Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 59


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


"Ck,kau seperti tidak tau dia saja,Neo,dia pasti pergi ke tempat yang bisa membuatnya merasa puas, mungkin di ruang penuh hartanya atau mungkin mencari sesuatu baru untuk melengkapi koleksinya," ucap Dreko menatap tubuh Alina yang perlahan menghilang.


Hamparan tanah lapang nan luas menjadi pemandangan pertama yang dilihat Alina setelah berteleportasi keluar dari ruang Tara nya, puing-puing bangunan dan pepohonan yang rata dengan tanah membentang sejauh mata memandang.


Benua Utara, benua indah yang mempesona sekarang tinggal kenangan belaka. Bangunan-bangunan tinggi yang ramai akan berbagai kehidupan sekarang sudah mati, tidak ada kehidupan yang ada hanya keheningan.


"Menenangkan, tapi tidak menantang,"gumam Alina menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.


Alina mengangkat kedua tangannya ke depan dan tak lama beberapa sulur menjalar keluar dari telapak tangan Alina, bergerak dengan cepat, berpencar ke berbagai arah, ada juga beberapa sulur yang menjalar masuk ke dalam tanah.


Tak lama satu persatu sulur kembali pada Alina dengan masing-masing membawa emas, permata, dan barang berharga lainnya.


Senyum puas terukir sempurna di bibir Alina, kedua matanya menatap binar ke arah barang-barang berharga di depannya. Barang-barang milik orang-orang yang dulunya menempati benua tengah sebelum kemunculan demonnya yang menghancurkan segalanya, kecuali harta benda berharga mereka.


Terlampau senang memandang kilauan emas dan permata di depannya mambuat Alina tidak sadar sedari tadi ada sesosok pria berjubah hitam yang memandanginya di balik pohon besar yang telah tumbang, tepat berada cukup jauh di samping kanannya.

__ADS_1


Sesosok pria itu terlihat sangat sempurna, tubuh tinggi tegap dan berotot berbalut jubah hitam dengan sedikit corak emas, rambut hitam panjang yang menari-nari tertiup semilir angin, kedua iris mata hitam gelap yang tidak pernah lepas menatap Alina, ekspresi wajahnya tersembunyi di balik topeng hitam dengan ukiran rumit yang dipakainya.


Sosoknya memang menarik perhatian, namun aura kegelapan yang mengelilinginya terasa sangat menakutkan membuat siapapun akan berpikir ribuan kali sebelum mendekatinya.


Pria itu terus memandangi Alina dalam diam, mulai saat Alina memindahkan semua harta benda yang berada di depannya sampai Alina menghilang masuk ke ruang Tara nya.


"Kau dari mana saja,Adik?" tanya Neo menatap Alina yang baru kembali ke ruang Tara.


"Ah kakak kau mengagetkan ku, aku tadi me---- - "jawab Alina menggantung.


Tunggu-tunggu aku tadi mengambil?


Mencuri?


Atau merampas?


Jika mengambil, tidak ini bukan barang buangan, atau barang yang terjatuh dari pemilik nya.


Memungut? Sangat tidak pantas, seorang ratu tidak mungkin memungut bukan.

__ADS_1


Mencuri? Tidak juga, barang-barang ini sudah tidak memiliki pemilik.


Merampas? Aiss kan sama saja, barang ini tidak ada pemilik.


Lalu yang tadi ku lakukan apa?


"Me--- me apa?"


"Neo-Neo, apa kau benar-benar tidak tau sifat adik mu itu. Tentu saja dia memungut barang berharga di benua Utara," sahut Dreko berjalan mendekat ke arah Alina.


"Memungut? Kakak bahasa mu itu terlalu kasar, aku tidak memungutnya, aku hanya mengumpulkan dan akan menyimpannya untuk diriku sendiri," elak Alina.


"Sama saja," ucap Dreko memutar bola matanya malas.


"Untuk apa harta sebanyak itu,Alina? Apa kau akan bahagia jika hanya menyimpan harta-harta mu itu?"


"Tentu saja, aku akan bahagia. Kak Neo pasti tau kan kebahagiaan ku itu karena harta, melihat emas dan permata saja rasanya aku tidak bisa berhenti tersenyum."


"Baiklah mari kita lihat, apa yang akan terjadi di beberapa hari yang akan datang," ucap Neo meninggalkan Alina.

__ADS_1


__ADS_2