Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Paris 2


__ADS_3

Menara Eiffel, salah satu keajaiban dunia yang ada di kota Paris, merupakan destinasi wisata yang menakjubkan, seluruh panca indra penglihatan pasti akan mengagumi keindahan bangunan yang ikonis itu, terhipnotis dengan arsiterkur di depannya, tak ubahnya Dinda yang saat ini hanya geleng geleng dengan kepala yang mendongak ke atas. Wanita itu terus menatap puncak yang yang ingin ia gapai saat itu juga.


''Nanti tengkuk leher kamu sakit.'' Ucap Dokter Tono mengelus punggung Dinda.


Seketika Dinda mensejajarkan pandangannya dengan wajahnya dan mengeluarkan ponselnya.


''Aku mau berpose.'' menyerahkan benda pipihnya ke arah Faisal, setelah abangnya menerimanya, Dinda menggandeng Dokter Tono tepat di bawah menara itu.


Sedangkan Salma dan Daka petualang sendiri dengan keinginan masing masing, kalau untuk Pak Yanto dan Bu Tatik, mereka cukup di hotel dan tak mau ke mana pun.


Untung Dinda sudah berdandan cantik sebelum berangkat dan itu makin membuatnya percaya diri dengan penampilannya.


Meskipun aku berwajah Dokter Tono, aku sangat bahagia, akhirnya kita bisa foto berdua.


Alan melirik ke arah Dinda yang bergonta ganti gaya. Sedangkan Alan hanya mengikuti apa yang di perintahkan wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah ayu khas dengan lesung pipit dan gigi gingsulnya.


''Gimana bang hasilnya?'' berlari kecil menghampiri Faisal setelah beberapa kali mengambil gambarnya, tak hanya dengan Dokter Tono, Dinda juga berfoto dengan Faisal dan juga Salma serta Daka yang sengaja di panggil lewat sambungan telepon oleh abangnya.


Dinda hanya mengukir senyum saat menatap gambarnya bersama Dokter Tono yang terus fokus dengan wajahnya.


''Nanti kalau istri Dokter cemburu gimana?'' menunjukkan gambarnya ke arah Alan.


Alan terbelalak malu dengan gambarnya.


Sejelek itukah aku saat menyamar, apa Dinda akan mengabadikan foto ini? batinnya.


Tak menjawab pertanyaan Dinda, Alan malah fokus dengan wajahnya.


Daka pun ikut menelan ludahnya lalu tertawa mengejek nasib sang sahabat yang tragis.


Merasa tersinggung Alan langsung mencubit pria itu untuk menutup mulutnya yang menurut Alan sangat kurang ajar.


''Dokter Tono memang paling tampan,'' cicitnya menepuk pundak Alan.


Sedangkan Faisal hanya menahan tawa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, laki laki itu juga merasa kasihan dengan Alan yang tidak bisa leluasa melakukan apapun termasuk memamerkan wajahnya yang sangar.


Setelah puas menikmati menara itu dari luar, Kini Alan bersama Dinda masuk ke dalam, penasaran dengan isi bangunan yang membuat semua orang terpanah.

__ADS_1


''Abang nggak mau ikut?'' tanya Dinda.


Faisal tersenyum kecil, ''Kamu dan Dokter Tono duluan, nanti abang susul.'' serunya saat pria itu menerima panggilan telepon.


Bagaikan sepasang kekasih keduanya saling bersejajar menyusuri anak tangga untuk sampai ke lantai pertama.


Selang beberapa menit, kini keduanya sampai di ujung anak tangga yang paling atas, melihat keraguan Dinda untuk melanjutkan jalannya Alan langsung menarik tangan Dinda dan membawanya ke lantai kaca transparan.


Aaaa..... seketika Dinda menjerit dan memeluk Dokter Tono yang ada di sampingnya.


''Kamu kenapa?" tanya Dokter Tono saat mendengar detak jantung Dinda yang begitu kencang, Sedangkan para pengunjung dari berbagai negara itu kini pun beralih menatap Dinda yang masih membenamkan wajahnya di dada Alan.


"Aku takut jatuh.'' Ucapnya dengan polos, Alan hanya bisa menahan tawa setelah mendengar kata Dinda.


"Ngga akan, lihat saja!" Alan melepaskan tubuh Dinda dan berjalan mundur menjauhi wanita itu.


Perlahan Dinda membuka mata dan menatap Dokter Tono yang terlihat santainya menapak kaca itu.


"Ayo... kesini!" perlahan Dinda melangkahkan kakinya. meskipun masih merinding, namun Dinda berusaha untuk tenang menghampiri Alan.


''Lihatlah, indah, kan!" ucap Alan memandang jauh ke depan menikmati indahnya kota Paris.


Pasti waktu itu Mbak Syntia bahagia bisa kesini dengan orang yang di cintainya.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Alan menyeka air mata Dinda yang tiba tiba menetes.


"Aku ingat sama suami aku dan istri pertamanya." ucapnya pelan dan menunduk. meskipun Dinda membenci Alan, namun kebersamaannya yang lanjut berbulan bulan itu tak mungkin di lupakan begitu saja.


"Kenapa dengan mereka?" tanya Alan kepo dan ingin tau apa yang akan di katakan Dinda, padahal itu semua menyangkut dirinya.


"Setelah aku dan kak Alan menikah, suami aku dan istri pertamanya kesini juga, dan waktu itu, Mbak Syntia mengirimkan gambar kebersamaannya dengan Kak Alan, Aku cemburu, tapi aku tidak bisa berbuat apa apa selain menerima nasib sebagai istri kedua yang di campakkan."


Mungkin bisa di bilang kalau setiap kata Dinda yang membahas masa lalunya itu adalah pedang bagi Alan, dan benda tajam itu selalu mengiris sedikit demi sedikit organ tubuhnya.


"Tapi sekarang kamu bisa sepuasnya menikmati ini semua, jangan ingat itu lagi."


Dinda mengangguk dan kembali memandang ke luar kaca.

__ADS_1


Setelah puas dengan lantai pertama, kini Dinda dan Alan pun beralih ke lantai kedua.


Kini wanita itu pun lebih takjub saat Alan membawanya ke sebuah restoran mewah yang ada di dalamnya, tak menyangka dalam menara itu terdapat berbagai keindahan yang tidak semua orang tau.


"Kita makan dulu ya, biar ada tenaga untuk ke lantai atas." ucapnya menarik kursi untuk Dinda duduk, meskipun naik lift Alan pun juga merasa kalau kakinya mulai lentur dengan aktivitasnya yang terlalu padat.


Kali ini tak hanya keindahan kota yang mereka dapat lihat, bahkan dengan jelas Dinda dan Alan melihat sungai Seine yang ada di dekat menara itu, tak hanya itu, jika dari lantai satu mereka menyaksikan kota dengan bangunan yang begitu rangkat, kini di lantai dua bangunan itu mendominasi dengan warna putih dan itu semakin mempercantik suasana.


"Bukan se ceria tadi, kali ini Dinda mendengus dan kembali meletakkan buku menunya yang beberapa saat di pegangnya.


"Dokter, memang disini nggak menyediakan tumis kangkung dan nasi liwet, kenapa nama makanannya aneh gini?" menunjuk tulisan yang menurutnya memang asing.


"Ini nggak asing jika disini, hanya saja bahasanya memakai bahasa tempat, jadi kamu nggak ngerti, sekarang kamu sebutkan saja apa yang kamu pesan."


Akhirnya Dinda kembali membaca menu yang ada di depannya.


"Aku pesan makanan yang ini," pilihannya jatuh pada makanan Crepes. Dan minumnya air putih,'' lanjutnya.


Setelah beberapa menit menunggu, kini makanan yang di pesan sudah tiba di meja mereka.


Dinda hanya memutar piringnya dan menatap makanan yang tersaji.


''Kok nggak di makan?'' tanya Alan saat ia sudah mulai menikmati Beef bourguignon pesanannya.


''Aku kira sejenis kentang goreng, kok ginian yang datang?'' penuh penyesalan karena tak sesuai ekspektasinya.


Alan tersenyum.


''Makanan yang kamu pesan, bukan kripik kentang atau kentang goreng, tapi itu.'' menyungutkan ke arah olahan makanan panekuk tipis yang terbuat dari gandum dengan bahan utama terigu, telur, susu mentega dan garam.


Terpaksa Dinda memakannya dari pada mubadzir, dan sesekali Alan juga menyuapinya dengan olahan sup daging sapi miliknya.


Setelah puas menikmati hidangan di lantai dua, Kini Alan dan Dinda melanjutkan petualanagnnay ke lantai tiga, di pegangnya dengan erat tangan Dinda saat keduanya di dalam lift, dan itu kembali membuat hati Dinda terusik.


Kenapa aku nggak pernah lihat Dokter Tono menelpon istrinya, apa dia nggak pernah rindu, dan perasaan selama dia merawatku di rumah sakit, dia juga seharian penuh, kapan dia berduaan dengan istrinya.


Meskipun mulai curiga, Dinda tak mau mengambil kesimpulan dan masih menganggap kalau Dokter Tono adalah orang baik yang merawatnya dengan penuh kesabaran.

__ADS_1


__ADS_2