
Dengan wajah lelahnya Dinda memasuki rumah mewahnya.
Sepi.
Dinda menyusuri setiap sudut ruangan, tak mendapati anak anak di sana, padahal Amel bilang kalau Elfas juga nginep.
Mungkin saja mereka sudah tidur.
Terka-nya, karena jam memang sudah menunjukkan pukul delapan malam, Dinda langsung saja menuju kamar anak anak, dengan perlahan ia membuka pintu kamarnya, benar, ternyata ketiga bocah cilik itu sudah terlelap dalam satu ranjang.
Tak mau mengganggu, setelah mencium kening mereka Dinda keluar menuju kamarnya.
Kali ini Dinda lebih terkejut saat tak melihat suaminya di kamarnya.
Kak Alan kemana, apa dia juga lembur, tapi kenapa dia tadi tidak bilang.
Dengan tangan masih memegang handle pintu Dinda celingukan, pandangannya langsung berhenti di pintu ruang kerja Alan yang sedikit terbuka.
Dinda mendekati ruangan itu dan membuka pintunya. Seketika matanya terbelalak saat melihat suaminya tertidur di kursi kerjanya.
Masih di ambang pintu Dinda menatap nanar ke arah wajah sendu tersebut.
Kasihan kak Alan, semenjak aku kerja dia jadi nggak ke urus.
Dinda melepas High Hels yang di pakainya sebelum masuk mendekati sang suami.
Dengan begitu lembut Dinda memberi ciuman di pipi Alan.
"Kakak bangun," bisiknya menyunggar rambut Alan yang menutupi keningnya.
Samar samar mendengar suara yang familiar, Alan segera membuka mata, pertama kali ia menatap wajah cantik yang saat ini tersenyum di depannya.
"Kenapa tidur disini?" tanya Dinda.
Alan tersenyum mengingat ingat sebelum ia ketiduran.
"Tadi anak anak minta kuda kudaan, dan maunya sama aku, ternyata capek juga, aku beresin kerjaan tadi siang karena jemput Elfas, Kamu sudah lihat mereka?'' tanya nya menarik Dinda ke dalam pangkuannya.
Seketika senyum dari kedua sudut bibir Dinda menghilang mendengar suara Alan, Dinda mengangguk tanpa suara, seperti ada sesuatu yang di pendam saat ini.
Alan menyelipkan rambut istrinya yang terurai di pipi, "Kenapa? kamu lelah?" tanya Alan pelan.
Tak menjawab, Dinda menatap manik mata suaminya.
"Kita ke kamar yuk!" selak Alan saat Dinda tak juga mengatakan sepatah kata pun.
Dinda mengikuti suaminya keluar dari ruangan itu lalu ke kamar mandi.
"Apa kak Alan hanya pura pura bahagia." gumamnya seraya menatap bayangannya dari pantulan cermin.
"Tiga tahun aku menjadi wanita yang sukses, tapi kenapa sekarang aku merasa kalau aku ini adalah istri dan ibu yang cacat, bahkan aku tidak bisa melayani suamiku sepenuhnya," imbuhnya.
__ADS_1
Dinda menitihkan air mata, tiba tiba saja dadanya merasa sesak dan sulit untuk bernafas.
"Apa aku berhenti saja ya, aku yakin kalau kak Alan sebenarnya juga menginginkan ini, hanya saja dia merasa nggak enak dan diam."
Setelah membersihkan dirinya Dinda keluar, lagi lagi la mendapati Alan yang berbaring di atas ranjang tanpa melepas sepatu dan jasnya.
Kakak, maafkan aku, mulai besok aku tidak akan ke mana mana, aku akan selalu ada untuk kamu dan anak anak.
"Kakak nggak ganti baju dulu?" bisik Dinda.
Alan menggeliat, entah kenapa matanya sangat berat untuk di buka, tapi Dinda tak menyerah dan terus membujuknya, akhirnya Alan bisa membuang jauh jauh kantuknya.
Setelah matanya terbuka dengan lebar Alan segera beranjak menuju kamar mandi.
Ting tung, bunyi motif ponsel Alan.
Dinda yang penasaran meraih ponsel yang ada di nakas.
"Kak, aku pinjam ponselnya." teriak Dinda.
"Iya," sahutan dari dalam.
Dinda mengernyit, ternyata itu motif WA dari abangnya.
Berhasil.
Baca Dinda dalam hati, sesekali Dinda menatap pintu yang masih tertutup rapat.
Setelah Alan keluar, Dinda langsung mencegatnya sebelum kembali ke ranjang.
"Siapa?" tanya Alan saat Dinda mengangkat ponselnya.
"Abang," jawab Dinda santai.
''Apa katanya?''
''Berhasil.''
Yes.
Alan melayangkan kepalan tangannya ke udara membuat Dinda semakin curiga dengan tingkah aneh suaminya.
''Sebenarnya ada apa sih, kak, kok kayaknya senang banget dapat pesan dari abang?'' tanya Dinda menyelidik.
Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa dari tadi dia lupa dengan istrinya yang selalu kepo tingkat dewa.
"Sini!" membawa Dinda ke atas ranjang dan keduanya duduk saling tatap muka.
''Itu...'' ucap Alan ragu karena ia tak bisa berbohong sama istrinya.
''Itu apa?'' tanya Dinda lagi.
__ADS_1
Akhirnya Alan mengatakan rencana yang di buatnya tadi siang pada Dinda, tanpa meninggalkan sepatah katapun Alan terlihat sangat antusias, karena baginya itu tidak salah walaupun konyol setidaknya ia memberi jalan keluar untuk abang iparnya, solusi yang tepat. menurutnya.
Sedangkan Dinda yang menjadi pendengar setia hanya bisa meresapi setiap inci kalimat dari suaminya.
''Kasihan Elfas, lihat saja dia sampai ingin tidur di sini gara gara kesepian.''
Dinda mengangguk lalu memeluk Alan dengan erat.
''Aku juga minta maaf sama kakak atas sikapku selama ini,'' ucapnya pelan.
''Sikap yang mana?'' Tanya Alan yang memang benar benar tidak tau maksud istrinya.
Dinda melepaskan pelukannya lalu menggenggam kedua tangan suaminya.
''Mulai besok aku akan di rumah, aku akan berhenti kerja.''
Meskipun dalam hati merasa sangat senang, namun wajah Alan berbeda saat menatap lekat istrinya.
''Kenapa, aku tidak memaksa kamu untuk di rumah, itu cita cita kamu, jika kamu memang menyukai pekerjaan kamu, aku tetap mengizinkan, yang penting kamu bahagia.'' menangkup kedua pipi Dinda.
Ucapan itu memang keluar dari hati, karena Alan tidak mau istrinya merasa tidak nyaman dengan keputusannya, Alan tidak mau lagi menjadi penghalang dengan apa yang menjadi impian Dinda, sebagai seorang suami Alan tetap ingin yang terbaik untuk istrinya dalam segala hal.
Dinda menitihkan air mata, ''Aku sudah puas, selama tiga tahun kakak sudah memberikan yang terbaik untuk aku, dan sekarang saatnya aku menjadi istri yang baik, tiga tahun mengajarkan aku kalau pekerjaan dan karir bukan segalanya, tapi suami dan anak lah tujuan hidupku, kalian lebih segala galanya dari apapun, aku tidak mau lagi bekerja, cukup sekian lama kakak bersabar menghadapi sikapku yang ke kanak kanakan. Aku minta maaf karena selama ini sudah mengabaikanmu.''
Tanpa bicara Alan merengkuh tubuh Dinda membawanya ke dalam dekapannya. Rasanya itu adalah sebuah kata kata yang membuatnya begitu lega.
''Aku tidak pernah mempermasalahkan itu, dengan hadirnya kamu dan anak anak saja sudah membuatku bahagia, demi apapun di dunia ini, aku tidak akan bisa mendapatkan wanita sebaik dirimu, kamu adalah yang terindah, hadiah dari mama yang tak akan pernah tergantikan.''
Tak terasa Alan ikut menitihkan air mata, tak pernah terlintas di otaknya kalau Dinda akan mengatakan itu semua saat itu.
''Sekarang kita tidur, besok aku ada rapat pagi.''
Dinda mengangguk dan menarik selimut.
Mumpung anak anak tidur pulas kesempatan untuk memproduksi adiknya si kembar.
Alan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dinda lalu mencium keningnya, tak hanya itu Alan kembali melanjutkan aksinya yang dari tadi sudah terpaendam ingin di salurkan. Melihat Dinda diam memberi lampu hijau membuat Alan kembali bersemangat dengan tujuannya.
Namun tiba tiba saja....
''Papa.... mama....'' Tiba tiba saja pintu terbuka, Dinda dan Alan menoleh ke arah pintu.
''Loh kenapa ke sini, nak?'' Dinda menghampiri gerangan yang ternyata putri kecilnya.
''Sempit, aku mau tidur sama Mama dan papa saja.'' Naik ke atas ranjang dan berbaring di tengah kasur.
''Iya, nggak apa apa,'' ucap Dinda kembali menyelimuti tubuh mungil Fana.
Sedangkan Alan hanya mendengus dan memeluk Fana yang ada di sampingnya.
Gagal lagi deh, Fana cantik, ngapain mesti bangun sih, nak, ini semua gara gara bang Faisal yang membiarkan Elfas nginep, dia yang untung aku yang buntung.
__ADS_1