
...Happy reading 📖...
...****************...
Pagi-pagi sekali bahkan matahari belum menampakkan cahayanya, Alina sudah siap dengan jubah merah panjangnya serta tudung yang menutup kepala dan topeng yang menutupi separuh wajahnya, rencananya Alina ingin pergi ke pasar secara diam-diam untuk menghindari putra mahkota yang kemungkinan besar akan menemuinya nanti.
"Nona benar-benar akan keluar?" tanya Neo melihat Alina yang sibuk menyelipkan sebuah pisau lipat di balik jubah merahnya.
"Tentu saja, Yuri tengah sakit, perdana menteri bilang aku boleh kemana pun karena para pelayan dan prajuritnya akan menyelidiki paviliun anggrek ini jadi daripada aku bertemu putra mahkota itu lebih baik aku pergi ke pasar dan melihat acara lelang setiap tiga tahun sekali itu," jawab Alina.
"Nona memiliki cincin ruang, lalu mengapa nona menyelipkan pisau lipat itu dipinggang nona?" tanya Neo heran.
"Hehehe aku baru ingat, tapi bagaimana kalau ada yang tahu aku memiliki cincin ruang tingkat legendaris?"
"Tingkatan cincin ruang legendaris hanya akan dirasakan oleh pemiliknya, dan ciri fisiknya pun hanya bisa dilihat oleh pemiliknya, orang lain hanya bisa merasakan kalau cincin milik nona hanyalah cincin ruang tingkat tengah biasa."
"Aku baru tau... Ayo cepat, sebelum putra mahkota datang kesini, kemarin malam putra mahkota bilang akan menemui ku hari ini, oh ya jangan lupa topengmu," ucap Alina menarik tangan Neo.
__ADS_1
"Tunggu nona tunggu, apa nona dekat dengan yang namanya putra mahkota itu? Lalu kapan putra mahkota itu bilang akan menemui nona? Dan bagaimana juga nona tahu kalau nona akan pindah paviliun?"tanya Neo beruntun.
"Huh,cerita sambil jalan saja, ayo cepat! dan pasang dulu topeng mu itu Neo!"
Dalam sekali lompat Alina sudah berhasil berdiri pada dahan pohon apel yang dekat dengan jendela kamarnya, kemudian melompat lagi ke atas dinding dan mendarat sempurna di atas tanah di bagian luar paviliun anggrek sekaligus bagian luar kediaman perdana menteri.
"Mengapa nona harus melompat-lompat, bukanya nona bisa menggunakan teleportasi?" tanya Neo yang baru muncul di samping Alina setelah berteleportasi.
"Hanya ingin lompat," jawab Alina acuh berjalan mendahului Neo dan mulai bercerita tentang kejadian kemarin malam.
Flashback
Alina memandangi bulan purnama yang bersinar terang, ia selalu berandai-andai jika saja ia masih hidup di dunianya dulu, maka Alina akan membalas semua perlakuan hina Rina karena Alina benci dengan hal yang paling hina yaitu penghianatan.
"Kau sedih karena adikmu akan bertunangan dengan Mark?" tanya putra mahkota yang tiba-tiba berada di samping Alina.
"Eh, tidak putra mahkota, justru saya sangat bahagia karena perjodohan saya yang lalu itu di batalkan, "jawab Alina terkejut dan refleks menoleh ke arah putra mahkota.
__ADS_1
"Emm benarkah? Ku dengar kau cinta mati pada putra Jenderal Utara itu," tanya putra mahkota sedikit ragu.
"Saya bahagia karena adik saya bisa bertunangan, dan mungkin akan segera menikah dengan orang yang dicintainya, jika tentang rumor itu saya kira putra mahkota tak akan percaya.
Saya hanya akan mencintai orang yang benar-benar mencintai saya dan hanya memiliki satu wanita saja yang akan menghormati saya dan mengutamakan saya."
"Tuan muda Mark adalah putra dari Jenderal Utara pasti dia akan mengangkat banyak sekali selir dan saya tak menyukai itu, makanya saya bahagia saat perjodohan lalu itu batal," ucap Alina yang langsung menohok hati putra mahkota karena putra mahkota menginginkan Alina menjadi miliknya.
"Zaman sekarang semua laki-laki akan memiliki lebih dari satu wanita dan lebih dari satu istri, bahkan petani saja memiliki dua istri atau lebih, kau tidak akan mendapatkan laki-laki yang hanya memiliki satu wanita tapi kau bisa menjadi satu-satunya wanita dalam hatinya, " ucap putra mahkota berusaha meruntuhkan kriteria suami idaman Alina.
"Jika tidak dapat maka saya tidak akan pernah menikah.
Saya tidak suka berbagi apa yang sudah menjadi milik saya termasuk suami saya kelak," ucap Alina.
"Hari sudah larut lebih baik putra mahkota istirahat....saya permisi," lanjut Alina berbalik berjalan dengan anggunnya meninggalkan putra mahkota yang melamun entah memikirkan apa.
"Satu yang ku tahu, wanita itu sama saja, sama-sama munafik, kita lihat dalam waktu dekat ini kau akan jatuh dalam pelukan ku nona Alina, " ucap putra mahkota yang masih bisa didengar Alina meski samar karena pendengaran Alina itu sangat tajam dan cukup sensitif.
__ADS_1
"Sampai jumpa esok pagi selirku....."
Flashback end.