Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Dinda pulang


__ADS_3

Setelah keduanya selesai makan, suasana kamar kembali hening, Dinda tetap duduk di sofa, sedangkan Alan pun masih di atas ranjangnya, meskipun Ia merasa sedikit pusing namun Alan harus tetap pulang demi istri pertamanya yang sudah menantinya di rumah.


''Kita keluar, jangan tunjukkan ke mama kesedihan kamu, aku nggak mau kalau kehadiran kamu membawa petaka bagiku.'' ucapnya melirik ke arah Dinda yang masih menunduk.


Cukup kak, seumur umur baru kali ini aku di benci seseorang dan itu adalah suamiku sendiri.


Dinda hanya mengangguk dan beranjak, tak mau banyak kata baginya saat ini mengikuti lebih baik meskipun dalam hati pun ingin protes dengan kelakuan Alan padanya.


''Gi mana Al, sudah mendingan?'' tanya Mama Yanti saat keduanya keluar dari kamar, tak ada bedanya, Alan tetap menampakkan wajah datarnya, sedangkan Dinda hanya mengintil dari belakang dan menautkan kedua tangannya.


Alan mengangguk dan duduk di samping mamanya, Dinda lebih memilih duduk sendiri meskipun masih ada tempat kosong di sebelah Alan, karena Ia yakin kalau Alan pun tak mengizinkannya.


''Aku mau pulang ma,'' ucap Alan tiba tiba.


''Loh kenapa, tadi aku sudah suruh Faisal untuk menghandle pekerjaan kamu, seru pak Heru yang baru saja memutuskan sambungannya dengan Faisal, abang iparnya yang kini sudah sibuk di kantor.


''Mendingan kamu istirahat saja dulu di sini, titah Mama Yanti mengelus bahu Alan, perasaan seorang Ibu tiba tiba saja was was menilik anaknya yang memang terlihat sedikit pucat.


''Mama panggilkan dokter ya,'' tawar lagi mama Yanti menyodorkan segelas air putih untuk Alan.


Pria itu hanya menggeleng tanpa suara.


Setelah puas bercengkerama dengan putra semata wayangnya dan menantu barunya, kini mama Yanti kembali beralih menatap Dinda yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


''Kalau kamu Din, gi mana sekolahnya dengan desainer Stefany?'' tanya Mama Yanti.


Dinda mendongak terkejut dengan pertanyaan yang jawabannya tidak baik baik saja.


Dinda mengatur nafasnya sebelum menjawab pertanyaan mertuanya tersebut.

__ADS_1


Aku harus jawab apa, nggak mungkin aku jujur kalau aku mau berhenti sekolah karena laptopku rusak, tapi jika aku bohong, lambat laun pasti mama tau juga, tapi setidaknya aku akan aman untuk saat ini.


''Lancar kok ma, kemarin Mbak Stefany kirim salam ke mama, ucapnya berusaha tenang meskipun jantungnya dag dig dug, karena sudah berbohong.


Sepertinya mudah sekali memperdaya mama Yanti yang kini tersenyum renyah ke arahnya, sedangkan Dinda hanya tersenyum kikuk, apa lagi tatapan Alan tak dapat di artikan, membuat Dinda menciut.


Ternyata kamu pinter bohong juga, aku kira kamu se suci wajah kamu yang polos itu, ternyata aku juga salah menilai kamu.


Baru juga mama Yanti berbuat candaan untuk mencairkan sedikit ketegangan antara Dinda dan Alan, tiba tiba di kejutkan dengan ponsel Alan yang berdering, nama Syntia berkelip disana, terpaksa Alan harus mengangkatnya, tak mau membuat istri pertamanya marah karena Ia belum juga balik.


''Iya Syn, sapa Alan mengawali percakapan.


Katanya kamu mau pulang, apa kamu sudah lupa sama aku karena sudah ada Dinda di sana, aku sudah bela belain nggak keluar hanya untuk nungguin kamu, tapi apa sampai jam segini kamu belum juga pulang.


Ucap Syntia dengan nada ketusnya karena saat ini sudah hampir jam dua belas siang.


Alan hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar saat mendengar kemarahan Syntia dari seberang telepon, Ia merasa bersalah karena sudah mengingkari janjinya pada wanita yang di cintainya itu, namun menurutnya ada yang lebih salah dalam posisinya saat ini, yaitu Dinda yang memang menurutnya sengaja membuatnya serba salah di mata Syntia maupun mamanya.


Dinda yang dari tadi malas untuk pulang itu pun ikut pamit kepada mama dan papa mertuanya.


''Dinda, kalau kamu kesepian ke sini saja, jangan sungkan sungkan, anggap saja ini rumah Dinda sendiri, ucap mama Yanti mengelus rambut panjang gadis itu.


Dinda memeluk mama Yanti dengan erat sebelum mengejar Alan yang sudah keluar.


Hari hariku pasti kesepian ma, karena kak Alan nggak pernah memperhatikanku, apa lagi mencintai dan bercanda denganku, mustahil.


''Papa, aku pulang ya, beralih mencium punggung tangan mertuanya.


''Hati hati ya, nanti kalau Papa dan Mama ada waktu pasti main ke rumah kamu, ucap Pak Heru.

__ADS_1


Setelah punggung Alan dan Dinda berlalu, tiba tiba saja Mama Yanti menitihkan air matanya,.


''Pa, mama tau kalau Dinda sedang tidak baik, mama merasa bersalah karena sudah mendesak Dinda menikah dengan Alan, ucap Mama Yanti tersendat.


Sedangkan Pak Heru hanya mengulas senyum kecil, menyesal percuma toh semuanya sudah terjadi, yang pastinya tugas mereka harus membuat Alan sadar dengan keadaan, itu saja.


Dalam perjalanan tak ada percakapan sepatah kata pun, Alan sibuk menyetir, sedangkan Dinda menatap ke arah luar, masih sedikit kesal dengan perlakuan Alan yang yang menghancurkan laptop dari abangnya, meskipun Alan menganggap remeh harganya, namun Dinda menganggap itu barang yang sangat berharga dan tidak seenaknya bisa di ganti.


''Turun, titah Alan saat mobil mereka berhenti di depan rumahnya.


Dengan bergegas Dinda turun dan masuk ke dalam, baru saja membuka pintu, Dinda sudah di kejutkan dengan Syntia yang sudah mematung di sana.


''Kamu harus tau posisi kamu di rumah ini, jangan membuat mas Alan pusing dengan urusan kamu, dia itu harus kerja, bukan hanya ngurusin kamu saja, ''celetuknya.


Dinda hanya mendengarkan dan memejamkan matanya.


''Iya aku minta maaf Mbak, aku nggak akan mengulanginya lagi, jawabnya lalu meninggalkan Syntia.


''Kamu nggak apa apa kan Mas, tanya Syntia terlihat khawatir dan memeluk tubuh kekar Alan.


''Enggak, membalas dengan ciuman. ''Maaf ya, semalam aku tidak bisa menemani kamu tidur, menggiring Syntia ke arah ruang keluarga.


Sedangkan Dinda yang sudah berada di sudut tangga itu pun menyaksikan kemesraan keduanya yang sengaja di pamerkan di depannya.


Apakah aku tidak berhak mendapatkan pelukanmu kak, apakah aku ini terlalu hina untuk di cintai seorang suami, apakah di hatimu tidak ingin mencintaiku dengan ikhlas walaupun hanya sesaat, batinnya pilu.


Tak perlu lagi menyaksikan sepasang suami istri yang begitu mesra, Dinda memilih untuk kembali ke kamarnya.


Dinda langsung aja menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang empuk namun tetap dalam kesepian yang melanda, entah sampai kapan itu berakhir Dinda pun hanya bisa berharap saja, kalau masa itu akan cepat terlewati dengan kebahagiaan yang bertubi tubi.

__ADS_1


Tak sengaja matanya menangkap benda tipis pemberian Alan kemarin itu masih berada di atas kasur.


Aku memang miskin, tapi aku bukan wanita yang mata duwitan, dan aku tidak akan memakai uang kamu sepeser pun untuk kebutuhanku, maaf kak, sebelum kamu bisa mencintaiku, aku tidak akan menyentuh apapun milikmu termasuk uang.


__ADS_2