
Bukan hanya Alan yang kacau akibat perdebatannya tadi pagi, faktanya Syntia pun lebih kacau, bahkan wanita itu bingung mencari cara untuk menjauh dari Rey, tapi sebuah harapan tak bisa di putus begitu saja, tak semudah membalikkan telapak tangan untuk memutus hubungan, Rey yang terlanjur berharap itu tak mau tiba tiba saja mendapat kata putus dari Syntia.
"Nggak, itulah pernyataan Rey saat Syntia bilang kata putus.
Wanita itu seakan frustrasi dan tak tau harus berbuat apa lagi, yang pastinya ia pusing tujuh keliling.
"Oke, kalau gitu kita jangan ketemuan untuk sementara, kalau bisa kamu pergi dulu, oke," pinta Syntia menangkupkan kedua tangannya memohon dengan sangat pada kekasih gelapnya itu.
Rey menyunggingkan bibirnya, "Asalkan kamu janji kalau kamu akan tetap bercerai dari Alan dan akan menikah denganku." balas meminta, tak banyak waktu untuk berfikir, akhirnya Syntia memilih untuk mengangguk.
Karena kesepakatan sudah di setujui, Rey langsung saja pergi membawa harapan dan sebuah penantian dari Syntia.
Untung saja pria itu cepat tanggap, jadi tak sampai orang suruhan Alan datang Rey sudah tak nampak. Meskipun sudah mengetahui jati diri Rey, pasalnya mereka tak punya bukti kalau pria itu selingkuhan Syntia.
"Hai Jen, kamu lama amat sih?" keduanya berpelukan dan cium pipi, semua itu pun tak luput dari pandangan laki laki berbaju dan memakai kaca mata hitam yang juga baru datang.
"Ada perlu tadi, sedikit," keduanya duduk dan berbincang, seperti yang di alami saat ini, Syntia memilih untuk curhat tentang pertengkarannya tadi pagi, karena tak mau di dengar orang lain, kini Jenita menarik kursi hingga keduanya tak ada jarak.
"Makanya jangan ceroboh, tutur Jenita, sahabat setianya itupun pasti akan kasihan jika Syntia salah jalur yang akan menghancurkan hidupnya yang sudah berada di atas awan.
''Aku sudah suruh dia pergi tadi.'' kata Syntia mengaduk jus yang masih setengah gelas hingga wanita itu kini meneguknya habis karena tengorokannya yang begitu kering.
''Ya sudah, kalau begitu kamu harus ganti kartu kamu sebelum Alan makin curiga, atau bilang sama Rey untuk tidak menghubungi kamu lagi.'' bisik keduanya.
Syntia yang mengerti itu pun mengangguk pelan.
Setelah memata matai seharian penuh, pria yang berbaju hitam itu pun kini memberi laporan pada Alan yang sudah siap menunggu di rumah, bahkan Alan tak bisa memejamkan matanya sebelum Ia mendapat kabar tentang pria yang bernama Rey.
Dengan tajam, Alan membaca data Rey yang ternyata pengusaha WO itu, dan memang pria itu ternyata lajang.
''Apa kamu yakin kalau Syntia tidak ada hubungan khusus dengan laki laki ini.'' melempar foto dan mapnya di meja, tatapannya masih menyelidik, belum sepenuhnya percaya dengan pernyataan pria di depannya tersebut.
''Yakin pak, mereka hanya sebatas teman, tidak lebih, memang mereka sering bersama karena Ibu kini juga mulai membuka bisnis WO bersama Rey.'' jelasnya.
__ADS_1
Setelah mendapat keterangan yang entah benar atau tidak, Alan mengusir Pria itu hanya dengan kode jarinya.
Aku memang belum tau mana yang benar dan mana yang salah, tapi bangkai akan tetap tercium, dan jika terbukti kamu ada hubungan dengan pria itu, aku tidak akan memaafkan kamu.
Alan memilih untuk membaringkan tubuhnya dan menatap langit langit kamarnya.
Suara mobil berdecit di depan rumah, dengan cepat Alan keluar dari kamarnya karena dia yakin kalau itu adalah mobil Syntia, Alan memilih pindah ke kamar Dinda dan kembali menghempaskan tubuhnya di sana.
Alan menghirup dalam dalam aroma kamar itu, parfum yang khas gadis yang di nikahinya berapa bulan yang lalu itu seperti melekat dengan gorden yang serba pink dan spray yang bermotif bunga.
Apa semua cewek suka yang beginian.
Menjewer spray yang di tempatinya sekarang, baginya nggak banget seorang Alan tidur di ranjang itu, kayak banci saja.
Tapi aku harus tidur di mana, nggak mungkin aku di kamar berdua dengan Syntia, aku lagi nggak mood lihat wajahnya.
Terpaksa Alan memejamkan matanya dan melupakan gambar bunga yang kini bersentuhan dengan tubuhnya demi menghindari istrinya.
Apakah cinta alan mulai surut?
Dan apakah Nama Dinda mulai terdaftar dan mengendap masuk?
Entahlah Alan belum bisa mengartikan perasaannya saat ini yang bercampur aduk.
Sedangkan di kamar sebelah, Syntia hanya mendesis kesal saat mendapati kamarnya itu kosong, bahkan wanita itu melempar tasnya ke sembarang arah.
Ia tau kalau kamar kosong pasti Alan marah, seperti yang sudah sudah jika mereka berantem, namun Syntia tetap tenang, karena ujung ujungnya mereka pasti baikan, itulah keyakinannya.
Syntia langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya dan berganti baju, biasa memakai pakaian yang kurang bahan dan menerawang untuk merayu suaminya.
Aku yakin dengan memakai baju ini kamu pasti luluh.
Menatap penampilannya dari pantulan cermin lalu keluar menghampiri kamar Dinda.
__ADS_1
''Mas, panggilnya sembari mengetuk pintu.
''Masuk!" jawab Alan datar.
Syntia membuka pintu kamar itu dan menguncinya, menatap Alan yang sedang meringkuk di balik selimut.
"Kita pindah yuk, mas!" merangkul tubuh Alan dari belakang.
Alan diam dan membuka matanya karena terusik, namun masih tetap memunggungi istrinya.
"Kamu dari mana saja?" tanya Alan masih dengan nada ketus.
"Dari cafe sama Jenita." jawabnya.
Berarti benar apa yang di katakan Ramon, itu artinya Syntia tidak bohong, tapi kenapa aku masih curiga dengan pria itu.
"Aku minta maaf ya, untuk yang tadi pagi." mencium punggung Alan yang berbalut piyama, tak seperti biasanya, Alan yang selalu membalas kemesraan Syntia, kali ini laki laki itu masih diam dan tak niat sedikit pun untuk memutar tubuhnya menghadap Syntia.
"Kamu tidur duluan saja, nanti aku susul." ucap Alan lagi.
"Nggak, aku maunya sama kamu." merengek seraya menggoyang goyangkan lengan Alan.
Alan yang benar benar merasa terganggu itu terpaksa bangun.
"Iya, kita pindah." mungkin hanya dengan begitu Syntia akan merasa lega.
Dengan sigap Syntia mencium bibir Alan, dan kali ini pertahanan tembok Alan benar benar kuat dan kokoh, sedikit pun pria itu tak membalas ciuman panas dari istrinya.
"Sudah puas, sekarang kita tidur!" ucap Alan saat Syntia melepaskan ciumannya, sedangkan Alan langsung menyibak selimut dan meninggalkan Syntia yang masih mendengus kesal di sana.
Sampai kapan kamu cuwekin aku mas, aku tidak akan membiarkanmu seperti ini terus, dan aku akan tetap ada di hatimu untuk selamanya, tidak ada wanita lain yang akan menggantikan posisiku di sisimu.
Dengan hati jengkel Syntia mengikuti Alan untuk ke kamarnya.
__ADS_1
Tak ada adegan ranjang, dan tak ada adegan mesra karena Alan benar benar capek pikiran dan tenaga, dan ia pun memilih untuk berlari dari kenyataan sejenak.