Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Kepergok


__ADS_3

Hari yang sangat menyenangkan, Dinda tak menyangka kalau Ia bisa keluar dari penjara suaminya dengan calon kakak iparnya yang begitu ramah, tak hanya senang senang menghabiskan uang, Amel juga berbagi pengalaman dan memberi sebuah ide ide untuk Dinda supaya meraih kesuksesan tanpa harus modal banyak, namun jika itu di butuhkan, Amel pun siap untuk membantunya, meskipun menjadi putri dari pengusaha kaya, Amel tidak tergantung dengan harta kedua orang tuanya, Ia pun terjun sendiri dengan bisnis fashion yang di gelutinya, seperti Bu Yanti, Amel pun mempunyai butik sendiri, hanya saja mereka sedikit beda jalur, jika Bu Yanti mementingkan baju ala Ibu dan nyonya, sedangkan Amel mengeluarkan setiap trend terbaru dan sebisa mungkin tak ketinggalan Zaman.


''Berarti mbak Amel saingannya mama Dong?'' tanya Dinda dengan polosnya.


''Tidak begitu juga, siapapun boleh menjalani bisnis ini Din,'' ucap Amel kembali mengaduk aduk Jus di depannya, karena mereka istirahat sejenak untuk makan siang sebelum melanjutkan jalan jalannya.


''Kalau Tante Yanti itu bisa di bilang profesional, laki laki, anak kecil, semua baju dia ada, tapi kalau Aku lebih mementingkan pengeluaran terbaru, dan khusus untuk wanita, jadi ya, beda kan, dan logo kami pun berbeda, tergantung peminat juga sih Din, suka yang mana, kan banyak pilihan juga.''


Dinda yang mendengar hanya mengangguk anggukan kepalanya.


''Kalau untuk harga, gimana Mbak?'' tanya Dinda lagi.


''Ya harus bersaing, tapi biasanya kalau wanita sosialita nggak pernah menghiraukan harga, yang penting mereka nyaman dengan pilihannya dan kita pun harus memberikan yang terbaik, kamu tahulah mereka yang berstatus istri orang orang kaya, yang penting terlihat mewah dan nggak kuno, itu saja sih.''


''Terus bagaimana cara Mbak Amel mendapat pelanggan yang tetap dan banyak?''


''Itu gampang, kita harus sering komunikasi dengan klien dan pelanggan, sering share dengan produk kita di sosmed, dan yang pastinya jangan mengecewakan, karena sekali saja mereka merasa kurang puas, mereka akan mencari pelanggan lain.''


''Susah juga ya mbak mau jadi sukses,'' ucap Dinda melemah karena pengalamannya pun tak seluas Amel yang memang sudah paham tentang Dunia fashion.


''Nggak susah kok, yang penting kamu tetap semangat dan aku akan selalu ada di belakang kamu, hemmm....


''Terima kasih ya mbak, aku seneng banget, akhirnya bang Faisal mendapatkan wanita yang begitu baik dan sukses seperti mbak,'' puji Dinda yang membuatnya tersipu malu, karena menurut Amel dia yang beruntung bisa memecahkan batu yang berwujud manusia tersebut, meskipun Amel cantik dan kaya, Faisal tak langsung jatuh cinta dengan gadis itu, masih melalui banyak proses untuk mengambil hati laki laki yang juga sukses di dunianya tersebut.


''Ngomong ngomong habis ini ke mana?'' tanya Amel karena mereka sudah puas memutari mall dan butik, bahkan Amel sudah membelanjakan beberapa baju hamil untuk Dinda meskipun nggak mau, itung itung sebagai kado pernikahan. katanya.


''Habis ini aku mau ke toko manik manik punya mas Budi.'' jelasnya membuat Amel mengernyit dan melepas sendoknya.


''Mas Budi, siapa dia, kamu kenal?''


Dinda mengangguk.

__ADS_1


''Mas Budi tetangga aku di kampung, tapi sekarang dia sudah sukses, punya toko manik manik yang lengkap, dan harganya juga terjangkau, aku ingin menjadi pelanggannya.''


''Ya sudah yuk, kita jalan,'' menilik jam ternyata sudah jam dua siang, itu artinya sekitar enam jam mereka keluar rumah.


Setelah membayar makanannya, Amel mengirim pesan untuk Faisal kalau saat ini dirinya otw untuk pulang, dan itu pun langsung dibalas singkat oleh tunangannya.


Hati hati di jalan, jangan ngebut, salam buat Dinda, I Love you.


Hanya itu saja mampu menyejukkan hati Amel, bahkan gadis itu tak pernah menghapus Chat dari Faisal yang menurutnya sangat indah untuk di baca.


Lihat calon kakak iparnya senyum senyum di depan layar ponsel membuat Dinda penasaran.


''Chat dari siapa sih mbak, kok serius gitu bacanya?'' tanya nya.


Tak menjawab, Amel menyodorkan ponselnya ke arah Dinda.


Dengan sigap Dinda membaca pesan yang di kirim abangnya untuk kekasihnya tersebut.


Baru saja keduanya menginggalkan meja tempatnya makan, Dinda terkejut saat mendapati wanita yang di kenal dengan seorang laki laki sedang duduk sembari bercanda, sesekali Syntia menepuk lengan laki laki yang terlihat tampan tersebut.


Itu kan mbak Syntia, terus laki laki itu siapanya, apa dia saudaranya, atau jangan jangan.....Oh.... tidak kamu nggak boleh berprasangka buruk Dinda itu nggak baik, biarkan saja itu bukan urusanmu.


''Din, suara Amel membuyarkan batinnya yang sempat berkelana mencari tau seseorang yang saat ini bersama istri pertama suaminya.


''Kamu kenapa sih?'' tanya Amel heran saat tiba tiba Dinda menghentikan langkahnya.


''Nggak, aku cuma ngantuk saja mbak, kita pulang ya, mampir ke tempat mas Budi,'' mengingatkan Amel untuk tidak lupa.


Mbak Amel nggak boleh curiga sama aku sebelum real, tapi bagaimana caranya untuk memberi tau kak Alan, aku nggak mau dianggap adu domba mereka, Ya Tuhan, semoga Kak Alan tidak mendapat penghianatan dari wanita yang di cintainya.


Tak seperti saat berangkat Dinda yang selalu saja melontarkan pertanyaan, kini dalam perjalanan pulang, Dinda hanya diam saja sembari menatap ke arah luar, sepertinya ada yang menjanggal dalam hatinya, itulah yang di sangka Amel, namun gadis itu masih diam tak mau mengganggu calon adik iparnya yang seperti orang semedi.

__ADS_1


Kenapa perasaanku nggak enak ya, jika laki laki tadi saudaranya mbak Syntia nggak apa apa ini, tapi bagaimana jika itu.... Ah... nggak mungkin, Mbak Syntia kan mencintai kak Alan nggak mungkin dia selingkuh di belakang laki laki yang di cintainya.


''Jalan apa Din?'' tanya Amel tiba tiba membuat Dinda gelagapan.


''Depan belok kanan mbak, ada tulisannya Budi jaya,'' jelasnya, takut kalau Amel bingung.


''Yang ini?'' Amel memarkirkan mobilnya tepat di halaman toko yang lumayan luas.


''Iya, Mbak tunggu di sini apa mau ikut?'' tanya nya melepas seat belt.


''Ik... ucapan Amel berhenti saat ponselnya kembali berdering, lagi lagi nama calon suaminya berkelip dan itu artinya ia harus mengurungkan niatnya untuk ikut Dinda turun.


''Silahkan bermesraan, aku turun dulu ya, salam buat abang.'' Dinda meninggalkan Amel yang akan pacaran lewat telepon.


Di saat Amel sibuk dengan ponselnya, Dinda di sibukkan dengan berbagai macam manik yang akan di pilihnya.


''Dinda, suara familiar itu membuat Dinda menoleh seketika dan tersenyum.


''Mas Budi, ngagetin saja deh.''


Namun kali ini ada yang beda dengan pandangan Budi yang tak seperti waktu itu.


''Din, ucapnya lagi.


Terpaksa Dinda menatap wajah Budi yang sepertinya penuh dengan pertanyaan.


''Apa sih mas?'' tanya Dinda saat Budi menatapnya dari atas sampai bawah.


''Kamu hamil?'


Deg.... jantung Dinda berpacu dengan cepat, tak bisa menjawab, dari pada panjang urusannya, akhirnya Dinda memilih untuk meninggalkan toko Budi dengan tangan kosong.

__ADS_1


__ADS_2