Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Kegagalan sebuah rencana


__ADS_3

Hening, hampir lima jam Dinda menanti suara lembut dari Alan menyapanya, namun semua sia sia, nyatanya sepatah kata pun Alan benar benar membisu, bicara jika pak Yanto bertanya dan selebihnya memilih untuk menghindari Dinda.


Aku harus minta maaf. masih menjauh dari Alan.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Dinda masih tak bisa memejamkan matanya dan terus menatap tubuh Alan yang kini berbaring di sofa ruangan mertuanya. Sedangkan mata dan tangannya sibuk dengan ponsel di tangannya


Dinda yang sedari tadi duduk di kursi samping brankar bapaknya itu beranjak dan menghampiri Alan.


''Kakak nggak pindah, mendingan tidur di ranjang, disini kan sempit.'' menyungutkan kepalanya ke arah ranjang yang tersedia. Alan melirik sekilas, mungkin hatinya masih kesal gara gara ucapan Dinda tadi sore.


''Kamu saja yang di sana.'' Jawabnya ketus. memiringkan tubuhnya memunggungi Dinda yang mematung di samping sofa.


Aku nggak ngerti dengan jalan pikirannya, kenapa hanya bicara seperti itu harus di masukin hati sih.


Tak mau membuat Alan jengkel Dinda kembali berjalan untuk menempati ranjang.


Semoga saat membuka mata dia sudah berubah. Nggak jadi deh, jangan sebut aku Dinda jika tak bisa membuatnya seperti semula.


Setelah berubah pikiran Dinda turun dari ranjangnya dan mengendap endap mendekati Alan yang masih di tempat.


''Kakak, aku ingin tidur di sofa juga.'' rengeknya, karena menurutnya itulah senjata yang pas untuk menaklukan hati suaminya.


Alan meletakkan ponselnya dan bangun lalu beranjak.


Belum juga melangkahkan kaki, Dinda memeluknya dari belakang.


''Aku maunya sama kakak, kata orang orang rumah sakit itu angker, aku takut,'' ucapnya mengeratkan pelukannya. Padahal hatinya cekikikan karena sudah harus bersandiwara dan memohon.


Alan mendengus dan memejamkan mata.


''Jangan manja deh, kamu itu sudah dewasa, ngapain juga harus takut.'' bantah Alan sedikit sinis, menunduk menatap tangan Dinda yang melingkar di perutnya.


Seketika Dinda memutar tubuh kekar Alan hingga keduanya saling bersitatap. enak saja, kalau lagi butuh saja di sayang, masa nggak butuh di marahin, itulah pikiran Dinda saat ini.


Dinda meraih tengkuk leher suaminya dan mencium pipinya dengan lembut dan lama, ini yang tak bisa Alan hindari, dan ini yang tak bisa Alan abaikan. Akhirnya pertahanan yang di bangun selama berjam jam itu runtuh seketika, Alan membalas ciuman itu lebih mesra, apa lagi cuaca sangat dingin, andai saja itu bukan rumah sakit, mungkin Alan sudah melucuti baju istrinya. Lampu yang terang tak menyurutkan niatnya, tak peduli jika mertuanya melihat, biarlah Alan sudah tak tahan kalau sudah di landa hasrat.


''Kita tidur.'' ajaknya membawa Dinda ke sofa.


Laki laki mah gampang, sok sokan angkuh, gitu saja sudah keok.


Dinda mengikuti suaminya untuk tidur di sofa.


Kalau masih berdekatan kayak gini, rencana abang nggak akan berhasil, Mana bisa aku cuwekin, cantik begini. mengelus pipi Dinda dengan pelan.

__ADS_1


Terpaksa Alan merengkuh tubuh Dinda membawa ke pelukannya. dan malam ini ia tidur bersama guling hidupnya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari memang belum terbit, namun ruangan pak Yanto kembali ramai gara gara Fana dan Tama minta di anterin ke mama dan papanya.


Faisal yang baru saja membuka pintu hanya geleng geleng menatap keduanya yang saling berpelukan di balik selimut.


Dasar, katanya setuju, tapi kok main peluk pelukan.


Fana dan Tama yang sudah kangen mendekati kedua orang tuanya.


''Mama, papa.'' Ucap keduanya serempak menaiki tubuh papanya. Karena tempatnya yang sangat sempit, akhirnya Alan terjatuh ke lantai bersama putra kecilnya, untung saja Tama berada di atas perut sang papa, jadi bocah itu tidak terluka malah tertawa.


''Adek, ngapain disini?'' pekik Alan, tak menyangka yang membuat dirinya terjatuh adalah Tama.


Faisal melipat kedua tangannya ingin menyaksikan ekspresi Alan yang sudah membohonginya.


Sedangkan Alan mencoba bangun. ''Sama siapa?'' tanya nya karena Alan belum menyadari keberadaan Faisal yang mematung di ambang pintu.


''Tu...'' menunjuk ke arah abang iparnya.


''Abang,'' jawabnya cengar cengir seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seperti salah tingkah, itulah Alan saat ini.


''Loh kalian kok sudah di sini?'' heran, ''Kakak kok di bawah, kenapa?'' tanya nya.


''Jatuh, mengangkat Tama dengan pelan.


''Abang yang anterin mereka?''


Faisal mengangguk tanpa suara, namun pandangannya masih ke arah Alan.


''Kalian rewel, nyusahin mama Amel ya?'' tanya Dinda menarik lengan Alan hingga keduanya kembali duduk bersejajar.


''Cucu kakek, sini sayang.'' Panggil pak Yanto yang juga sudah membuka mata.


Kedua bocah itu berlari, seperti biasa mereka berbaring di samping kakeknya.


''Nggak rewel, katanya nggak bisa tidur kalau nggak sama kamu.'' Jawab Faisal, namun tetap pandangannya tak beralih dari wajah Alan.


''Al, aku mau bicara sama kamu,'' ucap Faisal serius.


Bakal kena marah nih, awas saja kalau sampai dia berani mengomel disini, aku akan membawa status kantor, tidak ada ipar, yang ada bos dan sekretaris, pasti aku yang menang.

__ADS_1


Setelah dari kamar mandi Alan keluar menghampiri Faisal yang duduk sedikit menjauh dari ruangan bapaknya.


Dinda menyibak selimut, heran dengan kedua pria dewasa itu, tak biasanya mereka bicara empat mata.


Apa ada masalah dengan kantor Kak Alan.


Dinda hanya bisa menerka nerka dalam hati.


''Din...'' Suara pak Yanto mengejutkan Dinda yang sedang melamun. Segera Dinda menghampiri pak Yanto yang sedang merangkul kedua cucunya.


''Bapak butuh sesuatu?''


Pak Yanto menggeleng. ''Apa kamu bahagia?'' tanyanya, meskipun selama ini pak Yanto tak pernah mendengar masalah yang di hadapi Dinda, setidaknya sebagai orang tua ia tetap khawatir.


Dinda mengukir senyum menggenggam kedua tangan pak Yanto.


''Bapak jangan pikirkan aku lagi, aku sangat bahagia, Kak Alan adalah laki laki yang baik, meskipun awalnya dia membenciku, tapi sekarang dia sangat mencintaiku,'' ungkapnya dari hati, karena itulah yang ia rasakan saat ini.


Tama dan Fana hanya mendengarkan ucapan mamanya.


''Apa lagi sekarang ada mereka.'' mencubit Fana dan Tama bergantian.


''Apa bapak sudah mau punya cucu lagi?'' permintaan konyol pak Yanto.


Dinda tersipu malu, karena itu memang sudah di rencanakan sejak umur putra putrinya dua tahun, entah kenapa sampai sekarang Dinda belum hamil lagi.


''Bapak tenang saja, Dinda akan kasih bapak cucu lagi, doakan, semoga semua di beri kelancaran, dan semoga bapak panjang umur.''


Akhirnya kamu bahagia juga, sekarang bapak makin yakin kalau Alan adalah suami yang baik dan bertanggung jawab.


''Nggak bisa dong, bang, aku nggak mau tidur pisah ranjang sama Dinda?'' bantah Alan, tetap kekeh dengan pendiriannya yang tak mau jauh dari istrinya.


''Sementara saja, Al,'' pinta Faisal.


Tujuh hari dia bilang sementara, tadi baru lima jam saja aku sudah nggak kuat.


Alan hanya bisa menggerutu dalam hati.


Alan bak orang yang frustrasi yang menjambak rambutnya.


''Oke, aku akan coba, tapi kalau nggak berhasil jangan salahkan aku.'' Berlalu meninggalkan Faisal.


Awas saja kalau sampai nggak berhasil, aku sama Daka akan potong senjata kamu biar tau rasa.

__ADS_1


__ADS_2