sedikit berat untuk mengucapkannya hingga menjeda sebentar.


''Kamu dengar kan kata ibu tadi, jika kamu tidak bisa membuat aku jatuh cinta sama kamu, Ibu siap menerima kamu kembali, Dinda melongo, matanya membulat sempurna, mulai paham dengan apa yang di ucapkan Alan meskipun belum lengkap.


''Itu artinya memang kita harus pisah setelah kamu melahirkan,'' Alan melanjutkan ucapannya, ''Karena sampai saat ini aku masih belum bisa mencintai kamu,'' tegasnya.


Dinda yang sedari tadi berkaca kini meloloskan air matanya, tak menyangka kalau suaminya akan berkata seperti itu, meskipun Ia tak tahan dengan sikap Alan selama ini, tapi kata pisah dari suami membuat seluruh tubuhnya hancur berkeping keping.


Dinda menyeka air matanya, ''Nggak apa apa, jika itu memang jalan terbaik, kenapa tidak,'' katanya dengan terpaksa.

__ADS_1


Dinda menyeka air matanya dan kembali tersenyum palsu.


''Apa aku boleh pinjam kamar mandi?'' tanya Dinda.


Alan mengangguk tanpa suara.


Dinda beranjak menuju kamar mandi, karena Ia bingung mau menumpahkan air matanya di mana, jika di kamar sang Ibu pasti wanita itu langsung tau akan kondisi diri dan rumah tangganya, dan jika di samping Alan, Dinda tidak mau terlihat lemah, karena itu bukan sifatnya yang harus terus mengiba, mungkin kamar mandi Alan adalah satu satunya tempat untuk ritualnya.


Setelah menutup pintu, Dinda langsung saja merosot di lantai, tak tahan untuk membendung air laknat yang sedari tadi ingin memberontak.


Ingin menjerit namun di tahannya, nggak mungkin Ia membuat kekacauan di saat orang tuanya datang.


''Kenapa kamu terlalu percaya diri kalau Alan menerima dan mencintai kamu Din, mikir, siapa kamu, nggak mungkin suami kamu itu punya cinta untuk kamu, dan bersiaplah menjadi janda dari Alan Sudrajat.'' memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya.


Dinda kembali meluruhkan air matanya, Ia menangis sejadi jadinya untuk melegakan dadanya yang begitu sesak, meskipun tak cukup, setidaknya menangis adalah jalan satu satunya yang mengerti dirinya.


''Jangan sedih Din, bukankah itu yang kamu mau, lepas dari suami yang tidak mencintai dan tidak pernah tanggung jawab padamu, bahkan dia tak pernah adil padamu, berbanggalah, jangan rendah diri karena kebahagiaan akan datang sebentar lagi,'' pasrahnya lagi sembari tersenyum paksa.


Setelah puas bermonolog, kini Dinda bangun untuk membasuh wajahnya, mungkin dengan itu bisa menutupi matanya yang sembab.


Dinda keluar dari kamar mandi dan kembali mendekati Alan yang masih berada di tempat, sepertinya pria itu juga memikirkan sesuatu yang tidak di ketahui Dinda.


''Kak.'' panggilnya.


Alan mendongak menatap dari perut buncit hingga wajah yang terlihat sedikit cerah.


''Meskipun kita nantinya akan pisah, Aku ingin satu saja kakak mengabulkan permintaanku, ucapnya masih sedikit ragu karena itu sudah lancang menurutnya.


''Apa?'' tanya Alan, kini Ia memlih melengos dari pada menatap Dinda yang terlihat melas.


''Aku ingin kakak pura pura mencintai dan menyayangiku selama Ibu dan bapak disini, aku yang akan bicara pada mereka nantinya, tapi jangan sekarang, aku mohon, menangkupkan kedua tangannya di depan Alan.


Terpaksa Alan meng iyakan permintaan Dinda.

__ADS_1


''Apa kakak nggak ingin merasakan gerakan anak kita?'' meraih tangan Alan yang dari tadi mengepal.


Dengan perlahan Dinda membukanya dan menempelkan di perutnya.


Benar saja, baru juga berapa detik, tangan Alan merasakan gerakan dari dalam perut Dinda, itu sukses membuatnya mengukir senyum entah di sengaja atau tidak wajah Alan berseri dan terus merabanya.


Anak aku, dia sudah hidup di dalam perut Dinda, itu artinya sebentar lagi aku akan menjadi ayah. batinnya.


Dinda ikut tersenyum melihat tingkah Alan, kali ini pria yang sangat angkuh dan selalu tak mempedulikannya itu menampakkan kebahagiaannya.


Meskipun kita tidak bisa bersama, setidaknya aku bisa memberimu seorang anak, dan aku tidak akan melupakan kalau kamu pernah hadir di hidupku.


"Kita keluar yuk, kak, pasti yang lain nyariin."


Alan langsung menggandeng tangan Dinda dan keluar, seperti rencananya mereka bersandiwara untuk mesra di depan Bapak Ibu abang dan mamanya yang kini sudah duduk di meja makan.


''Kapan abang datang, kok aku nggak di panggil.'' ucap Dinda yang tak tau menau kehadiran Abangnya, seperti biasa, wanita itu langsung mencium punggung tangan Faisal.


''Tadi sore, kamu sih di kamar terus sama Alan sekarang sudah nggak ingat abang lagi.'' celetuknya.


Semua tersenyum termasuk Alan.


''Bisa saja.''


Alan menarik kursi untuk Dinda duduk dan itu saja mampu membuat Bu Tatik tersenyum.


''Mau makan apa?'' tanya lagi Alan mengambilkan nasi untuk Dinda.


''Apa saja, aku suka kalau kakak yang ambilkan.''


''Mau aku suapi?'' tanya Alan lagi, kali ini tak tanggung tanggung untuk menjalankan aksi sandiwaranya.


''Aku bisa sendiri.'' meraih piring yang sudah berisi nasi penuh lengkap dengan lauknya.

__ADS_1


Semua mata memang tertuju pada sepasang suami istri tersebut, sepertinya mereka bersyukur saat menatap tingkah Dinda dan Alan yang terlihat hangat, namun Dinda malah berkelana dengan otaknya.


Maafkan Dinda Bu, Dinda sudah membohongi kalian, Dinda hanya ingin melihat kalian bahagia, dan semoga Dinda bisa melewati ini semua tanpa ikut campur tangan kalian.


__ADS_2