Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 5


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah Alina sudah sibuk di kebun depan paviliunnya, menanam bunga-bunga indah yang sangat harum seorang diri.


"Bibi Yuri? Apa bibi akan ke pasar?" ucap Alina mengalihkan pandangannya ke arah Yuri yang membawa beberapa sayuran untuk di bawa ke pasar.


"Benar nona, nona bilang sayuran-sayuran di kebun sangat banyak dan tidak mampu kita konsumsi sendiri," jawab Yuri memasukkan sayuran dalam bakul.


"Tunggu sebentar bibi aku ikut," ucap Alina langsung berlari ke dalam paviliun.


Tak lama kemudian Alina kembali setelah berganti pakaian dan memakai cadar yang seiras dengan warna pakaiannya yaitu ungu dan memakai sarung tangan bewarna hitam.


"Apa nona yakin ingin ikut? Bagaimana jika semua orang melihat wajah cantik nona? Nona bisa dalam bahaya," ucap Yuri khawatir.


"Tak apa bibi, selama aku menggunakan cadar tidak akan ada yang bisa melihat wajahku, lebih baik sekarang kita pergi karena hari sudah menjelang siang, " ucap Alina membantu menata sayur dalam bakul.





"Wah-wah gadis ini sangat licik, menutup wajah buruk rupanya dengan cadar, hahahaha," ucap seorang gadis disertai tawa mengejeknya.


"Kau benar kak, percuma memakai cadar jika semua orang tau wajah buruk rupa mu itu, " sahut gadis yang di sampingnya.


Dua gadis itu adalah Devina Gerviel kakak tiri Alina, putri pertama dari nyonya utama. Sedangkan yang satunya adalah Delana Gerviel adik tiri Alina putri dari selir pertama.

__ADS_1


Pakaian ke dua gadis itu hampir sama dengan pakaian bewarna cerah, riasan sangat tebal, aksesoris yang berlimpah di kepala dan seluruh tubuhnya. Alina bahkan sempat meringis saat melihatnya.


'apa itu tidak berat ' pikir Alina.


"Apa yang ingin dilakukan kakak dan adik?"tanya Alina lembut.


"Aku tidak akan pernah sudi menjadi kakamu," ucap Devina.


"Aku pun tak sudi menjadi adikmu, "sahut Delana.


'Siapa juga yang sudi punya saudara badut seperti kalian,'Alina membatin sambil menunduk.


"Hahahaha,tapi aku punya hadiah untuk orang seperti mu......."ucap Devina menjeda kata-katanya seraya mengambil sebuah baskom di nampan yang di bawa pelayan pribadinya.


Saat jarak antara Alina dan Devina sekitar 4 meteran Alina menendang sebuah batu kecil yang cukup lancip ke arah kaki kanan Devina, hingga menimbulkan sebuah goresan panjang dan...


Awss


Brukk


Pyarrr


Karena perih dan terkejut Devina melemparkan baskom yang ia bawa ke atas hingga jatuh mengenai seluruh tubuhnya sendiri.


"Akhhh,panas pa-panas to-long panas," rintih Devina bergulung-gulung di tanah.

__ADS_1


"Kak Devina, AMBIL AIR! CEPAT! CEPAT! CEPAT! JANGAN HANYA MELIHAT, CEPAT AMBIL AIR! "bentak Delana pada pelayan pribadi Devina dan pelayan pribadinya yang segera pergi mencari air.


"Kakak tidak apa?" tanya Alina lebih terdengar seperti mengejek.


"Alina,awas kau!!" ucap Delana berbalik mengikuti dua pelayan yang membopong tubuh Devina setelah menyiram Devina dengan air.


"Hahahaha, Bibi Yuri sepertinya aku tidak jadi ikut ke pasar, lebih baik bibi segera pergi sendiri sebelum hari semakin siang dan sayuran-sayuran itu layu," ucap Alina.


"Tapi nona, mungkin setelah ini nona akan dipanggil ke aula dan say......" ucap Yuri.


"Oh ayolah bi tidak apa, bibi pergi saja ke pasar aku bisa mengatasi masalah ini," potong Alina berjalan kemudian duduk di kursi depannya.


(Setiap paviliun memiliki meja beserta kursi di teras untuk menyambut pria yang bukan siapa-siapanya agar tidak menimbulkan fitnah.)


"Baiklah nona saya pergi dulu, semoga yang kuasa selalu melindungi anda," ucap Yuri menggendong bakul itu di punggungnya dan berjalan keluar dari paviliun anggrek.


Setelah Yuri menjauh dan semakin menghilang dari pandangan Alina, dua orang prajurit terlihat berlari menghampiri Alina.


...****************...


Apa yang akan para prajurit itu lakukan kepada Alina?


Kenapa para prajurit itu berlari?


Nantikan bab selanjutnya ya 🤗

__ADS_1


__ADS_2