
Tak mau berulah dan tak mau membuat Alan marah, itulah Dinda saat ini yang hanya bisa termenung menatap langit cerah, meskipun tak secerah hatinya, hanya bisa berandai andai saja, angan angan yang mungkin tidak akan tercapai lagi, namun dengan tegarnya wanita itu menjalani hidupnya yang sudah di gariskan meskipun tak se lurus yang di harapkan.
Membuat tiga baju tak membutuhkan waktu yang lama baginya, namun aksesoris yang di butuhkan belum ada, seperti yang di ucapkan Alan, setelah puas bergelut dengan lamunannya Dinda beranjak meraih tas dan mengambil uang dari sisa jual cincin untuk membeli kancing dan yang lain.
Dinda menutup pintunya dengan pelan saat menatap pintu kamar Alan yang sedikit terbuka, berjalan mengendap endap melewati depan kamar suaminya yang mungkin belum berangkat kerja.
''Bi, Aku pergi dulu ya,'' kembali merapikan rambut dan penampilannya yang sederhana namun tetap, Dinda terlihat cantik.
Dinda menghentikan langkahnya di depan pintu berfikir sejenak apa yang di lakukan sudah benar, keluar rumah tanpa izin seorang suami, itulah yang melintas saat ini, meskipun Alan tak akan peduli dengan hal itu, hatinya masih saja gusar jika harus sering keluar masuk tanpa izin suaminya.
Akhirnya Ia kembali menyusuri tangga menuju kamar Alan.
Tok... tok.. tok... Dinda langsung mengetuk pintu, tidak mungkin kan suami istri yang ada di dalam itu bergulat ranjang sepagi itu, fikirnya.
Syntia yang membuka, sedangkan di liriknya di belakang Syntia, Alan sedang memakai dasi di depan cermin.
''Maaf Mbak ganggu, aku cuma mau izin sama Kak Alan kalau aku akan keluar,'' ucapnya pelan namun Alan masih bisa mendengarnya dengan jelas.
''Ngapain izin segala,'' jawab Syntia menatap Dinda dari atas sampai bawah.
''Dia suamiku, jadi aku harus izin padanya sebelum aku keluar dari rumah,'' ucapnya lagi membenarkan tasnya.
''Pergi saja, kapan pun dan ke mana pun yang kamu mau,'' sahut Alan yang menatapnya dari pantulan cermin.
"Kamu dengar kan, jadi nggak usah Izin, silahkan!" menunjuk ke arah tangga.
Terserah kalian yang penting aku tidak melanggar kodrat seorang istri.
Setelah sampai bawah, Dinda langsung saja keluar, seperti biasa, Dinda langsung mematung di depan gerbang menunggu ojek, namun kali ini uangnya sangat menipis, meskipun bang Faisal baru mentransfer uang untuknya, Dinda tak mau memakainya takut kalau bang Faisal curiga.
Dinda kembali memastikan kalau alamat yang di tuju memang dekat.
"Benar ternyata dekat, gumamnya kembali memasukkan alamat dan nama toko yang menurutnya amat penting tersebut.
Dengan langkah kakinya yang di penuhi semangat, Dinda menyusuri jalan sembari menikmati indahnya pemandangan pagi, di mana jalan itu di ramaikan para pengendara motor maupun mobil, ada juga yang jalan kaki seperti dirinya, namun itu tak membuatnya mengeluh dan selalu menerbitkan senyum untuk sesama yang melintas.
__ADS_1
Dua puluh menit, cukup melelahkan bagi Dinda yang sekarang sudah sampai di depan toko aksesoris yang bi Romlah tunjukkan, tak mau membuang waktu, Dinda langsung masuk ke dalam mencari cari bahan yang di butuhkan, berbagai kancing dengan warna yang lengkap dengan bernacam model, Dinda segera memilih untuk menyempurnakan baju buatannya.
"Mas, Saya minta yang ini," menunjuk ke arah kancing yang ada di etalase tanpa menatap sang penjual.
"Yang ini?" tanya si penjual memungut satu kancing kristal pilihan Dinda sebagai contoh.
"Iya, lima puluh Biji saja, ujarnya membuka tasnya dan belum menatap kang penjual yang dari tadi mulai curiga dengannya.
"Wah... maaf....Dinda, ucap si penjual saat Dinda mendongak hendak menyerahakan uang untuk membayar.
"Mas Budi, ini beneran kamu?" ulang Dinda seperti tak percaya bertemu dengan tetangga sekali gus laki laki yang dulu selalu menjadi inspirasinya saat di sekolah, namun suka membual saat di rumah.
"Iya Din, ini aku, Budi, yang selalu kalau ikuti ke mana mana, jawabnya seraya tertawa.
Dinda jadi malu dengan ungkapan Budi yang mengingatkan saat di kampung.
"Mas, jangan di ingatin dong, malu di dengar orang, bisiknya, karena orang di sekelilingnya itu menoleh menatapnya.
"Apa kabar kamu? kapan kamu kesini? tinggal di mana? dan bagaimana dengan bang Faisal, sehat kan? kamu kuliah di mana? berondongan pertanyaan itu menghantam Dinda yang tak bisa jawab semuanya.
"Mbak, tolong jagain toko sebentar!" teriaknya pada pegawainya.
"Ya sudah kita duduk dulu, sambil ngobrol, sudah lama juga nggak godain kamu, menarik tangan Dinda membawanya ke cafe sebelah.
"Tapi mas, aku,_ucapan Dinda menggantung saat Budi mendaratkan jarinya di bibirnya mengisyaratakan Dinda untuk diam.
Nggak apa apa deh, lagian kan Kak Alan sudah membebaskan ku untuk keluar, dan Mas Budi kan teman sekaligus tetanggaku.
"Mau pesan apa?" tanya Budi.
"Latte saja deh mas," jawabnya.
Setelah memesan minuman, Budi kembali fokus menatap wajah Dinda yang menurutnya makin cantik saja.
Dinda yang merasa di pandang itu sedikit canggung, ini bukan Budi yang waktu itu di ikuti ke mana mana, ini Budi pria tampan yang sudah sukses, dan Dinda belum dengar kalau Budi sudah menikah, jadi Ia agak canggung dan terus menunduk.
__ADS_1
"Oh.. iya Din, aku tadi nanya belum kamu jawab," ucapnya mencairkan suasana yang sedikit hening.
"Pertanyaan Mas Budi terlalu banyak bikin Dinda pusing." bohongnya padahal Dinda enggan untuk menceritakan keadaannya saat ini.
"Ya sudah satu satu, sekarang kamu tinggal di mana?" pertanyaan pertama terlontar.
"Tak jauh dari sini sih mas, tapi aku lupa jalan apa, soalnya aku baru datang beberapa hari yang lalu, lagi lagi Dinda berbohong untuk menutupi jati dirinya.
Budi yang percaya dengan bocah yang sangat lugu itu hanya mengangguk anggukan kepalanya.
"Dengan bang Faisal?" tanya nya menerima pesanan yang datang.
Dinda mengangguk meskipun ragu, tidak mungkin kalau ia mengatakan tinggal bersama suaminya, karena Dinda belum siap untuk membongkar status, yang mungkin sebentar lagi pernikahannya akan kandas.
"Katanya bang Faisal jadi sekretaris, hebat dong?"
Dinda tersenyum lalu menyeruput Latte panasnya.
"Hebatlah, tapi Mas Budi juga tak kalah hebat kok, punya toko sebesar itu di kota," menunjuk toko yang di kunjunginya tadi.
"Kok kamu tau kalau itu toko milikku?"
"Nama tokonya sudah Budi jaya, ya pastilah itu punya Mas." jelasnya lagi saat membaca spanduk dengan tulisan yang begitu besar.
O... Budi hanya ber O ria.
Akhirnya keduanya bercanda mengingat saat di kampung, Budi selalu menggoda Dinda saat Ia mengikutinya ke manapun, termasuk ketoilet umum hanya untuk mendengar cerita hantu dari Budi, dan itu sukses membuat Dinda beregelak tawa.
"Apa kamu masih mau mendengar cerita hantu dariku?" tanya Budi menggodanya, pria itu tak berubah dan tetap gokil.
"Kalau sekarang mah aku sudah nggak penasaran sama hantu itu, karena waktu itu mas Budi membohongiku kan?"
Budi kembali tertawa, ternyata Dinda masih ingat dengan Budi yang selalu membohonginya dan menakutinya.
Sekarang kamu makin cantik saja, apa kamu sudah punya kekasih Din, batin Budi bertanya.
__ADS_1
"Ternyata ini kelakuan kamu saat di luar rumah, ternyata kamu adalah ular yang berbulu domba, awas saja apa yang akan aku lakukan supaya kamu jera, ucap seorang pria dari dalam mobil yang saat ini nampak memendam amarah.