
Di depan ruang rawat salah satu rumah sakit, Alan hanya bisa mondar mandir menunggu kabar dari dokter yang kini masih sibuk memeriksa Dinda, entah bagaimana nasibnya, Alan berharap ada kebaikan untuk Dinda dan bayinya, rasa apa yang kini menyelimutinya, yang pastinya Alan merasa bersalah dengan keadaan istri mudanya.
Apa ini semua karena aku? apa bayiku dalam bahaya? apa Dinda sanggup mempertahankan bayinya.
Semua semrawut jadi satu, sepanjang perjalanan hidupnya baru kali Alan merasa di hadapkan dengan masalah seperti ini.
''Gi mana keadaan Dinda, Al?'' Faisal datang mendahului Bu Yanti dan pak Heru, karena setelah mendapat telepon dari Bu Yanti, Faisal langsung menancapkan gas mobilnya yang memang jarak kantor dengan rumah sakit terlalu dekat.
Alan menggeleng tanpa suara, karena Ia pun menunggu dokter keluar, Kali ini Ia menatap wajah Faisal yang terlihat khawatir sembari mengendurkan dasinya yang hampir seharian mencekik lehernya.
Baru juga keduanya duduk, Bu Yanti datang dengan wajah yang tak kalah khawatir, bahkan di perjalanan Bu Yanti selalu saja menangis takut terjadi sesuatu dengan Dinda.
''Gi mana keadaan Dinda, Al, kenapa dia bisa pendarahan?'' tanya Bu Yanti menggoyang goyangkan lengan Alan.
Pria itu menunduk dan memejamkan matanya.
Apa aku harus katakan pada mama apa yang terjadi, dan bagaimana jika mama marah sama aku, apa ini adalah akhir dari semuanya.
Baru juga mendongak menatap wajah mamanya, pintu ruangan terbuka, semua menoleh dan menghampiri dokter Daka.
''Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?'' Bu Yanti begitu antusias.
Dokter Daka tersenyum kecil sepertinya memang tidak serius.
''Pasien dan bayinya masih bisa selamat,'' semua bernafas lega dengan penuturan dokter Daka, bahkan Alan langsung mundur dan menghempaskan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya.
Untung saja tidak terjadi sesuatu sama bayiku, jadi aku tidak perlu khawatir lagi.
''Alan,'' panggil dokter Daka lagi.
''Saya Dok, Alan terkejut menunjuk ke arah dadanya lalu menghampiri Dokter kandungan tersebut.
''Saya harap kamu masih bisa menahan hasrat kamu untuk tidak menyentuh pasien satu bulan lagi, kasihan kandungan istri kamu masih sedikit lemah, hanya jaga jaga saja, takutnya terjadi hal yang fatal pada bayi kalian.'' ucap Dokter Daka membuat Alan malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Faisal mengernyit, bisa bisanya tidak masuk ke kantor dan dirumah enak enakan main gituan, fikir Faisal.
__ADS_1
Sedangkan Pak Heru dan Bu Yanti geleng geleng, namun ada perasaan lega di dada bu Yanti mendengar ucapan dokter.
Itu artinya mereka akur, semoga saja Alan memang sudah mulai mencintai Dinda.
''Dan satu lagi, Dinda juga kurang gizi, makanya tubuhnya itu sangat lemah, mohon di perhatikan.'' pinta sang dokter sebelum meninggalkan semuanya.
Faisal yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan adiknya itu pun langsung membuka pintu ruangan, di lihatanya Dinda yang lagi lagi terkapar di atas ranjang rumah sakit.
Apakah harus seberat itu untuk melahirkan keturunan Sudrajat, Dinda maafkan Abang, karena keegoisan abang, kamu harus rela mengandung di umur kamu yang masih sangat muda.
Sorot matanya menyipit dengan wajah yang sayu, Dinda menatap sekeluarga yang kini menghampirinya.
''Kamu nggak apa apa kan dek?'' tanya Faisal menyingkap rambut Dinda yang menutupi keningnya.
Dinda menggeleng, meskipun Ia kini ingin dekapan seorang suami, namun itu di tahannya, takut bisikan Alan seperti waktu lalu terulang kembali, dan Dinda sudah tidak sanggup lagi mendengar semua ocehan Alan yang menyakitkan.
''Abang nggak mau peluk aku?'' ucap Dinda lemah.
Alan melirik, Ia merasa tersaingi dengan hadirnya Faisal, namun Alan pun tak bisa berbuat apa apa, karena di matanya pun masih sama, Dinda hanya orang asing yang hanya di butuhkan untuk memberi keturunan untuk dirinya, bukan orang yang di cintainya.
''Bagaimana dengan bayiku bang, apa kata dokter?'' tanya Dinda yang belum tau keadaan janin dalam perutnya.
''Bayi kamu sehat, tapi kamu harus banyak makan, abang nggak mau terjadi sesuatu sama kamu dan bayimu, apa kamu ingin bertemu dengan Ibu dan bapak?'' tanya Faisal, mungkin saja dia kangen sama orang tuanya.
Dinda melirik ke arah Alan yang menunduk dengan menautkan kedua tangannya.
Apa kak Alan tidak menghawatirkanku seperti yang lain, kenapa dia masih cuwek sama aku.
Dinda menggeleng dan tersenyum memasang wajah tegar.
''Ma, aku ingin tinggal di rumah mama untuk berapa hari,'' ucap Dinda masih dengan nada lemah.
Bu Yanti mengangguk dan menitihkan air mata.
''Tidak cuma beberapa hari sayang, terserah Dinda, kapan pun pintu rumah mama terbuka lebar untuk kamu, ucap Bu Yanti memeluk Dinda dan mencium keningnya.
__ADS_1
''Alan, apa kamu tidak ingin tau kabar Dinda?'' seru pak Heru.
Alan beranjak dari duduknya mendekati yang lain.
''Aku minta maaf, gara gara aku, kamu jadi kayak gini,'' ucap Alan menggenggam tangan Dinda.
Dinda kembali menggeleng, ''Nggak apa apa kak, aku nya saja yang manja, harusnya aku lebih kuat dan tidak menyusahkan kalian, tapi apa, kehadiranku ini membawa petaka untuk kamu.'' ucapnya terbata, dengan air mata yang mengalir membasahi pelipisnya.
Bu Yanti mendaratkan jarinya di bibir Dinda, menegaskan Dinda untuk tidak bicara seperti itu lagi.
Sedangkan ucapan itu bagaikan tusukan jarum buat Alan, karena apa yang di ucapkan Dinda itu adalah kalimat yang pernah di ucapkan Alan padanya dulu.
Dengan sigap Alan melepaskan genggamannya dan kembali menggeser tubuhnya.
Dengan cekat Dinda kembali meraih tangan Alan.
''Kakak mengizinkan aku untuk tinggal di rumah mama kan?'' tanya Dinda, meskipun berulang kali Alan tak peduli, namun Dinda tak bisa jika harus tak izin pada suaminya.
Alan mengangguk.
Jika tinggal di rumah mama membuatnya tenang, aku akan izinkan, tapi maaf aku tetap tidak bisa menemanimu di sana.
Hari sudah sore namun Dinda merasa gusar dan tak bisa memejamkan matanya, akhirnya Ia kembali memanggil Faisal.
''Kamu butuh sesuatu?'' tanya Faisal antusias, barang kali Adiknya menginginkan makanan atau mungkin yang lain.
''Aku ingin pulang, nggak enak bang disini, dan tolong abang jangan bilang ke Ibu dan bapak kalau aku sakit ya!" pintanya memohon.
Faisal langsung mengangguk tanpa berfikir karena Ia pun khawatir jika orang tuanya mendengar keadaan Dinda pasti mereka akan panik dan sedih.
Setelah mengurus administrasi, Dinda pun keluar dari rumah sakit, namun Bu Yanti tak tinggal diam begitu saja dan terus meminta Dokter Daka untuk memeriksanya di rumah.
Sedangkan Alan terpaksa harus ikut menginap di rumah Bu Yanti atas permintaan kedua orang tuanya.
Syn, maaf malam ini aku tidak pulang, Dinda sakit, dia nginep di rumah mama, dan aku harus temani dia, kalau kamu mau susul datang saja.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan untuk Syntia, Alan langsung masuk dan duduk di samping Dinda.