
Setelah memindahkan Willy ke ruang Tara, Alina kembali melanjutkan perjalanannya mencari hutan misteri dan mendapatkan permata merah delima agar elemen waktunya bisa dibangkitkan.
Alina benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi di masa lalunya. Neo dan Dreko selalu mengungkit masa lalunya tentang harta dan tahta, oh ya dan selalu mengingatkan Alina untuk tidak pernah mengenal apalagi merasakan apa itu mencintai dan mengharapkan seseorang.
"Huh dimana sebenarnya hutan misteri itu? Sudah berkilo-kilo meter aku berjalan tapi tidak juga menemukannya."
"Tau gini seharusnya aku tadi terus membawa Willy saja, meskipun Willy berisik dan tidak bisa diam tapi masih memiliki manfaat untuk menunjukkan jalan. Sekarang aku tidak tau dimana keberadaan ku, harus jalan ke kanan, kiri, lurus, atau kembali."
"ARRGGGHHH,,WILLY, BUNDA MEMERLUKAN MU!!! " teriak Alina frustasi.
"Sabar Alina sabar. Putra mu itu tengah istirahat jadi jangan mengganggunya, lebih baik kau berjalan saja daripada terus mengeluh seperti ini," gumam Alina menasihati dirinya sendiri.
Srek
Sreekkk
Srekk
__ADS_1
Srekk
Bersamaan dengan bunyi gesekan ranting, Alina merasakan aura yang mengancam tengah mengintainya, dengan waspada Alina menatap sekitarnya namun Alina tidak melihat hal yang janggal, akan tetapi aura asing yang mengancam itu terasa semakin jelas dan dekat.
"HAHAHAHA, ZIA AKHIRNYA AKU BISA BERHADAPAN DENGAN MU LAGI SETELAH RIBUAN TAHUN AKU MENANTIMU," suara seorang wanita menggema di udara.
Dari arah belakang sebuah bayangan merah menuju ke arah Alina dan dengan mudahnya Alina dapat menghindari bayangan itu. Bayangan merah itu terus melayang mengelilingi Alina kemudian berhenti tepat lima langkah di depan Alina, berubah menjadi sesosok gadis berbaju merah darah dengan smrik nya menatap Alina remeh.
"Zia aku menemukan mu," ucapnya dengan nada lembutnya yang mengerikan.
"Apa kau berbicara dengan ku, nona? Tapi maaf namaku bukan Zia," ucap Alina berusaha sesopan mungkin.
"Berhentilah membual untuk bisa selamat dari ku Zia, aku akan tetap membunuh mu tidak perduli siapa namamu di kehidupan mu kali ini."
"Hei tunggu-tunggu, kita bicarakan baik-baik dulu!" ucap Alina saat gadis itu langsung menyerangnya dengan bola-bola api.
"Sudah kubilang aku bukan Zia, namaku Alina, ALINA!" ucap Alina masih berusaha menyakinkan gadis itu kalau dia bukanlah orang yang di carinya.
__ADS_1
Menghiraukan ucapan Alina, gadis itu terus menyerang Alina menggunakan elemen tanah yang berupa serpihan tipis dengan ujung sangat runcing.
Dengan mudahnya Alina dapat menghindari serangan dari gadis bergaun merah itu, namun karena sedikit kurang fokus satu serpihan berhasil menggores lengan kiri Alina, lukanya memang tidak terlalu dalam tapi mengeluarkan darah cukup banyak sampai menetes di atas tanah.
Dejavu
Itu yang Alina rasakan.
Alina yakin dia pernah mengalami kejadian seperti ini tapi kapan dan dimana Alina tidak bisa mengingatnya.
Tak lama, tiba-tiba sebuah bayangan masa lalu melintas dan berputar secara berulang-ulang serta abstrak di pikiran Alina, membuat Alina merasakan sakit yang sangat teramat pada kepalanya.
"ZIA KAMU TELAH MENGAMBIL SEMUA YANG AKU INGINKAN. KAMU MENGAMBILNYA, KAMU MENGAMBIL KASIH SAYANG DAN PERHATIAN GURU DIR!! " teriak seorang gadis menatap marah ke arah gadis di depannya yang hanya diam.
Gadis yang dipanggil Zia memiliki rupa yang sama persis dengan Alina.
"KAMU JUGA TELAH MENGAMBIL CINTA KU, KAMU MENGAMBIL CINTA PUTRA MAHKOTA, SEHARUSNYA AKU YANG DICINTAI PUTRA MAHKOTA BUKAN KAU!!"
__ADS_1