Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Salah ngomong


__ADS_3

''Pak, di bawah ada bu Syntia sedang mengamuk.''


Ucapan Bela dari ambang pintu seketika menghentikan Aktivitas Alan yang sibuk dengan dokumennya, begitu juga dengan Faisal yang langsung beranjak dan menghampiri wanita tersebut.


''Kamu nggak salah orang, kan?''


Tanya Faisal memastikan, sekian lama bercerai ini kali pertamanya wanita itu muncul lagi.


''Benar pak, bahkan sudah di usir, tapi Bu Syntia tidak mau pulang.'' Jelasnya.


Faisal menoleh menatap Alan yang masih duduk di kursi kebesarannya.


Alan mengetuk ngetukkan pulpen di tangannya masih tak mengerti dengan mantan istrinya tersebut.


''Biarkan dia masuk.''


Setelah mendengarkan jawaban dari Alan, Bela segera turun untuk menyampaikan titah bosnya.


''Kalau gitu aku juga keluar dulu.''


"Jangan! Abang di sini.''


Menghentikan langkah kakak iparnya yang hampir saja melewati pintu.


Tak butuh waktu lama, wanita yang pernah berada di sudut hatinya, wanita yang pernah meluluh lantahkan hatinya dan wanita yang pernah menghiasi hari harinya dengan senyuman itu sudah tiba di ruangannya.


"Silahkan masuk!" ucap Faisal mempersilahkan sebelum ia kembali duduk di sofa. Sedangkan Alan memilih bungkam dan malas menatap.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Alan mengawali pembicaraan. Karena Alan tak mau lama lama Syntia ada di dekatnya.


Heh....Syntia tersenyum getir dengan kedua tangan terlipat.


"Kamu itu tidak adil, Mas," ucap Syntia.


Alan menoleh menatap Faisal yang malah mengangkat kedua bahunya, sama sama tak mengerti dengan apa yang di maksud Syntia.


"Tidak adil, masalah apa?" tanya Alan lagi ingin sebuah penjelasan.


"Aku sudah menamani hidupmu hampir empat tahun, aku selalu ada di saat kamu susah maupun senang, aku ada di saat kamu butuh sandaran, dan aku selalu mementingkan diri kamu daripada keluarga aku, tapi apa, hanya dengan sebuah foto kamu percaya dan menceraikan aku begitu saja. Tapi sekarang, jelas jelas Dinda juga selingkuh, tapi kenapa kamu masih bersamanya. Kenapa kamu tidak memperlakukannya seperti kamu memperlakukan diriku. Bukankah itu tidak adil?"


Rahang kokoh Alan semakin mengeras, kedua tangannya mengepal, demi apapun Syntia sudah menyalakan api kemarahan.


"Hebat sekali kamu ya," Alan bertepuk tangan mendekati Syntia yang dari tadi mematung.


"Harusnya kita nggak usah membahas masa lalu, tapi karena kamu sudah membongkarnya, aku pun perlu mengingatkan supaya kamu tidak merasa paling benar."


"Apa kamu juga lupa, apa yang aku berikan selama ini untuk kamu, bahkan seumur hidup kamu untuk mengembalikannya saja nggak mungkin bisa, jadi jangan pernah membawa masa lalu lagi, dan jangan bilang kalau kamu lebih mentingin aku, karena aku kecewa saat kamu sering menginap di rumah bibi kamu, O.... iya atau jangan jangan waktu itu kamu nggak nginap di rumah keluarga kamu?" tanya Alan makin menyelidik saja.


Kenapa malah jadi gini sih, aku kesini mau ngejelasin tentang Dinda, kenapa aku yang di introgasi.

__ADS_1


"Dan jangan bawa bawa keadilan, karena di antara kita tidak ada hubungan apa apa lagi, Jika tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan, silahkan pergi dari sini sebelum Aku memanggil satpam untuk mengusirmu dengan cara tidak hormat." Menunjuk ke arah pintu.


Setelah menghentak hentakkan kakinya, Syntia memilih untuk pergi, karena wanita itu tau kalau wajah Alan terlihat sangat serius dan tak main main dengan ucapannya.


Faisal yang dari tadi diam kini mendekati Alan yang masih duduk di mejanya.


"Al," menepuk pundak Alan.


"Memangnya apa yang di katakan Syntia benar?" tanya Faisal penasaran.


"Yang mana?" balik nanya, karena Alan tak paham yang di maksud Abang iparnya.


"Dinda selingkuh." jelasnya.


Alan mengangguk tanpa suara dan kembali duduk di kursinya.


Faisal menarik kursinya hingga keduanya kini saling tatap.


"Sama siapa? dimana?" Tanya Faisal lagi antusias.


"Sama Dokter Tono, di restoran."


Sebuah tinju melayang di perut bos sekaligus adik iparnya, bisa bisanya laki laki itu menipu saudaranya yang terlihat panik.


"Sakit bang,'' mengelus perutnya yang masih terasa ngilu. Namun dalam hati cekikikan.


"Halo, iya Bi, ada apa?" tanya Alan. Raut wajahnya kembali khawatir, tak biasanya Bi Romlah telepon di jam makan siang.


Halo, den, Non Dinda nggak mau makan, katanya mau diet.


"Apa, diet?" Alan memastikan kalau yang di dengar dari pembantunya adalah kata itu.


Faisal ikut tercengang saat mendekati Alan.


"Oke, Bibi temenin dia sampai aku pulang, jangan di tinggalkan sedetikpun, aku nggak mau kalau terjadi apa apa dengannya dan juga bayinya." pesannya.


"Kenapa, Al?" tanya Faisal.


"Adik abang mau diet katanya, ada ada saja tu bocah, heran, tapi aku yakin pasti dia habis dengar sesuatu dan di masukin kehati," terka Alan sebelum memakai jasnya kembali.


"Dia memang begitu, tapi dia mudah dirayu."


Mudah apaan, empat bulan aku menderita harus tidur sendirian, bahkan sedikitpun tak mengizinkan aku untuk mencium anak anakku, apa itu yang namanya mudah di rayu.


"Ya sudah, aku pulang dulu." Alan meninggalkan Faisal yang masih merapikan dokumen di mejanya.


"Hati hati! nanti aku ke sana."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bi Romlah langsung berlari keluar saat mendengar mobil berhenti di halaman rumah, dan benar saja ternyata Alan sudah tiba, dengan wajah yang gelisah, Alan bergegas masuk seraya mendengarkan penjelasan Bi Romlah.


Di bukanya pintu kamar miliknya, di lihatnya Dinda sedang duduk di sofa dengan menatap ke depan luar jendela.


"Kakak sudah pulang," meraih tangan Alan dan menciumnya. Kini keduanya duduk bersanding.


"Kamu kenapa nggak makan?" tanya Alan ke inti, karena ia tau bagaimana saat Dinda memendam rasa laparnya, jika dari tadi tak makan. Pasti wanita itu tersiksa demi menuruti egonya.


''Aku mau diet, supaya langsing lagi.''


Seperti tanpa beban ucapan itu meluncur dengan lugas.


Apa maksudnya, memang ada, wanita hamil tapi diet, aku harus cari cara untuk meyakinkannya. Bicara dalam hati.


Alan terus memutar otaknya untuk membatalkan niat konyol istrinya.


"Sayang, aku nggak suka wanita langsing, jadi kamu nggak usah diet," entah berhasil atau tidak, setidaknya Alan sudah mencoba.


"Bohong.'' bentaknya, ''Aku nggak percaya dengan omongan kakak, itu pasti alasan untuk mencegah rencanaku kan?"


Udah mulai pintar dia.


"Beneran," Alan kembali meyakinkan. ''Jadi kamu nggak usah diet segala, aku sudah pasti cinta apa adanya.''


"Tapi, _ Ucapan Dinda terputus saat Alan mendaratkan jarinya di bibir Dinda.


"Nggak ada tapi tapian, kamu harus makan, aku nggak mau lagi dengar kata diet.'' tegasnya.


"Tunggu!" menghentikan langkah Alan.


''Apa lagi?'' Alan menoleh.


''Tapi aku masih cantik nggak sih?'' tanya nya konyol.


''Meskipun badan kamu segede gajah, kamu tetap cantik, dan tidak ada yang mengalahkannya.'' Mungkin dengan menyanjung akan membuat Dinda cepat luluh.


''Tapi aku perlu bukti dengan ucapan kakak?''


Alan mengangguk.


Pretty Zhinta sama Pretty Asmara cantikan siapa?'' tanya nya seketika.


''Ya Pretty Zhinta lah, masa gitu aja nanya.'' ceplosnya.


''Itu artinya kakak bohong kalau aku ini cantik, buktinya kakak saja lebih memilih bintang bolywood yang langsing itu dari pada artis yang gemuk itu.''


Tu kan, aku salah ngomong lagi, Hadeehhh....untung saja dia itu wanita yang aku cintai, kalau tidak, sudah aku guling guling biar jadi molen sekalian.


Faktanya Alan hanya bisa menggerutu dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2