
Kecewa, lagi lagi Dinda hanya bisa merasa kecewa atas permintaan yang tidak pernah di kabulkan suaminya, tersisih yang belum tau ujungnya, ingin rasanya menjerit melepas rasa sesak di dadanya, namun tak bisa, mungkin menangis memang jalan yang di kirim Tuhan untuk membuatnya sedikit lega.
Setelah menghabiskan air matanya, Dinda kembali untuk membuka mata, meski bukan lembaran baru yang ada di depan mata Dinda mencoba tegar untuk melewatinya.
Mungkin merayakan bersama asisten rumah tangganya lebih asyik, itulah kata hatinya.
Dinda turun dan menuju dapur mencari semua pembantunya yang saat ini sedang duduk manis di teras belakang.
''Bibi, serunya sembari membawa kue yang di bawa Faisal tadi pagi.
Semua beranjak mendekati Dinda yang mematung di ambang pintu.
''Non, ngapain kasini, bukankah non mau jalan jalan?'' tanya Bi Romlah yang sempat mendengar percakapan tadi pagi.
''Nggak jadi bi, Mbak Syntia sakit,'' nada melemah.
''Ya sudah lain kali kan bisa, merangkul Dinda dan menggiringnya ke kursi.
''Kita makan kue sama sama ya Bi, meletakkan kuenya di meja samping Bi Min dan Bi Sami.
''Tapi non?''
Dinda menoleh menatap semua pembantunya yang kini hanya bisa mematung di belakangnya
''Nggak apa apa, kak Alan nggak akan marah sama kalian, ini kue dari bang Faisal, dan aku ingin kalian merayakan kebahagiaan bersamaku.'' mendengar ucapan Dinda Bi Romlah merasa terenyuh, tak bisa memungkiri kalau Dinda memang malaikat yang tak bersayap, meskipun keinginnya tak terkabul, wanita itu tak menganggap perkara besar.
Bi Romlah memeluk Dinda dengan erat.
Bibi tau pasti Bu Syntia hanya pura pura sakit saja untuk menghalangi Non dan den Alan, yang kuat dan sabar doa bibi selalu menyertaimu.
Dengan hati perih Dinda tersenyum, dengan luka yang masih membekas ia membalutnya dengan sedikit tawa.
''Ada hadiah nggak ni buat Dinda?'' menengadahkan tangannya di depan bi Romlah dan yang lain.
Semua diam dan saling pandang, bingung apa yang harus di kasih, sedangkan Dinda adalah majikan yang sudah punya semuanya.
''Cuma Bercanda kok Bi.''
''Bibi ada hadiah buat Non,'' menggenggam kedua tangan Dinda.
''Kami bertiga punya Doa untuk non, semoga non selalu di beri kesehatan dan kebahagiaan yang tidak dapat di ukur dengan apapun, semoga apa yang non hadapi selama ini akan berbuah manis, ucap Bi Romlah dari hati.
Setelah meng aminkan Dinda memeluk Bi Romlah dengan erat dan kembali meneteskan air mata.
__ADS_1
''Terima kasih ya Bi, setidaknya di rumah ini masih ada sandaran untuk Dinda, dan semoga Dinda selalu di beri kekuatan menjalani semua ini sampai waktu yang akan menjawabnya.''
''Kapan pun non butuh Bibi, Bibi siap untuk melayani non, dan pundak bibi ini siap menjadi sandaran non di saat sedih.''
Akhirnya Dinda menghabiskan waktu seharinya bersama pembantunya, tak sungkan sungkan bagi Dinda untuk curhat, namun tetap Ia tak mau menyinggung masalah rumah tangganya, baru juga membaringkan tubuhnya di ranjang kecil milik Bi Romlah, ponsel nya berdering, nama bang Faisal di sana.
Dinda tak mengangkat dan masih diam di tempat, karena ia tau apa yang akan di ucapkan abangnya tersebut, kali ini Dinda lebih memilih untuk menghindar.
Setelah lelah berdering, baru wanita itu mengambil dan menatapnya lalu mengirim pesan.
Maaf ya bang, aku capek nih habis jalan jalan, aku ngantuk mau tidur, nggak bisa menjawab telepon abang, kalau mau ngomong besok saja ya.
Maaf aku berbohong bang.
Pesan yang langsung terbaca itu menerbitkan senyum di sudut bibir Faisal yang saat ini bercakap dengan Amel di sebuah cafe.
''Apa kata Dinda mas?'' tanya Amel ikut antusias, baginya Dinda seperti adiknya sendiri, dan Amel pun menyayanginya sebagaimana Faisal.
''Wah...pasti Alan sudah memborong barang mewah untuk Dinda,'' kelakarnya.
Faisal kembali tersenyum, ''Pasti, dan kali ini anak manja itu paling sudah molor.''
''Oh... iya mas, kapan kita main ke kampung?'' tanya Amel serius, gadis itu ingin sekali mengenal calon mertuanya lebih dekat.
''O.... ya sudah, nggak apa apa, yang penting kita tetap menikah kan?''
Faisal mengangguk. ''Jangan khawatir, aku tidak kan php in kamu.''
''Amel, tiba tiba saja suara dari belakang mengejutkan sepasang kekasih yang lagi santai menikmati latte, keduanya menoleh mengarah ke sumber suara.
''Remon, hai apa kabar?'' Amel beranjak dan bersalaman dengan pria gagah yang sudah di kenalnya semenjak di SMA.
''Baik, kamu sendiri gimana?'' tanya Remon yang memang baru pulang dari luar negeri, selain melanjutkan studi di sana, Remon juga membantu mengelola bisnis ayahnya di sana.
''Baik, wah.. kelihatannya sudah sukses nih, basa basi menatap penampilan Remon yang sangat rapi dan wibawa.
''Kamu bisa saja.'' menepis tapi suka saat di puji wanita yang menjadi pujaan hatinya.
''Mon,... kenalin ini mas Faisal calon suami aku.''
Pria itu masih saja diam dan menatap Faisal dengan lekat dari atas ke bawah, ''Calon suami?'' ucapnya seperti tak percaya.
Amel mengangguk.
__ADS_1
Faisal mengulurkan tangannya.
Begitu juga dengan Remon yang langsung menerimanya meskipun masih terlihat sinis.
''Faisal.''
''Remon.'' malas.
''Boleh gabung?'' tanya Remon setelah melepas salamannya.
''Silahkan!" jawab Faisal santai, meskipun pria itu menatapnya tak suka.
''Dari perusahaan mana?'' tanya Remon ke inti.
''Saya cuma sekretaris di perusahaan Arkana grup, jawabnya jujur dan tak menghiraukan tatapan Remon yang seperti menyelidik sembari mengelus dagunya.
''Kamu yakin memilih dia?'' menatap wajah Amel dan menunjuk Faisal, sepertinya pria itu sangat kecewa dengan pilihan Amel.
''Memangnya kenapa, apa ada yang salah?'' tanya Amel mulai sewot tak suka degan ucapan Remon yang menurutnya meremehkan calon suaminya.
''Nggak, kamu pernah menolak aku dan sekarang kamu memilih sekretaris ini,'' cetusnya lagi membuat Faisal mengepalkan tangannya, namun pria itu masih menahan emosinya yang sudah memuncak di ubun ubun, karena menurutnya benar apa kata si Remon, Amel adalah wanita yang mendekati sempurna, namun harus berdampingan dengan dirinya yang hanya seorang sekretaris.
Amel kembali mencondongkan kepalanya.
''Aku tidak memilih pangkatnya, aku memilih orangnya karena mas Faisal adalah laki laki yang baik, dan aku tidak peduli, meskipun dia tukang ojek sekali pun aku tidak akan berpaling, apa lagi dengan laki laki seperti kamu.
Meraih tangan Faisal dan berlalu.
''Datang datang ganguin orang aja,'' gerutunya saat masuk ke dalam mobil.
Setelah membukakan pintu untuk Amel, kini Faisal ikut masuk dan siap melajukan mobilnya, di taranya wajah cantik Amel yang masih merengut.
''Kamu kenapa?'' tanya Faisal.
''Ya aku sebel lah, mas, seenaknya saja ngomong gitu, lagi pula apa urusannya,'' masih nada jengkel.
''Tapi itu benar lo.'' Faisal pun ingin meyakinkan Amel untuk lebih mantap sebelum mereka ke pelaminan.
Amel menoleh.
''Mas, bukan harta atau tahta yang aku cari, tapi cinta yang tulus, dan itu aku dapatkan dari kamu, jadi jangan dengarkan omongan orang, anggap aja mereka angin lewat.''
Faisal hanya mengangguk tanpa suara.
__ADS_1
Kamu memang baik Mel, meskipun aku tak se-kaya mereka, aku akan memberikan cintaku sepenuhnya untuk kamu.