Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 74


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


"Tidak, " jawab Alina menggeleng beberapa kali, kemudian langsung terdiam dan berbalik membelakangi Zero tepat saat iris matanya beradu tatap dengan iris gelap menakutkan milik Zero.


Merasa sudah cukup lama Alina diam pura-pura tertidur, dengan perlahan Alina membuka matanya kemudian memastikan bahwa pria asing yang berada di sampingnya benar-benar tertidur, setelah yakin Alina perlahan menjauhkan tangan Zero yang melingkar diperutnya.


Setelah berhasil lepas dari pelukan Zero, Alina turun dari ranjang dengan sangat pelan dan berhati-hati takut akan membangunkan Zero yang terlihat masih menutup kedua matanya.


"Yeah akhirnya, akhh rasanya tubuhku mau patah. Pria asing tidak punya sopan satun memeluk gadis perawan sembarangan, mana pelukannya gak kira-kira lagi," gumam Alina dengan suara yang sangat kecil nyaris tak terdengar.


Alina mulai melangkahkan kakinya dengan pelan menjauh dari Zero sesekali menoleh ke belakang memastikan kalau Zero benar-benar masih tertidur.


"Sepertinya aku harus lebih berhati-hati, ternyata memang benar masih ada yang lebih hebat dariku. Belum sampai satu minggu aku sudah bertemu dengan dua pria sama-sama tidak punya sopan santun yang memiliki tingkatan ilmu bela diri tak terdeteksi," gumam Alina setelah benar-benar menjauh dari Zero.


"Tapi... tunggu-tunggu, dia itu pria hebat bukan, lalu tidak mungkin aku bisa semudah ini lepas darinya, bahkan aku mengalami seratus satu kali kegagalan saat berusaha lepas dari pria beruban saat itu," ucap Alina menoleh ke belakang memastikan kalau Zero tidak menyusulnya.

__ADS_1


"Pasti ada yang tidak beres," lanjut Alina.


"Kau benar," ucap seseorang tepat berada di depan Alina.


"Kau... bagiamana bisa.....tadi disana lalu.... bagaimana.... " ucap Alina bingung melihat Zero yang berdiri didepannya dengan smirk dan tatapan datarnya.


Alina melangkah mundur perlahan masih dengan wajah bingungnya menjauh dari Zero begitupun dengan Zero dengan tatapan datarnya melangkah perlahan mendekati Alina.


Saat Zero semakin dekat dengan Alina. Alina langsung berlari kencang dengan elemen anginnya, Zero hanya tersenyum miring menyaksikan Alina yang lari ketakutan saat melihatnya, tiba-tiba Zero menghilang dan muncul tepat didepan Alina dengan cepat Zero memeluk Alina dan membawa Alina kembali ke atas ranjangnya yang tadi.


" HUAAA LEPASKAN AKU! LEPASKAN! JANGAN MEMELUK ORANG SEMBARANGAN LEPASKAN AKU! " teriak Alina memberontak dalam pelukan Zero.


"Kau lapar?" Tanya Zero menatap Alina yang terdiam kaku.


" Si4l, disaat seperti ini kenapa cacing perutku tidak tahu malu," gumam Alina dalam batinnya.


"Ti-tidak aku tidak lapar," jawab Alina cuek.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Zero menggedong tubuh Alina dengan sangat mudah, kemudian dengan sangat hati-hati dan perlahan Zero menurunkan tubuh mungil Alina di atas kursi yang terbuat dari sulur dan dihiasi bunga-bunga yang terlihat indah sekaligus mewah.


"Makanlah," ucap Zero duduk berhadapan dengan Alina dibatasi meja panjang yang diatasnya terdapat berbagai jenis makanan dan minuman, serta aneka ragam jenis buah yang sudah di potong dan di tata sedemikian rupa.


"Huh,kenapa makanannya terlihat sangat enak."


"Tidak, pasti makanan ini sudah kau racuni!" ucap Alina membuang muka.


"Kau yakin tidak ingin memakannya?"


"Tidak!"


"Baiklah kalau-- "


"Jika kau memaksa aku akan memakannya," potong Alina.


Alina mulai mengambil nasi dan lauk yang diinginkannya kemudian meletakkannya di atas piring yang terbuat dari emas dengan ukiran rumit yang terlihat unik dan cantik. Semua aktivitas yang dilakukan Alina tidak lepas dari tatapan datar Zero.

__ADS_1


Tanpa memikirkan hal lain Alina dengan lahap memakan makanan yang terasa sangat nikmat itu, mengabaikan Zero yang terus menatapnya.


__ADS_2