Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 57


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


Mendengar suara keributan, kelopak mata Alina yang tertutup itu perlahan bergerak kemudian terbuka dan memperlihatkan sepasang iris bewarna ungu cerah yang menakjubkan.


"Kalian sangat berisik!" ucap Alina yang sudah duduk menatap Neo dan Dreko tajam.


"Nona/Alina kau sudah sadar," ucap Neo dan Dreko bersamaan langsung berhenti berlarian.


"Kalian tidak mendengarnya, putraku menangis berikan dia padaku, cepat!" Ucap Alina mengulurkan kedua tangannya.


"Ah iya ini," ucap Neo gelagapan memberikan Willy pada Alina.


Alina menyalurkan tenaga dalamnya kepada Willy karena Willy adalah hewan kontrak legendaris dan diasuh oleh manusia jadi sumber kehidupan Willy bukan asi tapi tenaga dalam.


Tak lama tangisan Willy mereda, tangan kecilnya bermain-main dengan wajah Alina dan sesekali Alina membuat mimik wajah lucu yang membuat Willy tertawa.


"Kak Neo kenapa kau baru datang tadi? Harusnya kan kau bisa merasakan saat aku kesakitan dan aku beberapa kali juga sudah men-telepati mu tapi tak ada jawaban, " tanya Alina kesal.


"Mungkin saja dia malas datang,nona, apa nona belum tau kalau kutu burung menjijikkan ini adalah orang pemalas," ucap Dreko mendahului Neo yang akan membuka suara.


"Kau diam saja, adikku Alina bertanya padaku bukan pada cacing menjijikkan seperti mu," ucap Neo menatap tajam dan tak terima ke arah Dreko.


"Apa kau bilang? Cacing? Kau dasar kutu burung!"


"Kau cacing tanah menggelikan."


"Dasar kutu burung menjijikkan."


"DIAM!!!!"teriak Alina.


"Apa kalian tidak melihat putraku sudah kembali tertidur? Bagaimana kalau dia terbangun?" lanjut Alina menatap marah dua hewan kontrak yang adalah miliknya.


"Padahal dia berteriak,"batik Dreko dan Neo kompak.


"Adik, tadi kau bertanya kenapa aku tidak membalas telepatimu bukan? Itu karena akses telepati kita ditutup oleh Demonmu bahkan tadi benang kontrak antara kita dilemahkan oleh Demonmu dan membuatku tidak bisa merasakan sakit yang kau rasakan," ucap Neo sebelum Alina benar-benar marah.

__ADS_1


"Demon ku itu... menyusahkan,"gumam Alina.


"Dan kau? Siapa?" tanya Alina menatap Dreko.


"Kau tak mengenaliku,Nona? Aku Dreko, hewan kontrakmu," ucap Dreko tak percaya.


"Haa iyakah? Kapan aku mengontrakmu?" tanya Alina lagi masih belum paham.


"Hahahaha,kau dengar itu cacing? Alina adikku tidak mengenalimu dan tidak pernah mengontrakmu,hahahaha, cacing menggelikan," ucap Neo disertai tawanya.


"Ck ayolah nona aku hewan kontrak dari Demonmu, jadi karena Demon mu menyatu dengan mu otomatis aku sekarang menjadi hewan kontrak mu," ucap Dreko kesal.


"Emm nona bolehkah aku memanggil mu adik? Neo saja boleh, mengapa aku tidak?"


"Tidak boleh, hanya aku kakak Alina, tidak boleh ada yang lain," sela Neo.


"Kenapa kau selalu mencampuri urusanku?"


"Karena aku membencimu, dasar cacing menggelikan, menjijikkan, memuakkan."


"Kau...."


"Tap-tapi...."


"Kau tidak mendengarnya saudara ku? Adik manis kita perlu istirahat, jadi ayo kita tinggalkan adik dan keponakan kita ini," ucap Dreko menarik kerah baju Neo dan menyeretnya keluar dari kamar Alina.


"Aku tidak sudi menjadi saudaramu,"ucap Neo menepis kasar tangan Dreko.


"Kau pikir aku sudi?! Menjadi teman mu saja aku tidak sudi apalagi menjadi saudaramu."


.


.


.


Alina POV

__ADS_1


Sudah dua minggu aku berada di ruang Tara ini dan terus mencoba membangkitkan dan mengendalikan elemen waktuku tapi hasilnya tetap sama, aku tidak bisa menggunakan elemen waktu.


Aku juga belajar tentang sihir hitam dan putih serta cara pengendaliannya, jasilnya lumayan tapi bagi ku tak memuaskan karena aku masih sulit mengendalikan sihir putihku dan aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan sihir hitam.


Ah lebih tepatnya mungkin sihir hitamku belum bangkit, ya wajar saja karena sihir hitam berasal dari demon ku yang seutuhnya belum rela bersatu jiwa dengan ku. Jadi ku rasa aku perlu suatu energi ekstra untuk bisa membangkitkannya sekaligus membangkitkan elemen waktu.


"Kak Neo, kenapa iris mataku selalu berubah? Sebelum aku memiliki tenaga dalam iris mataku bewarna gold, setelah memiliki tenaga dalam iris mata ku bewarna biru, dan sekarang kenapa iris mata ku bewarna ungu?" tanya ku menatap bayanganku sendiri dari pinggir danau.


"Iris mata adalah tanda dari kekuatan mu dan sekarang ini iris mata bewarna ungu itu pertanda kekuatan utama mu yang telah menyatu, yaitu kekuatan Angel dan kekuatan Demon."


"Tapi kenapa tidak ada yang menanyakan perubahan iris mataku dulu di kediaman perdana menteri? Contohnya bibi Yuri, pelayan itu tidak menanyakan perubahan warna mataku padahal kan dia yang mengasuhku sejak aku kecil, tidak mungkin bukan jika dia tidak melihat perubahan warna iris mata ku yang awalnya bewarna gold kemudian berubah menjadi biru cerah. "


"Karena dulu hanya orang-orang tertentu yang melihat perubahan iris matamu itu, tapi sekarang semua orang bisa melihat iris mata mu yang bewarna ungu."


"Bunda, aku tidak suka dengan paman Dreko, dia nakal," ucap seorang anak kecil berlari ke arahku diikuti oleh Dreko yang juga berlari di belakang anak kecil itu.


Willy, dia Willy anak laki-laki termanis ku yang sejak seminggu lalu sudah berubah menjadi seorang balita berusia 5 tahun. Dengan tubuh gemuk dan pipi chubby nya terkadang aku gemas dan ingin ku mutil4si hidup-hidup tubuh gempalnya itu dan setelah itu ku lemparkan ke kolam ikan kesayangan ku, saat aku mengingat tingkah nakalnya yang selalu saja membuatku pusing sangat pusing.


"Memangnya apa yang sudah dilakukan pamanmu itu, Sayang?" tanya ku sambil mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi chubby nya.


"Pokoknya Willy mau sama bunda, Willy tidak suka paman Dreko ataupun paman Neo, mereka sama-sama cerewet dan suka bentak Willy," ucap Willy dengan tangisnya yang menambah kesan imut diwajahnya.


"Heh, acil kau mulai berbohong ya, Alina jangan percaya dengan ucapan acil ini. Aku tidak melarangnya berlari tapi aku melarangnya untuk memasuki ruang herbal mu," ucap kak Dreko.


Aku akan lebih pusing lagi mendengar pertengkaran mereka, ya mereka, kak Dreko, kak Neo, dan Willy yang bisanya dipanggil acil atau anak kecil oleh kedua pamannya itu.


"Kau menuduh pamanmu ini acil? Kapan pamanmu membentakmu ha? " tanya kak Neo mulai terpancing emosinya karena kata-kata Willy.


"Sudah? Jika belum lanjutkan pertengkaran kalian, aku ingin meneruskan membuat herbal lagi, jangan ada yang mengganguku," ucap ku mengabaikan mereka semua dan langsung berteleportasi ke ruangan yang khusus untuk membuat obat-obatan.


Aku sedang malas mendengar pertengkaran dan perdebatan mereka yang tidak pernah menemui kata damai itu.


Alina end


"Hahahaha, kasihan acil tidak dibela bundanya," ucap Dreko mengejek Willy.


"Bunda, bunda atu tidak cuka cama paman, bunda, huaaaa," ucap Neo ikit mengejek Willy dengan menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


"Hahahaha," tawa pecah Dreko dan Neo melihat Willy yang memasang wajah penuh kesal dan permusuhan kepada keduanya.


__ADS_2