
...Happy reading 📖...
...****************...
Neo sangat menjunjung tinggi kehormatan seorang wanita baik itu manusia ataupun makhluk lainnya, bagi Neo wanita adalah sosok kuat yang mampu memberi kehidupan bagi anak-anaknya yang pantas untuk di hormati bukan di sakiti. Apalagi hanya dijadikan barang mainan untuk kepuasan seorang pria.
"Pa-man Dreko, dia yang mengatakan itu pada Willy. Katanya kalau Willy tidak nakal dan tampan, Willy bisa menjerat gadis-gadis cantik di luar sana agar mereka memberikan Willy permen," ucap Willy takut.
Meski Willy dan Neo sangat bermusuhan tapi Willy tau kapan saat Willy harus menganggap nya musuh dan kapan harus menghormati nya layaknya orang tua. Willy juga tau kalau Neo tidak akan marah tanpa sebab dan kalau Neo sudah memanggilnya dengan sebutan keponakan tersayang berarti Neo tengah marah, dan amarah Neo sangat menakutkan bagi Willy. Bahkan bundanya akan memilih untuk diam atau menghindar saat pamannya itu marah.
"DREKOOOOO,APA SAJA AJARAN SESAT YANG SUDAH KAU AJARKAN PADA WILLY HA??!!!" teriak Neo langsung berlari dan mengapit kepala Dreko di ketiaknya.
"Hei apa yang kau lakukan,uhuk uhuk. Neo lepaskan!! Kita sudah berdamai kan, tapi apa ini, kenapa kau mencekik ku? Uhuk-uhuk"
"Kita memang berdamai, tapi jika kau mengajarkan hal sesat pada keponakan ku aku siap untuk mengibarkan bendera perang lagi dengan mu."
"Baiklah, uhuk maafkan aku, sekarang lepaskan. KAU MENCEKIK KU TERLALU KENCANG, uhuk-uhuk" ucap Dreko masih terus berusaha meloloskan kepalanya dari ketiak Neo.
__ADS_1
"Mereka bertengkar lagi bunda, padahal Willy sudah berusaha keras agar mereka bisa bekerja sama tanpa perdebatan dan tanpa perkelahian," ucap Willy menatap kedua pamannya yang masih asik berkelahi.
"Apa bunda tau?"
"Loh bunda dimana? BUNDA, BUNDAAA, aishhh bunda jahat meninggalkan Willy begitu saja, " ucap Willy kesal.
Dengan bibir cemberut Willy pergi meninggalkan kedua pamannya yang masih bertengkar. Sedangkan di sisi lain, Alina duduk di atas dahan pohon mangga yang tak terlalu besar.
Punggung Alina bersandar di batang pohon, kaki putih mulusnya menggantung ke bawah, kedua mata indahnya nampak fokus pada deretan huruf yang tertulis rapi di buku kuno yang di pegangnya, bibir merahnya sedikit bergerak menggumamkan kalimat yang di bacanya.
"Baiklah aku akan mendapatkannya! " ucap Alina dengan senyum miringnya.
"Permata tunggu aku, aku akan datang."
Dengan semangat Alina melompat turun ke bawah, kemudian berjalan santai sambil mengayunkan buku yang dipengangnya.
.
__ADS_1
.
.
Setelah acara perpisahan yang diiringi perdebatan panjang nan melelahkan. Alina akhirnya bisa memulai perjalanannya mencari permata merah delima bersama dengan putra imutnya yang tak lain adalah Willy.
Sebelumnya Alina berencana untuk mengembara sendirian tapi Willy menangis dengan sangat kencang memohon untuk bisa ikut dengan Alina dan dengan sangat terpaksa akhirnya Alina memutuskan untuk hanya mengajak Willy sedangkan kedua kakaknya tetap berada di ruang Tara.
"Kenapa kita berada disini? apa ini hutan misteri itu, Willy?" tanya Alina melihat pemandangan sekelilingnya yang berupa permukiman kumuh yang di kelilingi lebatnya pepohonan.
"Bukan bunda, ini merupakan salah satu permukiman warga yang berada di pinggiran hutan tanpa nama, sebelum hutan pelangi. Sepertinya hutan misteri itu memiliki dinding pelindung yang tidak bisa di terobos ilmu teleportasi bunda, artinya untuk bisa sampai di hutan misteri bunda harus melewati hutan tanpa nama ini dan juga hutan pelangi," jelas Willy setelah memperhatikan sekelilingnya.
"Bagaimana kau bisa tau banyak tentang hutan-hutan itu Willy? Bunda rasa bunda tidak pernah melihat mu membaca buku, " tanya Alina heran.
"Tentu saja bunda tidak melihat ku, bunda saja tidak pernah pergi ke perpustakaan di ruang Tara. Dan lagi aku ini hewan kontrak legendaris bun, semua informasi tentang dunia ini bisa dengan mudah aku dapatkan, " jawab Willy dengan bangganya.
"Ini yang tidak kusukai saat mengajaknya, kebod0han ku terlihat sangat jelas, "batin Alina kesal.
__ADS_1