
Setelah di periksa beberapa menit oleh dokter setempat, Alan terlihat lemas, perutnya belum bisa menerima makanan sedikitpun dan memilih untuk berbaring dengan mata terpejam, jika kemarin keluarga Dinda di sibukkan dengan kesehatan pak Yanto, saat ini mereka di khawatirkan dengan kondisi Alan. Padahal dokter menyatakan kalau Alan tak mengidap penyakit apapun, hanya perlu istirahat yang cukup dan makanan yang bergizi. Katanya.
''Kakak makan bubur dulu ya,''
Masih saja Alan menggeleng.
Meski sedikit tak percaya, Alan tetap diam, karena selama ini Ia memang tidak punya keluhan, tapi saat ini Alan benar benar tidak sanggup menghadapi perutnya.
Alan kembali mual saat mencium bau parfum yang di pakai Faisal, meskipun enggan, Alan terpaksa harus membuka mata.
''Kakak nggak usah ke kamar mandi, di sini saja,'' Dinda menyiapkan ember di samping ranjang, kasihan Alan jika harus bolak balik ke belakang.
Lagi lagi pria itu memuntahkan cairan bening.
''Bang Faisal tolong keluar sebentar.'' Nada mengusir, padahal dulu Ia biasa saja mencium bau parfum itu, tapi kenapa sekarang jadi berubah.
Sebelum benar benar pergi, Faisal makin mendekati Alan dan menjewer bajunya ke arah hidung Alan.
Seketika Alan kembali muntah, bahkan merasa hampir pingsan.
''Abang...'' teriak Dinda, gedeg dengan abangnya yang masih saja bercanda di saat genting.
Faisal tertawa keras lalu keluar.
''Maafkan mas Faisal ya, Al, kamu kan lebih mengenal sikapnya.'' Amel menimpali lalu ikut keluar memberi kesempatan Alan untuk istirahat.
''Biar Ibu pijitin ya nak, kamu tengkurep sebentar.''
''Nggak usah, Bu.'' Jawab Alan, nggak enak hati, ia tidak mau merepotkan ibu mertuanya.
Namun dengan paksaan Dinda pak Yanto dan Bu Tatik akhirnya Alan menerima tawaran tersebut.
''Lain kali kalau kerja ingat waktu, jangan terlalu serius. Istirahat juga perlu, kesehatan kamu lebih penting dari apapun,'' ucap Bu Tatik mengingatkan, karena selama ini Alan memang tak mempedulikan kesehatannya.
''Iya, Bu,'' jawabnya.
Tiga puluh menit Alan merasa lebih nyaman, perutnya pun tak merasakan mual seperti tadi, kali ini pria itu mencoba bangun dengan bantuan Dinda setelah Bu Tatik dan pak Yanto keluar.
''Mau kemana?'' Tanya Dinda saat suaminya memakai sandalnya.
''Ke kamar mandi,'' jawabnya singkat.
__ADS_1
Dinda menarik ember yang di taruh di kolong ranjang.
'' Kalau mau muntah di sini saja kak, biar nanti aku yang bersihkan.''
Dengan tubuh yang masih lemas Alan beranjak.
''Aku mau buang air kecil, masa disini juga.'' bisa bisanya masih mencubit pipi istrinya.
O.... Akhirnya Dinda menemani Alan untuk keluar kamar menuju kamar mandi.
Baru saja membuka pintu, Alan kembali menjepit hidungnya saat Faisal sengaja lewat di depannya.
Alan sedikit merinding takut kejadian beberapa menit yang lalu terulang lagi.
''Kenapa?''
Alan menyungutkan kepalanya ke arah Faisal yang membuka lemari pendingin.
Pria itu terlihat cengar cengir, sengaja tak mau pindah dari tempatnya.
''Abang, bisa nggak sih nggak ganggu kak Alan dulu.'' Pinta Dinda ketus. Kali ini merasa kalau kesehatan Alan sangatlah penting dari pada guyonan sang abang.
''Iya iya...membawa segelas air dingin dan kembali ke ruang keluarga yang lain.
Dinda kembali khawatir saat Alan belum ada tanda tanda keluar. Tak ada suara gemericik air yang terdengar, terpaksa Dinda harus mengetuk pintunya.
''Kak,'' teriaknya sembari mengetuk pintu.
Tak ada jawaban dari dalam membuat kecemasan Dinda naik level.
''Kakak tidak apa apa kan?'' tanya Dinda lagi meninggikan suaranya.
Masih tak ada jawaban, ''Kakak jawab aku dong!"
Ceklek, pintu di buka dari dalam, Dinda bernafas dengan lega saat melihat Alan baik baik saja.
"Aku tidak apa apa. Tidak usah khawatir," memeluk Bunda dengan erat.
"Besok kita pulang ya, kakak harus periksa ke rumah sakit."
Alan mengangguk tanpa suara, karena ia pun sudah tak betah dengan kondisinya saat ini.
__ADS_1
Kabar sakitnya Alan sudah sampai di telinga Bu Yanti, karena Dinda tak mau di salahkan jika terjadi sesuatu dengan suaminya, meskipun mereka juga khawatir, namun Bu Yanti yakin dan percaya kalau Alan baik baik saja berada di tengah tengah keluarga yang menyayanginya, apa lagi support dari kedua mertuanya itu terus datang.
Berbeda dengan Daka yang saat ini tertawa keras setelah mendapat kabar dari Faisal, bahkan pria itu sempat sakit perut mendengar Alan sakit.
"Aku kira tulang besi, ototnya kawat, ternyata masih normal, bisa sakit juga dia, untung nggak sakit hati lagi." keduanya kembali tertawa.
"Kamu tau nggak, dia itu kayak orang hamil, masa sehari bolak balik ke kamar mandi sampai dua puluh lima kali," ujar Faisal dengan lantang, yang bisa di dengar semuanya termasuk Alan dan Dinda yang baru saja lewat.
Dasar sahabat laknat. Aku menderita begini mereka malah bahagia.
Dinda mengelus bahu suaminya. "Jangan di ladenin, yang penting kakak sehat dulu, nanti kalau sudah sembuh balas mereka."
Ternyata Dinda juga bisa mengompori suaminya.
Alan merangkul pundak istrinya, dan benar, tak perlu menanggapi sahabatnya, yang penting saat ini ia berbaring dan memejamkan matanya untuk menghindari perutnya yang bagaikan mesin penggiling.
"Kamu temani aku." menepuk kasur di sampingnya yang masih kosong.
Cup, sebuah kecupan mendarat di kening Alan sebelum Dinda naik ke atas ranjang. ''Semoga malam ini mualnya hilang.''
''Amiiin.''
Ceklek.....pintu terbuka, Alan dan Dinda menoleh ke arahnya, ternyata kedua makhluk kecil yang datang.
"Papa, mama," ikut naik ke atas ranjang, Fana dan Tama berada di sisi kiri dan kanan Alan.
"Cepat sembuh ya pa, Fana nggak mau papa sakit," ucapnya polos, bahkan gadis itu terus mengelus rahang kokoh papanya.
"Iya sayang, papa akan cepat sembuh demi kalian."
"Papa nggak boleh sakit, kasihan mama," kali ini giliran Tama yang bicara.
"Papa nggak akan sakit, papa akan terus melindungi kalian dan juga mama sampai kapanpun."
Alan terenyuh mendengarkan ucapan kedua putra putrinya. Ternyata makhluk yang tak di inginkan dulu sangat berarti kehadirannya.
Aku tau, kalau aku sudah banyak salah sama Dinda, aku pernah melukai hatinya, sampai sampai aku tak peduli dengan nasibnya. Tapi dia memberikanku malaikat kecil yang sangat berharga, ternyata mereka sangat penting di banding apapun, mereka selalu menjadi penyemangat hidupku, tanpa mereka hidupku tidak akan se bahagia ini.
Setelah menyeka air matanya, Alan menggenggam tangan Dinda, tak bisa berpelukan, karena ada penghalang yang kini sudah memejamkan matanya.
"Kamu tidur ya, aku sudah tidak apa apa kok."
__ADS_1
Dinda mengangguk lalu memejamkan mata.