
Tidur di lantai dengan alas karpet yang tipis membuat punggung Alan terasa sakit, apa lagi semalaman penuh kepala Dinda menopang di atas lengannya itu membuat tangan Alan keram, namun semua itu tak jadi masalah di bandingkan dengan rasa nyaman saat dirinya terlelap bersama wanitanya.
Suasana yang baru di rumah yang baru pula membuat Alan harus beradaptasi lagi dengan penghuni rumah, pria itu segera ke kamar mandi setelah mendapati Dinda tak ada di sampingnya, di raihnya handuk yang terlipat rapi dengan baju ganti di atasnya. Dengan matanya masih sedikit berat Alan keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, namun kali ini langkahnya berhenti saat melihat istrinya yang sibuk di meja makan sendirian. Dengan senyum jahil Alan menghampiri Dinda dan memeluknya dari belakang.
''Kak.'' menepuk lengan kekar suaminya.
''Salah siapa nggak bangunin aku,'' menopangkan dagunya di pundak Dinda.
''Kamu tidurnya kayak kebonya pak Usman.'' ucapnya asal, mengingat kerbau si tetangga yang selalu ngorok saat tidur.
Tak terima dengan ucapan istrinya, Alan makin mengeratkan pelukannya.
''Kok sepi, yang lain kemana?'' celingak celinguk.
''Bapak nganterin ibu belanja, Bang Faisal nganterin Salma beli perlengkapan jahit, kakak cepetan mandi dong, setelah itu sarapan,'' pintanya mendorong tubuh Alan menuju kamar mandi yang ada di belakang.
''Cium dulu,'' masih kekeh tak mau masuk dan terus menarik tubuh Dinda.
Cup, sebuah kecupan mendarat, hingga membuat Alan langsung masuk.
Dinda kembali menyiapkan makananya untuk Alan sebelum membantu pekerjaan sang Ibu di tempat jahit.
''Kak,'' teriak Dinda saat di depan pintu kamar mandi.
Tak ada sahutan namun pintu terbuka sedikit, dengan rambut yang masih dipenuhi busa Alan menyembulkan kepalanya.
''Apa, mau ikut mandi?'' godanya.
Dinda menggeleng, ''Makanannya sudah siap, aku mau ke tempat jahitan Ibu, nanti kakak makan, setelah itu bantu aku!"
Alan mengangguk dan kembali menutup pintunya setelah punggung Dinda menghilang.
Berantakan, banyak jahitan yang belum sempurna, apa lagi semenjak dirinya ke kota, Bu Tatik selalu kuwalahan menerima pesanan baju, untung beberapa bulan terakhir ini Salma tinggal di rumahnya dan itu meringankan kerjakan Bu Tatik.
"Kasihan Ibu, sudah tua masih juga di disibukkan dengan pekerjaan." gumamnya merapikan kain yang sudah tak terpakai lagi. Setelah semua rapi, Dinda beralih mengambil tumpukan baju yang hanya tinggal memasang kancingnya saja, pekerjaan yang sangat mudah dan cepat selesai baginya.
Dengan telaten Dinda memasang kancing pada tempatnya, tak lupa menyelaraskan dengan warna kain dan yang pas untuk model bajunya. Seperti dulu Dinda tak perlu menanyakan pada sang Ibu karena ia cukup tau dengan apa yang harus di pilihnya.
"Apa yang bisa ku bantu?" Seorang pria dengan pakaian yang sudah tapi menghampiri dan duduk di sampingnya.
Dinda mengangguk dan menyodorkan jarum, benang serta sekotak kancing di depannya, tak lupa baju yang harus di benahinya.
__ADS_1
''Bantu aku pasang yang ini,'' mempraktikkan cara memasang kancing yang benar.
"Gampang.'' jawab Alan santai, tak lupa minta upah sebuah ciuman sebelum menjalankan perintah tuan putri.
Tadi bilangnya gampang, tapi masukin benang saja nggak bisa. ejek Dinda dalam hati.
Dinda hanya bisa tersenyum kecil dan menatap wajah sang suami yang terlihat kebingungan.
"Sini aku ajari!" meraih tangan Alan dan membantunya untuk memasang benang.
"Ini ngadep sini," meletakkan kancing kristal di tempatnya lalu mulai menjahitnya.
"Di ulang ulang yang rapi dan kuat, biar nggak cepat lepas, jangan sampai timbul ke belakang kak, nanti jelek," titahnya lagi saat Alan salah menusukkan jarum jahitnya.
Cerewetnya, ampun deh, kayak emak emak saja, batin Alan.
"Begini," menunjukkan hasil karyanya, meskipun belum sempurna tapi Alan sudah bisa seperti yang di perintahkan Dinda.
"Lumayan," sedikit memuji meskipun tak serapi miliknya, tapi bagus lah untuk Alan yang permulaan.
"Semangat dong, jangan cemberut gitu," goda Dinda saat Alan terlihat begitu fokus dengan benda di tangannya dan tak sedikit pun menoleh ke arahnya.
"Nggak ikhlas bantuinnya?" cetus Dinda.
"Ikhlas dong, tapi kamu juga harus ikhlas kalau melayani suami." timpal Alan tak mau kalah.
Dinda memilih diam dari pada omongan Alan menjalar kemana mana, malu jika di dengar orang.
"Permisi," tiba tiba saja suara di depan pintu membuyarkan candaan mereka berdua, dengan sigap Dinda beranjak untuk menemui sang tamu karena Ibunya belum pulang.
"Mas Sulton." Seru Dinda, pada sang tamu.
"Dinda, kamu ada di rumah, apa kabar?" mengulurkan tangannya kearah Dinda.
"Iya, aku baik mas, silakan masuk!" mempersilahkan Sulton salah satu pelanggannya dari dulu.
Sulton duduk di ruang tamu, sedangkan Dinda membuatkan kopi di belakang.
Alan yang dari tadi memasang kancing kini beralih menatap sang tamu yang terlihat senyum senyum sendiri kayak orang kesambet.
Siapa sih dia, kelihatannya akrab banget sama Dinda, apa dia mantan pacar Dinda di kampung, ini nggak bisa di biarin, sebelum Dinda jatuh cinta lagi sama cowok itu.
__ADS_1
Baru juga ingin beranjak, Dinda datang membawa secangkir kopi hitam untuk disuguhkan sang tamu. "Silahkan di minum dulu, mas!" titahnya dengan ramah.
Pria yang bernama Sulton itu mengangguk serta diiringi dengan senyuman.
"Oh... iya, lupa nanya, mas Sulton kesini mau apa, cari ibu?" tanya Dinda.
Pria itu mengangguk lagi membuat Alan makin gedeg saat menatap wajahnya yang sok kemanisan di depan istrinya.
"Mau jahit ini." menyodorkan sekantong keresek kain yang akan menjadi bahan bajunya.
"Tapi kayaknya Ibu masih lama deh mas," menilik jam, karena ibunya baru satu jam keluar, dan biasanya memakan waktu dua jam lebih saat ke pasar karena belanja sang Ibu langsung banyak.
"Ya sudah, biasanya kan kamu yang ukur, soalnya aku juga mau kerja."
"Oke deh, kalau gitu."
Dinda beranjak menghampiri Alan yang ada diruang jahit untuk mengambil buku, pensil dan meteran. Kali ini Alan langsung menarik tubuh Dinda hingga jatuh ke dalam pangkuannya, dan itu masih bisa di saksikan Sulton yang ada di ruang tamu.
"Kak, nggak enak ada tamu," bisik Dinda melirik ke arah Sulton yang memperhatikannya dari jauh.
Bukan melepaskan, Alan malah mencium pipi Dinda, menegaskan kalau wanita itu adalah miliknya.
"Jangan centil centil di depan laki laki lain, aku nggak suka," cecarnya.
Perasaan aku biasa saja, kenapa dia bilang gitu, masa iya cuma bicara saja kak Alan cemburu.
"Iya, aku nggak centil, sekarang lepaskan, kasihan tamunya."
Dengan pelan Alan melepaskan tangannya, namun tetap pria itu mengintil di belakang Dinda yang kembali menemui Sulton.
"Sini, mas!" meminta Sulton untuk berdiri di depannya, sedangkan Alan pun tak mau menjauh dari Dinda.
''Eiitts... tunggu dulu, apa apaan ini?" menarik pergelangan tangan Dinda saat istrinya menyentuh bahu Sulton dari belakang.
"Sini, biar aku yang ukur, enak saja, masnya tau nggak, sekarang dia ini istriku.'' menyungutkan kepalanya ke arah Dinda dan mengambil alih alat meteran, sedangkan Dinda yang beralih memegang buku dan pensil untuk mencatat ukuran tubuh Sulton.
Awas saja kalau sampai salah aku akan suruh dia tanggung jawab.
"Ternyata kamu sudah menikah, Din?" tanya Sulton dengan raut wajah yang kecewa.
Dinda mengangguk dan tersenyum, tak mau lagi kalau orang lain salah paham dengan kemesraannya bersama Alan.
__ADS_1