
...Happy reading 📖...
...****************...
"Begitu ceritanya, kalau bagiamana aku tahu akan ada penggeledahan di paviliun anggrek itu karena malam-malam sekali perdana menteri mengutus pelayan pribadinya untuk mengatakan kalau aku boleh kemana saja hari ini, jadi ku tebak mungkin perdana menteri akan menyelidiki ruang rahasia ibu Meilan karena cepat atau lambat ruangan itu akan diketahui perdana menteri," jelas Alina.
"Saya rasa putra mahkota terobsesi pada nona.....apa nona tidak tertarik pada putra mahkota?" tanya Neo menatap penasaran ke arah Alina.
"Lupakan semua itu sekarang, aku ingin bersenang-senang di pasar, oh ya kurasa kau tidak pantas memanggil ku dengan sebutan nona......."
"Lalu saya harus memanggil bagaimana?" Potong Neo berhenti berjalan dan berdiri di depan Alina.
"Panggil aku adik dan kau akan ku panggil kakak, dan jangan berbicara formal, bicara biasa saja karena aku sekarang adalah adikmu dan kau kakakku, " ucap Alina dengan senyum manisnya.
Anggap itu Alina ☝️
__ADS_1
...****************...
"Bo-leh-kah?" tanya Neo terbata dengan ekspresi terkejut tak mengira.
"Tentu saja, jadi kaka, ayo temani adikmu ini bermain di pasar dan kau yang bayar, hahahaha," ucap Alina melepas tudung jubahnya memperlihatkan separuh wajahnya yang tertutup topeng.
Neo hanya pasrah saat tangan kanannya ditarik dengan riang oleh Alina, meski dalam hatinya ia merasa sangat bahagia karena dianggap lebih daripada pelayan oleh majikannya.
"Saya tidak memiliki uang nona," ucap Neo menghentikan langkahnya.
"Ingat aku sekarang adikmu..... Jadi panggil aku adik atau Alina yang cantik, dan kakak pikir adik cantikmu ini tidak tahu jika kemarin kau mendapatkan banyak uang koin dari peti yang kau temukan di salah satu kamar di istana Tara, " ucap Alina menaik-turunkan alisnya disertai senyum manisnya.
"Baiklah adik... kakakmu ini akan membelikan apa yang kau mau," ucap Neo pasrah.
Dengan riangnya Alina menarik tangan Neo dan membawanya mengunjungi hampir seluruh kedai makanan dan yang pasti Neo yang membayar semua makanan yang Alina beli.
Setengah hari dihabiskan Alina dengan mengunjungi satu kedai ke kedai yang lain yang hanya menjual makanan, baik makanan ringan ataupun berat.
__ADS_1
Setiap langkah Alina selalu menjadi perhatian orang-orang disekitarnya karena aura positif milik Alina seakan memiliki daya tarik untuk menatapnya, bahkan sedari tadi banyak yang secara terang-terangan menggoda Alina yang langsung ditatap tajam oleh Neo.
"Nona muda,boleh minta waktu sebentar? " ucap seorang pria menghadang jalan Alina, di belakang pria itu berdiri beberapa prajurit dengan pakaian khas kediaman seorang Jenderal.
"Adikku tidak punya waktu, kami harus segera pergi," ucap Neo dengan pandangan tajamnya.
Sedari tadi saat ada yang mendekati Alina maka kata-kata itulah yang diucapkan Neo, dengan pandangan tajam menusuk yang membuat hampir semua orang tak berani mendekati Alina kecuali pria ini, bukanya takut justru membusungkan dadanya menantang dan menatap remeh ke arah Neo.
"Kau kakaknya?...bolehkan ku jadikan dia selirku?" tanya pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh Alina tapi sebelum itu Neo sudah dulu memutar tangan pria itu hingga keseleo.
"Akhhhh, sakit! Prajurit tangkap pria tak tau diri itu dan bawa adiknya padaku, akan ku beri ia pelajaran dengan merendahkan adik cantiknya itu," titah pria itu yang langsung dilaksanakan oleh 6 prajurit yang mengawalnya tadi.
"6 lawan satu? Sangat tidak seimbang. Seratus orang seperti mereka melawan Neo sekalipun tidak akan bisa seimbang," gumam Alina memakan kue kering yang dibelinya tadi di salah satu kedai.
Tak sampai 5 menit, 6 prajurit itu sudah tergeletak tak berdaya akibat gerakan-gerakan dari Neo yang tak terlalu brutal namun cukup jika hanya digunakan untuk membunuh para tikus-tikus penghalang.
"Kau jadikan adikku nyonya dikediaman mu pun aku tidak akan sudi, " ucap Neo.
__ADS_1
"Kau hanya mengalahkan prajurit ku,bukan mengalahkan ku," ucap pria tadi dan langsung menyerang Neo secara brutal dengan ilmu bela dirinya.