Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
lembaran baru


__ADS_3

Terus semangat dan tak mengenal lelah, itulah Alan saat menyangkut tentang Dinda, bukan sepenuhnya ingin kembali hidup bersama, karena kesalahannya yang sangat fatal, tapi Alan hanya ingin wanita itu kembali normal seperti sedia kala.


Pagi buta, matahari belum menampakkan sinarnya, namun Alan yang berwajah dokter Tono itu sudah datang ke kamar rawat Dinda.


Alan tersenyum menatap gerangan yang masih terlelap di balik selimut, Dan Alan melihat ada kenyamanan di sana, hingga membuatnya tak tega untuk membangunkannya.


Seandainya saja aku adalah orang yang kamu cintai, pasti aku sangat bahagia bisa menyaksikan di saat kamu membuka dan menutup mata, tapi sayang, semua itu hanyalah mimpi.


Alan mendekati ranjang dan membenarkan selimut yang berserakan, tak sengaja pria itu menyenggol tangan Dinda hingga membuat sang empu terusik.


Seketika Dinda mengerjap ngerjapkan matanya menatap wajah Alan yang sudah mematung di samping ranjangnya.


''Dokter!" Dinda terkejut, tak biasanya di jam segitu ada dokter yang sudah bertugas.


"Maaf, terganggu ya?" ucap Alan, merasa bersalah dengan bangunnya Dinda.


Dinda yang tak tau malau itu malah menggeliat di depan Alan.


"Wah, kayaknya tadi malam mimpi indah." cetus Alan lagi merapikan bantal setelah Dinda terbangun.


Wanita itu menatap ke depan masih mengumpulkan nyawanya yang tercecer.


"Sekarang kamu mandi dulu, kita jalan jalan ke taman, mau nggak?" Alan menawarkan diri untuk mengajak Dinda menikmati indahnya munculnya sang mentari.


"Aku juga sudah bawa baju yang cantik untuk kamu." mengangkat paper bag yang dari tadi masih menggantung di tangannya.


Dinda menatap penuh dengan kedua matanya, masih diam di tempat seperti memikirkan sesuatu.


Akhirnya wanita yang masih merangkul kedua lututnya itu menggeleng tanpa suara, seperti tak ada gairah dengan ajakan Alan.


"Kenapa? bukankah sudah lama kamu tidak keluar?" tanya nya lagi meletakkam paper bag dan mendekati Dinda.


Tak mengeluarkan suara, Dinda meneteskan air matanya, pikirannya masih saja teringat dengan kejadian sembilan bulan yang menyakitkan dan itu sukses membuat Dinda tak bersemangat.


"Jangan ingat masa lalu, tapi lihatlah masa depan yang pasti akan lebih cerah." ucap Alan seperti tau akan bahasa kalbu Dinda.

__ADS_1


"Tapi nyatanya tidak begitu. sahutnya, Dulu aku kira hidupku akan lebih baik saat aku ke kota, tapi apa, hidupku hancur, dan sekarang aku sudah tidak berguna lagi." ungkap Dinda sembari terisak.


Sontak Alan menarik tubuh Dinda dan merangkulnya, karena ucapan Dinda kembali mengiris hatinya yang terdalam.


''Semua orang punya masalah, dan Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Kamu harus bisa buktikan pada suami kamu, kalau kamu bukan wanita lemah, tunjukkan kalau kamu bisa menjadi Dinda yang tangguh dan tak butuh dirinya.''


Ucapan Alan seakan membangunkan semangatnya yang hampir tenggelam, pria itu bagaikan super hero yang memberi energi untuk dirinya saat ini.


Namun apakah Dinda bisa terima jika tau orang di sampingnya saat ini adalah orang yang di bencinya?


''Sekarang kamu mandi, kita ke taman.'' Kembali mengingatkan akan tujuannya masuk sepagi itu.


Dinda langsung saja turun dari ranjangnya menuju kamar mandi, Sedangkan Alan keluar dari ruangan itu sembari menunggu Dinda.


Alan duduk di depan ruang rawat Dinda dan mengeluarkan ponsel miliknya.


''Gimana?'' ucap Alan saat menempelkan benda pipih itu di telinganya.


Semua sudah beres Tuan, Saya sudah siapkan hotel yang paling mewah untuk Tuan dan keluarga Non Dinda.


Anak buah Alan yang di seberang sana hanya menatap ponselnya, sekian lama menjadi pesuruh, baru kali ini Pria itu menerima ucapan kasih dari Alan, dan itu bagaikan siraman kembang tujuh rupa, bahkan pria itu sempat menepuk pipinya karena di anggap mimpi.


Alan beralih mengeluarkan poto Dinda dari saku jasya, dan menatapnya dengan lekat.


Belum juga puas, pintu ruangan terbuka, dengan gugupnya Alan mengembalikan gambar Dinda ke tempatnya dan menoleh menatap Dinda yang sudah mematung di ambang pintu. Ternyata wanita itu sudah memakai baju yang dibawanya.


''Kamu cantik sekali.'' puji Alan dari hati.


Alan memutar tubuh Dinda dan tertawa kecil. ''Kenapa rambutnya masih basah gini?'' menarik tangan Dinda dan membawanya masuk.


Alan mendudukkan Dinda di sofa ruangan itu dan membuka tas yang lainnya lagi.


''Sini, biar kau keringin!" Ucapnya menyalakan hair dryer di tangannya.


Seketika Dinda menghentikan tangan Alan yang hampir saja memegang rambutnya, Dinda memandang wajah Alan yang masih setia dengan maskernya.

__ADS_1


"Kita bukan suami istri, tak sepantasnya Dokter melakukan ini padaku, biar aku sendiri saja yang lakukan." merebut benda itu dari tangan Alan.


Siapa bilang, kita belum bercerai, itu artinya kita masih sah.


Namun tak segampang merebut boneka di tangan Salma, Alan kembali menyambar alat pengering rambut yang baru beberapa detik pindah tangan.


"Setidaknya anggap aku sebagai bang Faisal, dan semua ini akan aku lakukan sampai kamu benar benar pulih dan pulang.


''Aku sudah sembuh.'' Dinda melipat kedua tangannya, meskipun ia masih sedikit trauma dengan pernikahan berbulan bulan itu, setidaknya Dinda sudah bisa berfikir positif dan tak histeris lagi.


''Benarkah? coba buktikan!" Alan mulai melanjutkan aktivitasnya.


"Aku Dinda Larasati, bercita cita sebagai desainer, hidupku memang tak semulus hidup Salma, tapi kini aku tau," menjeda ucapannya yang lantang, dan kali ini Dinda memutar tubuhnya menghadap Alan.


"Aku harus lebih dewasa untuk menghadapi apapun yang terjadi, tidak boleh cengeng dan tidak boleh lemah." lanjutnya lagi, namun kenyataannya wanita itu masih tetap berlinang air mata setelah selesai mengatakan itu semua.


Di balik masker ada senyuman yang terukir mendengar ucapan Dinda.


"Jangan di paksa, pelan pelan, yang penting kamu tidak merasa terbebani dengan hidup kamu." memegang kedua lengan Dinda menguatkan untuk lebih tabah menghadapi masalahnya.


Tak hanya mengeringkan rambut Dinda, Alan juga menyisir rambut wanita itu hingga rapi dan cantik.


Tak lupa Dinda membawa bonekanya sebelum keluar ruangan yang menjadi sangkarnya selama hampir dua minggu.


"Kayaknya kamu sayang banget sama boneka itu?" tanya Alan menyelipkan rambut yang masih tertinggal menutupi pipi Dinda.


"Aku tau kalau aku ini gila." ucapnya seketika, Aku merindukan anakku, sedangkan suami aku, tidak memperbolehkan aku bertemu dengannya, dan boneka ini akan menjadi teman hidupku selamanya." ucap Dinda di sela sela tangisnya, raut wajahnya masih berubah ubah dan belum bisa stabil, bahkan Dinda tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya lagi yang akan mengutarakan mengenai rahimnya.


Alan hanya mendengar tanpa menjawab ucapan Dinda.


Bukan kamu yang gila, tapi aku, karena aku adalah orang yang memisahkan kamu dari anak kita sampai dia pergi untuk selama lamanya.


"Ya sudah, sekarang pokoknya Dinda harus melupakan semuanya dan buka lembaran baru, ingat, dalam hidup Dinda, kali ini tidak ada orang yang jahat, tidak ada yang ingin menyakiti Dinda, semua sayang Dinda, kamu harus bangkit, buktikan kalau kamu itu kuat untuk menerjang badai.''


Dinda Mengangguk dan spontan memeluk tubuh Alan.

__ADS_1


Dan adegan itu tak luput dari penglihatan Pak Yanto dan Bu Tatik yang ada di depan ruangan putrinya.


__ADS_2