
Mungkin mengalah dan menghindar dari Dinda akan lebih baik, itulah menurut Daka yang memilih keluar dari kamar Alan. Namun tetap pria itu menggandeng Alan dan Faisal untuk berdiskusi di ruang lain. Supaya Dinda tak mengetahui apa yang mereka bicarakan, dan tak salah paham dengan maksud Daka kali ini.
''Jadi gimana?''
Ucapan Faisal dengan lantangnya seakan tak sabar ingin mendapatkan kejelasan mengenai sang adik.
''Kayaknya Dinda memang hamil.''
Alan membulatkan bola matanya dengan mulut terkunci, masih tak percaya dengan apa yang di katakan Daka.
''Maksud kamu apa, kamu nggak bercanda kan?''
Faisal kembali memastikan. Dan berharap Daka tak membuat permainan konyol di saat keadaan genting.
Huh..... terdengar jelas helaan napas berat dari mulut Daka yang masih bingung. Semenjak menjadi dokter kandungan baru kali ini Daka mengalami kendala yang menurutnya begitu aneh.
Sekali lagi Daka menggeleng, karena Daka yakin jarinya meraba janin yang baru akan tumbuh di dalam perut Dinda.
Alan masih saja diam, tak memikirkan anak, namun Alan masih trauma dengan kejadian waktu itu, di mana ia harus menyaksikan Dinda saat kontraksi. Belum lagi saat Dinda pingsan dan seterusnya harus kehilangan bayinya. Tak bisa membayangkan seandainya itu terjadi lagi pada diri Dinda, pasti lah wanita itu akan lebih kacau.
''Tapi aku akan tanyakan pada Dokter Edwin, karena waktu aku masuk, perut Dinda sudah di jahit, dan Dokter Edwin nggak bilang apa apa kecuali semua baik baik saja. Dia menyuruhku untuk memberi tau keluarganya, itu saja.''
Panjang lebar Daka menjelaskan di mana saat ia meminta tanda tangan Faisal saat itulah Dokter Edwin melakukan operasi bayi Dinda tanpa menunggunya lebih dulu.
Seketika Daka yang terlihat gusar mengambil ponsel nya dan menempelkan di telinganya.
Namun nihil, nomer Dokter Edwin tak bisa di hubungi. Dan itu berulang kali hingga membuat Daka gedeg dengan suara merdu mbak operator.
Alan memilih untuk duduk, kakinya lentur, rasanya bercampur aduk antara bahagia dan sedih yang tak bisa di ungkapkan.
''Jalan satu satunya kita harus menunggu Dokter Edwin, dan aku akan meminta penjelasannya.''
''Kapan?''
Alan terlihat kesal dengan keadaan itu, harusnya kabar kehamilan Dinda adalah kebahagiaan baginya. Tapi tidak, Alan benar benar terlihat pilu.
''Kakak....'' tiba tiba suara Dinda membuyarkan ketiga pria yang saat ini serius. Entah apa lagi yang akan di terimanya Alan siap untuk menjadi kaki tangan sang istri.
Alan berlari kecil menghampiri Dinda yang baru saja keluar dari kamarnya bersama dengan Bu Yanti dan pak Heru serta Amel.
''Kamu tidak apa apa kan?'' tanya Alan khawatir.
__ADS_1
Dinda menggeleng dan menatap Daka yang masih duduk seraya menautkan kedua tangannya.
''Aku mau tes.'' tiba tiba saja ucapan dari bibir ranum itu menerbitkan senyum bibir Daka yang dari tadi cemberut.
Daka kembali merogoh tespek dari saku jasnya menyodorkan ke arah Dinda.
Dengan menatap wajah Alan, Dinda menerima benda itu dengan sedikit ragu.
''Aku temani ya?'' tawar Alan menggenggam tangan Dinda menuju kamarnya.
Kini semua hanya bisa duduk di ruang keluarga sembari menunggu hasil benda pipih itu.
Masih banyak tanda tanya, karena Daka masih menunggu kepastian dari Dokter Edwin, yang menangani Dinda.
Setelah Dinda masuk ke kamar mandi, Alan mondar mandir di depan pintu sembari menggigit jarinya. Dengan harap harap cemas Alan terus menatap pintu kaca yang bergambar bangau di depannya itu. hatinya terus melantunkan doa terbaik untuk wanita yang ada di dalam. Meskipun masih deg degan Alan mencoba untuk berpikir positif dan meyakinkan untuk percaya dengan hal yang baik saja.
Lima belas menit kemudian.
Ceklek, pintu terbuka.
Segera Alan mendekati Dinda yang baru satu langkah mengeluarkan kakinya.
Wanita itu tersenyum namun juga menitihkan air mata di pipinya dengan kedua tangan sembunyi ke belakang.
Tanya Alan penasaran, meskipun ia tak berharap positif setidaknya ia juga ingin tau dengan keadaan istrinya.
Dinda menunjukkan benda itu tepat di depan suaminya.
''Aku hamil.'' ucapnya diiringi dengan senyuman.
Alan mengambil alih benda itu dan menatap dua garis merah yang nampak jelas, itu artinya apa yang di katakan Daka benar, kalau Dinda memang mengandung anaknya.
Tak ada senyum yang terukir dari sudut bibir Alan, bahkan pria itu terlihat lemas dengan pandangan kosong.
''Kakak nggak suka kalau aku hamil?''
Dinda meraih tangan Alan yang masih memegang tespek.
Aku nggak tau harus bilang apa, di satu sisi aku bahagia mendengar berita ini, tapi aku takut jika suatu saat kejadian itu terulang lagi, apa yang harus aku lakukan.
''Suka, aku sangat bahagia, saking bahagianya kau nggak bisa ngungkapin ini semua. Terima kasih atas apa yang kamu berikan.''
__ADS_1
Alan menarik tengkuk leher istrinya dan memberinya hadiah kecupan yang bertubi tubi, biarlah, Alan ingin menghilangkan rasa takut itu dengan menatap wajah Dinda yang terlihat berseri seri.
''Aku ingin kasih kejutan ke mama.''
Alan mengangguk mengikuti apa yang akan di lakukan istrinya kali ini.
Dengan memasang wajah melas Dinda dan Alan menghampiri Bu Yanti dan yang lain menunggu hasilnya.
''Gimana?'' tanya Bu Yanti antusias.
Melihat raut wajah Dinda yang layu, Bu Yanti jadi nggak tega untuk kembali bertanya dan akhirnya memeluk menantunya.
Sedangkan yang lain pun hanya bisa menyaksikan.
''Nggak apa apa sayang, Kalian kan bisa adopsi.''
''Aku.....'' Ucapan Dinda mengambang sembari menatap Faisal yang mematung di samping Amel.
''Aku hamil, ma.'' Menunjukkan tespek dari tangan Alan.
Tak seperti Alan, ekspresi Bu Yanti begitu kegirangan, bahkan wanita itu tak hanya memeluk Dinda namun seluruhnya yang ada di sana termasuk Daka.
''Mama nggak tau harus bilang apa, yang pastinya ini adalah kebanggaan yang luar biasa.'' Bu Yanti menangkup kedua pipi Dinda.
''Al.'' kini Bu Yanti beralih mendekati putranya.
''Berjanjilah kalau kamu akan menjaga Dinda untuk mama. Berjanjilah kalau sedetik pun kamu tidak akan meninggalkan putri mama.''
Meskipun tak diminta, Alan sudah pasti melakukan itu semua, namun Bu Yanti masih khawatir dengan kejadian yang lalu.
Alan mengangguk tanpa suara.
''Selamat ya.'' Faisal mengulurkan tangannya dan merangkul adik iparnya, begitu juga dengan Daka yang menyusul.
Sedangkan Amel dan Dinda pun saling mengelus perut sang lawan.
''Tapi kamu harus tanyakan pada Dokter Edwin, aku nggak mau terjadi apa apa dengan istriku.'' bisik Alan yang masih resah dengan masalah tadi.
Daka mengangguk lalu pergi meninggalkan semuanya, mungkin mendapat jawaban secepatnya akan lebih baik dan membuat Alan tenang.
''Dinda, apapun yang kamu inginkan bilang ya, jangan di pendam, ada Alan yang akan menuruti semua kemauan kamu.''
__ADS_1
Seketika Dinda melirik ke arah suaminya.