
Kebersamaan yang tak singkat membuat Dinda terus mengorek isi hati dokter Tono, hampir lima jam mereka bersama, saling bercanda tawa dan mengingat masa di Paris yang penuh kebahagiaan, Dinda terus saja mengajukan pertanyaan yang menyangkut kesibukan, hobi dan makanan kesukaan Dokter Tono, tak lupa Dinda juga menanyakan tentang keluarga Dokter Tono yang tidak boleh di temuinya.
Keduanya saling pandang, menatap indahnya manik mata lawan, tak ubahnya sang kekasih yang sedang jatuh cinta, pancaran bening itu membuat Dokter Tono tak bisa mengelak lagi kalau wanita di depannya itu benar benar membuat dirinya jatuh cinta.
''Dokter kenapa?'' tanya Dinda tiba tiba membuyarkan pikirannya yang jauh melayang.
Dokter Tono yang terlihat gugup hanya menerbitkan senyum lalu mengalihkan pandangannya.
''Enggak.'' Jawabnya menilik jam yang melingkar di tangannya, bingung, hari sudah mulai sore namun ia masih ingin bersama wanita di depannya.
''Dokter nggak pulang?'' tanya Dinda mengingat rumah Dokter Tono yang amat jauh takut kemalaman.
Tak sengaja Dinda menyenggol tangan Dokter Tono yang hendak mengambil minuman di meja.
''Maaf,'' ucapnya mencoba menarik bajunya yang nyangkut di sela sela jari manis sang Dokter.
Sulit, bahkan Dinda mencoba untuk menarik bajunya malah membuat Dokter Tono meringis, terpaksa Dinda melepasnya dengan pelan.
Cincin ini.
Dinda terbelalak menatap arah Dokter Tono yang saat ini hanya tersenyum seraya menunggu cincinnya bisa terlepas dari baju Dinda.
Dengan telaten dan serius, akhirnya Dinda kembali melepas cincin itu dari bajunya.
Masih banyak tanda tanya bagi Dinda untuk dokter di depannya itu, namun Dinda mencari cara untuk tempat yang pas.
"Dokter tunggu sebentar ya, aku ke kamar dulu!" pamitnya.
Setelah punggung Dinda menghilang, Faisal yang dari tadi sibuk menyempatkan untuk menghampiri adik iparnya.
"Mobil siapa di depan?" tanya Faisal berbisik, tak mau penyamaran Alan terbongkar gara gara dirinya.
"Mobil aku." Jawabnya, "Abang mau pakai?"
Faisal menggeleng, hanya heran saja, itu mobil kayaknya juga baru pertama kali melintas di penglihatan Faisal, dan Alan memang sengaja menyuruh pak Tedi untuk mengantarkan mobil itu ke kampung.
__ADS_1
"Kamu ganti di mana tadi, dan kumis ini?" menarik ujung rambut palsu Alan. "Dapat dari mana?"
Alan tertawa karena ia merasa saat ini sudah menang dan tak perlu bantuan Daka lagi.
"Aku sudah persiapkan semuanya, jadi aku tidak perlu memanggil Dokter lapuk itu saat menyamar." cecarnya dengan bangga hasil malih rupanya yang dengan kilat karena hanya di lakukan di mobil tadi.
Aaaaa..... Suara jerit Dinda dari kamar membuat keduanya menoleh, Alan yang terkejut sontak melompat dari sofa menuju kamar istrinya.
''Ada apa?'' tanya Alan yang datang pertama kali, sedangkan yang lain menyusul dari belakang, termasuk BuTatik dan pak Yanto.
Tak menjawab Dinda memeluk Dokter Tono dan mencengkeram bajunya membenamkan wajahnya, sembari menunjuk di bawah kolong ranjang.
''Apa sih, dek?'' tanya Faisal ikut bingung melihat ketakutan adiknya.
Gimana caranya aku nyuruh yang lain keluar.
Dinda mencubit lengan Faisal yang masih mematung di sampingnya
Pria itu mengangkat kedua bahunya masih nggak ngerti dengan maksud Dinda.
Faisal mendaratkan jarinya di bibir memberi isyarat pada bapak dan Ibunya untuk tidak bersuara, lalu mereka mengendap endap keluar dari kamar Dinda, untung dari tadi Faisal dan yang lain berdiri di belakang Dokter Tono, jadi pria yang sedang menyamar itu tak mengetahui kalau semuanya sudah pada pergi.
''Kamu kenapa?'' tanya Dokter Tono khawatir.
''Aku takut.'' Jawab Dinda manja, mengendurkan pelukannya lalu menatap wajah Dokter Tono dengan lekat.
''Takut apa, kan disini ada aku.'' Jawab Dokter Tono mengelus pucuk kepala Dinda.
Dokter Tono membawa Dinda untuk duduk di tepi ranjangnya dan menenangkan wanita itu.
"Sekarang katakan, apa yang membuat kamu takut!" Dokter Tono ikut duduk di samping Dinda.
Seketika wanita itu menarik jenggot palsu Alan dengan paksa, hingga membuat sang empu terbelalak.
"Mau sampai kapan kakak menyamar menjadi dokter Tono?" cetusnya.
__ADS_1
Alan menelan ludahnya dengan susah payah, takut kalau Dinda akan marah dengan dirinya yang sudah membohonginya selama ini.
"A... aku minta maaf, bukan,_ ucap Alan menggantung saat Dinda kembali menarik kumisnya.
"Jelek tau kalau jadi dokter Tono, kayak tukang Bakso di depan." cicitnya.
Enak saja, masa iya tampan begini di samain dengan tukang bakso. batin Alan jengkel.
Alan menoleh dan mencium pipi Dinda.
"Tapi dengan begini aku bisa melihatmu setiap saat, aku bisa memelukmu di saat kamu sakit, aku bisa menemani kemana saja yang kamu mau, dan aku bisa menjaga kamu setiap waktu, aku bisa menjadi sandaran di saat kamu butuh pundak, aku menjadi super hero kamu, tidak seperti Alan yang hanya bisa membuat kamu menangis dan merenggut kebahagiaan kamu, jika menjadi dokter Tono aku bisa membuat kamu tersenyum dan bahagia, kenapa tidak." Jelasnya lagi, karena itulah maksud dari Alan menyamar selama ini.
"Tapi aku nggak suka," Dinda mulai menitihkan air mata.
Alan membawa Dinda ke dalam dekapannya, tak tega jika wanita itu kembali bersedih.
''Kenapa? bukankah dokter Tono yang mengajakmu ke Paris, bukankah dia yang sudah menyembuhkan kamu dari keterpurukan, dan dia yang menjadikan kamu seperti ini. Tapi apa yang di lakukan Alan, dia hanya bisa membuat kamu kecewa dan membiarkan kamu di rumah saat dia sedang berlibur di tempat yang kamu idam idamkan, aku memang suami yang tidak layak untuk kamu, tapi setidaknya, aku bisa membuat tersenyum lagi saat menjadi orang lain.'' ucap Alan panjang lebar.
Dinda makin sesenggukan mendengar ucapan Alan, tak menyangka orang yang dia sanjung adalah orang yang di bencinya dulu, Dan Dinda tak mengira kalau orang yang di ajak curhat adalah orang yang ingin di jauhinya. Bahkan orang yang menyuruh melupakan suaminya adalah gerangan itu sendiri.
Alan menyeka air mata Dinda yang membasahi pipinya.
''Maafkan kesalahanku tadi pagi, aku hanya nggak mau kalau ada laki laki lain yang menyukai kamu, aku takut, kamu akan meninggalkan aku dan memilih pria yang lebih baik dariku.'' berkali kali alan mengecup kening Dinda yang masih sesenggukan di pelukannya.
''Tapi kenapa tadi kamu pergi dari rumah?'' rengek Dinda.
''Karena aku memang ingin jadi Dokter Tono untuk menjenguk kamu, tapi tak taunya, pasien aku ini malah jadi detektif, dari mana juga kamu tau kalau aku suami kamu?''
''Banyak hal yang mungkin kakak tidak tau, tapi semenjak Dokter Tono datang, dan setiap dia di dekatku aku selalu mengingat kakak, dan dari situlah aku mulai curiga, tapi dokter Tono selalu meyakinkan aku untuk melupakan kak Alan, dan aku berusaha itu, tapi, _ Dinda mengangkat tangan Alan. ''Cincin ini adalah cincin yang semalam kita pakai bersama, jadi aku masih ingat betul, dan dokter Tono lupa melepasnya saat menyamar.''
''Kenapa waktu itu kamu nggak tau?'' tanya Alan lagi karena ini bukan pertama kalinya Dinda melihat cincin Alan.
''Karena dulu Kakak nggak pernah dekat denganku, jadi aku nggak tau apa apa tentang diri kakak, termasuk cincin kawin.''
Aku memang bodoh sudah mengabaikan kamu, tapi sekarang nggak lagi, kamu akan menjadi satu satunya milik aku, setelah kita kembali nanti aku akan bawa bukti bukti perselingkuhan Syntia dan akan menceraikannya.
__ADS_1