Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Muntah


__ADS_3

Sebenarnya setan apa yang merasukinya, atau jangan jangan rumah sakit ini angker dan ada kuntilanak yang menyukai kak Alan hingga dia memperdaya Kak Alan untuk membenciku.


Dinda terus menerka dalam hati, pikirannya kacau dengan perubahan sikap Alan selama tiga hari ini, Alan terlihat cuek padanya, jangankan untuk mencium, menyapa saja bibirnya sangat berat, dan itu membuatnya banyak tanda tanya.


Apa aku juga harus cuek sama dia. tapi tidak mungkin, pasti Ibu dan Bapak akan curiga.


Kembali bergumam dalam hati, hari ini pak Yanto sudah di nyatakan boleh pulang, tapi Alan hanya diam di sofa, Akhirnya Dinda lagi yang harus mendekatinya karena tak ada yang di minta untuk membantunya, sialnya Faisal tak datang, sedangkan Bu Tatik sibuk membereskan baju Pak Yanto, suster pun baru saja keluar.


''Kakak sudah bayar administrasinya?'' ucapnya basa basi.


''Sudah.'' jawabnya singkat tanpa menatap.


Karena kejengkelannya sudah memuncak, Dinda merebut ponsel di tangan Alan dan duduk di pangkuan suaminya.


Bu Tatik dan Pak Yanto yang sedari tadi sudah siap hanya bisa menyaksikan keduanya.


''Kamu ini kenapa sih? kesurupan, aku nggak bisa lo di diamkan terus, kalau kakak masih kayak gini aku nggak mau pulang ke rumah, aku dan anak anak akan tinggal sama Ibu.''


Alan membelalakkan matanya lalu menatap manik mata Dinda. Ternyata istrinya itu menanggapinya dengan serius.


Gawat, rencana macam apa ini, aku nggak mau menjadi duda.


Ketakutan Alan melanda setelah mendengar ungkapan Dinda, tak menyangka istrinya akan bicara seperti itu, akhirnya Ia tersenyum simpul.


Memang dasarnya laki laki kurang akal, gitu saja sudah gugup setengah mati.


He.. he... he...... Senyum renyah terukir, Alan meletakkan ponselnya lalu memeluk Dinda.


''Aku tidak apa apa, cuma.....'' menghentikan ucapannya, masih mikir mikir dengan alasan yang akan di lontarkan.


Cuma apa ya, masa iya aku harus bilang kalau aku cuma sandiwara.


''Cuma apa?'' tanya Dinda sekali lagi.


''Cuma sakit gigi.'' lanjutnya spontan.


''Buka mulut!" titah Dinda masih diselimuti dengan emosi.


"Sekarang sudah sembuh kok," cicitnya, tak mau kalau Dinda mengetahui kalau ia bohong, meski sebenarnya Dinda juga tak percaya setidaknya Alan tak seperti kemarin.


"Dinda, sudah, mungkin suami kamu sedang capek saja, ayo kita pulang, kasihan anak anak kalian."


''Habisnya kak Alan sendiri yang cari masalah.'' mengadu.


Keduanya menghampiri Bu Tatik dan pak Yanto yang siap meninggalkan rumah sakit.


"Sini, Bu, biar aku yang bawa."


Alan meraih tas yang sudah di angkat Ibu mertuanya, sedangkan Dinda mendorong kursi roda bapaknya.

__ADS_1


''Ingat kataku tadi, kalau kakak masih mau aku pulang,'' bisiknya sebelum mereka meninggalkan rumah sakit.


Maaf maaf kata ya bang, aku nggak bisa kehilangan istriku, jadi acara kita batal. gumamnya menatap punggung istrinya berlalu.


Sesampainya di rumah, Pak Yanto di sambut oleh ketiga cucunya dan menantu serta Faisal, kepulangannya membawa kabar yang sangat membahagiakan.


''Kakek...'' Seru ketiga bocah itu berhamburan memeluk Pak Yanto yang masih berada di kursi roda.


Sedangkan tatapan Faisal langsung menuju tangan yang saling bertautan di depannya.


Apa aku bilang, dasar bandel, perlu di hakimi kalau kayak gini. batinnya.


Semua masuk ke dalam, Pak Yanto yang masih butuh istirahat langsung berada di kamarnya.


''Sekarang bapak istirahat dulu, biar lebih sehat lagi.'' Tutur Dinda karena tak mungkin ia terus menemani pak Yanto, ada keluarga yang harus di urusnya.


Di saat semua bercanda dengan pak Yanto, Faisal menarik tangan Alan untuk keluar.


''Ada apa sih, bang?'' Pura pura tidak tau, padahal ia sudah tau apa yang akan di bahas.


Faisal membawa Alan ke kamarnya dan mengunci pintunya, tanpa membuka suara pria itu mengeluarkan ponselnya.


"Halo, Dak." ternyata Faisal VC dengan sahabatnya yang saat ini dinas.


''Iya Sal, ada apa?'' Jawab Daka dari seberang sana.


"Apa?" Daka terdengar terkejut, meskipun jauh dari Alan, Daka ikut tersulut emosi.


Faisal menyodorkan ponselnya ke arah Adik ipar sekaligus bosnya.


"Kamu itu gimana sih, kalau kayak gini kan jadinya batal, apa kamu memang nggak bisa jauh dari Dinda sebentar?" bentak Daka, sudah kayak emak emak di mintain uang jajan anaknya.


Alan menggeleng. "Aku benar benar nggak bisa, kita batalkan saja."


Ingin rasanya Daka menonjok wajah dari layar ponselnya, amarahnya benar benar membuncah ingin segera tersalurkan, Akhirnya ia melempar map yang ada di depannya.


"Dasar edan, bucin tingkat dewa, itu tu hasil dari benci kini malah lengket kayak lem G."


Daka benar benar marah lalu menutup teleponnya, jika masih menatap Alan bawaannya ingin emosi saja.


"Nih." mengembalikan ponsel ke abangnya.


Baru saja Alan mangap mau bicara, pria itu berlari keluar menuju kamar mandi saat perutnya merasa mual.


Faisal hanya geleng geleng melihat sikap Alan. "Kenapa dia?" heran.


Hoeek.....hoeekkk.... Terdengar suara muntahan itu karena Alan tak sempat menutup pintunya.


Sedikit khawatir Faisal mengejar Alan.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Faisal ikut membantu memijat tengkuk lehernya.


Alan hanya bisa menggeleng, karena ia tak merasakan apa apa hanya saja tiba tiba mual.


"Mungkin salah makan," jawabnya di sela sela muntahnya.


"Abang, kakak kenapa?'' tanya Dinda yang baru saja datang, wanita itu terlihat cemas saat menatap wajah Alan yang pucat.


"Nggak tau, tiba tiba saja Alan muntah," Faisal keluar memberi ruang Dinda untuk mendekati suaminya.


"Kakak sakit?" Menempelkan punggung tangannya di jidat Alan.


Sebuah senyuman terbit di sudut bibir Alan. "Aku nggak kenapa napa." Menggenggam tangan Dinda. "Mungkin masuk angin saja." lanjutnya lagi.


"Kalau gitu kakak juga istirahat biar aku bikinin teh hangat." ujarnya menuntun Alan keluar.


Baru saja beberapa langkah, perut Alan kayak di di ubek ubek.


Terpaksa Pria itu memutar tubuhnya untuk kembali ke kamar mandi.


Dinda yang mengikuti suaminya semakin khawatir dan berteriak memanggil abangnya yang beberapa saat pergi.


"Ada apa lagi?" tanya Faisal.


''Bang, tolong panggilan dokter, aku takut kak Alan kenapa napa!" tak terasa Dinda meneteskan air mata mengingat beberapa hari ini Alan memang tak mempedulikan kesehatannya, apa lagi sekejap pun Alan tak pulang ke rumah dan terus berjaga di rumah sakit.


Dengan bergegas Faisal berlari untuk menjalankan permintaan adiknya.


Lemas, Alan merasa tak berdaya karena apa yang di makan tadi kini sudah habis terkuras, ia memilih duduk di depan kamar mandi dengan punggung bersandar di tembok.


Sedangkan Dinda sibuk membuatkan teh hangat seperti yang di janjikan.


Baru kali ini aku merasakan seperti ini, apa ini efek umurku yang sudah kepala tiga, bagaimana kalau aku sakit sakitan, apa Dinda masih mau menjadi istriku, atau dia lebih memilih pria yang lebih muda.


Pikiran cetek Alan kembali muncul bersamaan dengan rasa gusarnya.


''Kakak minum dulu.'' Lima menit Dinda sudah menyiapkan teh hangat untuk Alan.


Pria itu menatap wajah istrinya yang masih sibuk membalur minyak di dadanya.


''Apa kamu mencintaiku?'' pertanyaan yang menurut Dinda aneh.


''Kenapa kakak bertanya seperti itu?'' Tanya Dinda penasaran.


''Jawab saja!" Alan kembali menegaskan.


''Aku mencintai kakak sampai kapanpun dan bagaimanapun keadaan kakak, jangan meragukan itu semua dariku.''


Alan bernafas lega mendengar ungkapan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2