
...Happy reading 📖...
...****************...
"YEEEY,akhirnya aku berhasil juga! Mengapa tidak sedari kemarin aku mencoba pecah raga,"teriak Alina asli.
"Berisik!" ucap kloning Alina menatap datar ke arah Alina.
Sebelumnya Alina membuat dinding elemen hingga tidak ada yang bisa mendengar segala hal yang diucapkan Alina, jadi mau berteriak sekeras mungkin tidak akan ada orang luar kamar yang dapat mendengarnya.
"Kau bisa berbicara sendiri? Kan seharusnya kau berbicara sesuai dengan perintah ku, " tanya Alina heran.
"Setiap kloning mu istimewa," ucap kloning Alina masih dengan wajah datarnya.
"Pergilah, aku akan menggantikan mu sebelum bibi Risa kembali,"ucap kloning Alina kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memakai selimut hingga batas dada.
"Sebenarnya yang kloning dia atau aku sih? Kenapa malah dia yang memberi perintah, kan harusnya aku, dia juga tahu rencana ku sebelum ku beri tahu, " gumam Alina bingung.
"Entahlah,lebih baik aku segera pergi, "ucap Alina memasukkan kembali buku Demon&Angel nya ke dalam cincin ruang, kemudian Alina langsung berteleportasi ke ruang Tara.
"Sudah bebas dari keluarga posesif mu itu adik?" tanya Neo terkesan mengejek.
"Aku melakukan pecah raga,Kak, jadi aku bebas, tapi mengapa kloning ku seakan memiliki nyawa sendiri, dan kenapa dia tak bisa dikendalikan tapi malah dia yang mengatur ku?" tanya Alina kesal.
"Sudah kukatakan berkali-kali kau itu istimewa,Dik,kau berbeda, kloning mu juga istimewa, tapi kloningmu masih berada di bawah kendalimu jika kau pintar mengendalikan kloning yang sama liarnya dengan dirimu itu," jawab Neo yang bagian akhirnya dilanjutkan dalam hati.
"Terserahlah,Kak, aku akan pergi ke ruang pembuatan ramuan," ucap Alina berlalu meninggalkan Neo.
Sampainya di ruang pembuatan ramuan, Alina mulai memilih daun-daun kering dan beberapa akar tanaman langka, kemudian memasukkannya dalam lumpang batu yang khusus digunakan untuk menumbuk tanaman serta rempah-rempah obat.
"Adik!"panggil Neo berjalan mendekat ke arah Alina yang tengah fokus memilah serta memilih rempah yang dibutuhkannya.
"Ada apa kak?"
"Apa yang sedang kau buat?"
"Hanya membuat sedikit ramuan yang akan menimbulkan kehebohan yang besar."
"Rencana pembalasan dendam?" tanya Neo setelah mencium aroma ramuan yang Alina buat.
"Hmm, tunggu saja kehebohan yang akan terjadi di 2 kediaman nanti," ucap Alina tersenyum misterius.
Setelah ramuannya siap, Alina berteleportasi ke kamar Delana yang berada di paviliun mawar emas.
••••
Di ruangan mawar emas (paviliun Delana)
"Tidurlah yang nyenyak,Dik, karena mungkin besok kau tidak akan bisa tidur dengan nyenyak lagi,pembalasan dendam seorang Alina sudah dimulai dan besok akan terjadi kehebohan yang sangat besar. Yang akan menurunkan nama baikmu serta nama baik keluarga mu itu," gumam Alina memperhatikan Delana yang tengah tertidur dengan pulas nya di atas ranjang tanpa menyadari keberadaan Alina.
__ADS_1
Sebelumnya Alina sudah menyamarkan aura tingkatan ilmu bela dirinya, jadi para prajurit atau pelayan yang menunggu bangunnya Delana dari luar kamar tidak akan menyadari keberadaan Alina.
Alina mengeluarkan botol kecil yang hanya seukuran jari telunjuk dari dalam cincin ruangnya kemudian segera menuangkan cairan ramuan buatannya ke dalam teko diatas nakas yang berisikan teh panas.
"Selamat meminumnya adikku tersayang," ucap Alina sebelum masuk kembali ke ruang Tara.
.
.
.
"Kak,"panggil Alina mendekat ke arah Neo yang tengah melamun di pinggir air terjun perak.
"Ah ya, sudah selesai?" tanya Neo tersadar dari lamunannya.
"Tinggal tunggu besok saja,Kak, " jawab Alina.
"Apa kakak ada masalah? Kakak bisa membagikan masalah kakak itu dengan ku, mungkin aku punya solusi," lanjut Alina.
"Pasti solusi yang menyesatkan," ucap Neo terkekeh.
"Solusiku tidak ada yang menyesatkan,Kak, mungkin hanya menyimpang sedikit dari jalan yang lurus,hehehehe,"jawab Alina ikut terkekeh.
"Kak, bolehkah aku meminta bantuanmu?"
"Bantu aku untuk mengawasi keluarga perdana menteri, karena pasti nyonya rubah dan anaknya itu tengah mempersiapkan siasat untuk membalas dendam padaku karena wajah badutnya itu hancur."
"Tentu saja, akan aku lakukan sekarang."
Setelah Neo menghilang, Alina berjalan menuju batu besar yang berada di pinggir sungai air terjun perak kemudian Alina tidur terlentang diatasnya mengamati awan-awan putih serta langit yang biru yang cerah.
"Bukanya dunia ini hanya dunia buatan yang terbentuk dari aliran sihir, lalu bagaimana bisa ada matahari, awan, dan langit serta ada bulan,ada siang dan malam?" gumam Alina
"Dasar kau Alina! Inikan sihir, ingat magic dan magic tidak akan bisa ditembus oleh logika, " lanjut Alina meruntuki pikirannya.
Setelah lama memandang langit,Alina merasa mengantuk bahkan sesekali Alina sudah menguap dan tak lama kemudian Alina sudah memasuki alam mimpinya.
"Tempat apa ini? Bukanya tadi aku sedang tertidur di ruang Tara,"batin Alina sambil memperhatikan tempat asing disekelilingnya.
Tempat asing itu berupa hutan yang sangat lebat dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi.
"Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak suka dengan tahtamu."
Mendengar suara seseorang,Alina melangkahkan kakinya mencari asal suara tersebut, dan suara itu berasal dari sepasang kekasih yang tengah berteduh di bawah pohon.
"Mengapa?" tanya pria berpakaian seorang raja sambil memeluk posesif pinggang wanita disampingnya yang berpakaian seperti seorang putri terhormat.
Alina tidak bisa melihat wajah keduanya karena posisi sepasang kekasih itu membelakangi Alina.
__ADS_1
"Kau seorang raja dan menurut tradisi,raja harus mengangkat selir,aku tidak suka berbagi apa yang kumiliki termasuk dirimu,"jawab sang wanita menyenderkan kepalanya di pundak sang pria.
"Bagus, wanita itu sepemikiran denganku yang tidak sudi untuk membagi apa yang telah dimiliki,"batin Alina.
"Aku akan mengundurkan diri.....,"ucap sang pria.
"Orang tuamu tidak akan setuju jika kau mengundurkan diri dari tahtamu, kau baru saja dinobatkan dan bagaimana bisa kau langsung mengundurkan diri begitu saja, "potong sang wanita.
"Apapun akan aku lakukan untuk bisa bersama mu, aku akan menentang seluruh dunia untuk bisa memilikimu, aku akan mengorbankan segalanya untuk mu."
"Heh, Kata-kata buaya," batin Alina memutar bola matanya malas.
"Tidak perlu, lebih baik kita akhiri cinta terlarang kita ini, kau sudah dijodohkan dengan salah satu putri dari Jenderal mu dan aku tidak akan bisa menjadi satu-satunya istrimu,"ucap sang wanita.
"Bisa, aku akan membatalkan perjodohan itu dan akan menikahimu lalu menjadikanmu ratuku dan satu-satunya istriku. Aku berjanji tidak akan mengangkat selir ," ucap sang pria berjongkok di depan sang wanita.
"Jangan percaya, mana ada buaya yang menepati janjinya," ucap Alina geram.
Entah mengapa Alina tidak suka dengan pria itu, Alina muak dengan janji serta kata manis yang terucap dari bibir pria itu, padahal Alina merasa tidak pernah bertemu dengannya tapi seakan-akan Alina sudah pernah mengenalnya.
"Semua pejabat istana akan menentangmu jika kau tidak mengangkat selir Al, semuanya bahkan kedua orang tuamu pun akan mendesakmu untuk mengangkat selir dan akibatnya tahtamu itu akan......"
"Tahta, Tahta, Tahta. Aku tidak menginginkan tahta ini, sayang, aku hanya menginginkan mu, " ucap sang pria membanting mahkota yang berada di atas kepalanya ke samping kanan sampai beberapa permata yang menghiasi mahkota itu lepas dan berceceran di atas rerumputan
"Al? Oh jadi nama prianya adalah Al,"batin Alina mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bicarakan dulu pada orang tuamu untuk menikahiku tanpa mengangkat satupun selir, "ucap sang wanita bangkit dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan sang pria yang berdiri menatap kepergiannya.
"Jika takdir tidak memihak cinta kita. Maka aku akan mengubah dan menetang takdir itu agar aku bisa selalu bersamamu dikehidupan sekarang dan dikehidupan selanjutnya karena ..."
"Kau hanya milikku, ratuku."
Deg
Tiba- tiba jantung Alina berdetak lebih cepat setelah mendengar kata- kata yang asing di telinganya dan kata- kata itu pun terasa terngiang-ngiang di gendang telinganya.
"Kata-kata itu..... seperti tidak asing," batin Alina.
Saat pria itu akan membalikkan badannya tiba-tiba Alina merasakan ada sesuatu yang menariknya dengan cepat dari arah belakang.
"Hah hah hah. Mimpi apa aku? Mengapa terasa sangat nyata, " gumam Alina setelah bangun dari tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Rasanya tenaga dalamku habis, tubuhku terasa sangat lemas,"lanjut Alina.
...****************...
Kira-kira kejadian apa yang dialami oleh Alina??
Kenapa ia bermimpi seperti itu? dan apakah itu hanyalah sekedar mimpi atau....?
__ADS_1