Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Gagal menikah


__ADS_3

Perjalanan tiga jam bukan waktu yang sebentar, namun itu bagaikan kilat bagi Faisal yang tak ingin menyaksikan sebuah acara sakral sang kekasih dengan orang lain, Bahkan Faisal hanya bisa menatap dari jauh ruangan yang sudah tertata rapi yang di penuhi tamu undangan.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.50 pagi, itu artinya sepuluh menit lagi akad nikah akan di mulai, namun langkah kaki Faisal semakin berat ketika memasuki ballrom, Akhirnya pria itu memilih untuk berhenti diluar ruangan.


''Aku mau disini sama abang.'' Ucap Dinda menghentikan langkah Alan yang dari tadi menggandengnya.


Begitu juga dengan Daka, setia kawannya lebih besar dari pada menikmati pesta yang meriah.


''Kalau gitu, kamu disini saja, jangan kemana mana, aku cari mama dulu ya, nanti aku balik.'' mencium kening Dinda sebelum meninggalkannya ke dalam.


''Yang sabar.'' berkali kali hanya itu yang bisa di ucapkan Daka untuk Faisal, karena Daka pun tau bagaimana keduanya menjalin hubungan dengan penuh cinta dan tiba tiba saja harus putus di tengah jalan.


Setelah membelah para tamu, kini Alan tersenyum lebar saat mendapati kedua orang tuanya yang menjadi salah satu tamu VIP. Dengan segera Alan menghampirinya.


''Mama...'' panggilnya dari belakang.


Bu Yanti dan pak Heru langsung menoleh, meskipun suara Alan terdengar samar samar setidaknya masih bisa meyakinkan kalau itu suara putranya.


Bukan hanya Bu Yanti, Amel yang juga hampir duduk ikut menoleh menatap sahabat dari kekasihnya itu.


Itu Alan, berarti mas Faisal juga sudah datang.


Seketika Amel menyeka air matanya dan berharap Alan bisa menyelamatkan dirinya dari pernikahan yang tak di inginkannya.


Bu Yanti langsung saja menghampiri Alan menagih janji nya yang akan membawa menantunya pulang.


''Mana Dinda?'' tanya nya serius saat tak melihat Dinda di sisi Alan.


''Di luar, mendingan mama temani dia, sekarang aku harus bantu bang Faisal.'' ucapnya sedikit berbisik sembari celingak celinguk takut ada yang dengar.


''Kamu mau ngapain?'' tanya Bu Yanti yang tak mengerti dengan maksud Alan.


"Mama tenang saja, mama nggak mau kan kalau bang Faisal menderita, mendingan mama temani Dinda sekarang!"


Bu Yanti mengangguk dan keluar, sedangkan Alan memilih untuk duduk di samping pak Heru, tepat di belakang tempat duduk sang pengantin.


"Gimana kabar kamu dan Dinda?" tanya Pak Heru.


"Baik pa, nanti kita obrolin di rumah saja."

__ADS_1


Tak seperti suasana di dalam yang begitu tegang, di luar Dinda dan Bu Yanti saling melepas rindu, keduanya saling peluk dan menangis.


"Akhirnya kamu pulang juga." ucap Bu Yanti yang tak ingin melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Dinda yang masih merengkuh erat tubuh mertuanya.


Faisal dan Daka hanya bisa tersenyum melihat adegan romantis antara menantu dan mertua di depannya, Bu Yanti seakan pamer di depan semua orang menunjukkan kalau Dinda lah menantu yang sesungguhnya.


Bukan hanya kedua pria itu dari kejauhan Syntia pun menyaksikan pelukan itu, namun bukan kehadiran Dinda yang ia cari, melainkan suaminya yang sudah berminggu minggu meninggalkannya tanpa kabar.


Aku yakin mas Alan juga ada di sini.


Tak peduli dengan mertua dan madunya, Syntia yang tadinya bercakap dengan teman sosialitanya itu pun masuk untuk mencari Alan.


Tak lama wajah familiar yang ia rindukan sudah nampak di depan mata, dan itu membuat Syntia tersenyum bahagia.


"Mas," memegang lengan Alan.


Alan menoleh dengan wajah datarnya.


"Maaf, kita bisa bicara nanti, aku ada urusan.'' menepis tangan Syntia.


Segitunya kamu sama aku mas, aku pastikan kamu tidak akan meninggalkanku lagi.


Pengantin pria sudah datang begitu pun penghulu yang sudah siap untuk menjalankan tugasnya.


Alan hanya mengetik ponselnya tanpa menyapa siapapun yang ada di tempat, baginya tak ada yang penting selain Faisal saat ini.


"Sudah siap?" suara pak penghulu sembari menjabat tangan pengantin pria. Semua tamu yang datang ikut hening menyaksikan momen momen untuk sang mempelai meng sahkan pasangannya tak terutama Faisal yang dengan jelas mendengarnya.


Setelah ini kita tidak akan bisa seperti dulu lagi, Mel, semoga kamu bahagia. gumam Faisal.


"Saya nikahkan, _ tiba tiba saja suara itu menggantung dan berganti suara gemuruh dari ruang akad nikah, para tamu yang berdatangan ikut panik kecuali Alan, begitu juga dengan Dinda dan Faisal yang ingin tau keadaan di dalam.


"Mbak, ada apa di dalam, kenapa berhenti?" tanya Faisal antusias.


"Pengantin perempuannya pingsan mas, jadi nggak di lanjutkan." jawab salah satu tamu yang melintas.


Seketika Faisal berlari menuju ruangan yang tadinya tak ingin di injaknya, dengan langkah lebar Faisal membelah kerumunan mendekati Amel yang ada di pangkuan adik iparnya.


"Mel, bangun!" suara bu Yola terisak seraya menepuk nepuk pipi putrinya, begitu juga dengan pak Samuel yang ada di dekat kaki Amel.

__ADS_1


"Kenapa dengan Amel, Al?" tanya Faisal.


Tak menjawab Alan hanya mengedipkan satu matanya.


''Bang berat, gantian dong, aku mau cari Dinda." alasan


Tak perlu banyak tanya Kini Faisal menggantikan posisi Alan memangku kepala Amel, otaknya makin traveling dengan kode dari Alan, namun wajahnya masih panik melihat wanita yang di cintainya tak sadarkan diri.


''Maaf Om, tante, kayaknya kita harus bawa ke kamar dulu.''


Tanpa menunggu persetujuan dari Pak Samuel dan Bu Yola, Faisal mengangkat tubuh Amel menuju kamar hotel.


Tiba di dalam lift, ''Aku berat ya?'' tiba tiba suara bisikan itu membuat Faisal menunduk menatap wajah dengan bibir yang cengengesan.


Untung mereka cuma berdua meninggalkan Om samuel dan istrinya jadi Amel bisa leluasa untuk membuka matanya.


''Jadi, kamu.''


''Tau gini aku jatuhin, berat tau,'' mengecup kening Amel tanpa menurunkannya.


Amel memejamkan matanya kembali saat pintu lift sudah terbuka, dengan langkah terseyok seyok Alan masuk ke sebuah kamar mewah sang pengantin.


''Gimana, Sal, apa Amel belum sadar?'' tanya Bu Yola saat baru datang. Wanita itu terus menangis melihat kondisi putrinya yang masih memejamkan matanya.


Faisal menggeleng, meskipun ikut prihatin dengan keadaan Pak Samuel dan Bu Yola yang di bohongi Amel, setidaknya pria itu mengikuti sandiwara entah siapa yang merencanakannya.


Bukan hanya keluarga Amel, keluarga pengantin pria pun ada di sana memenuhi kamar pengantin. Mereka juga terlihat kebingungan dengan kondisi Amel yang di luar dugaan.


''Mas Faisal,'' ucap Amel dengan mata terpejam, meskipun hanya sandiwara setidaknya Amel bisa mengikuti gaya lemah khas orang merancau.


Semua melongo termasuk calon pengantin dan keluarganya, tak menyangka Amel memanggil nama laki laki lain.


''Siapa Faisal?'' tanya salah satu kerabat pengantin pria.


Perlahan Amel membuka matanya dan menoleh menatap semua mata yang juga tertuju padanya.


''Ini mas Faisal, dia adalah pacarku,'' meraih tangan Faisal yang masih mematung di sampingnya.


''Jadi pernikahan ini nggak akan terjadi kecuali aku menikah dengan mas Faisal.'' tegasnya lagi.

__ADS_1


Daka yang berada di ambang pintu hanya tersenyum tipis, akting yang luar biasa ide dari sang sahabat yang saat ini kenikmati makanan di bawah bersama dengan Dinda, istrinya.


__ADS_2