Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 76


__ADS_3

Happy reading 📖


****************


Dengkuran halus terdengar dari Alina yang sudah memejamkan kedua matanya. Niat awal hanya ingin beristirahat sebentar malah ketiduran dengan posisi yang duduk tanpa alas dan bersandar pada batang pohon.


Ditempat lain, hutan yang semula asri dengan rimbunnya pepohonan kini berubah hanya dalam sekejap dimana api yang sudah menjalar kemana-mana dan menghanguskan puluhan bahkan ratusan tumbuhan dan mematikan ratusan hewan yang tinggal didalamnya. Meski begitu dua orang yang menyebabkan kekacauan itu nampak tak perduli dan masih terus saling serang dengan tatapan dan aura permusuhan yang sangat kuat.


"Kau sepertinya sangat ingin membunuhku, Ze," ucap Aldirk menatap Zero yang sama terpentalnya dengan dirinya setelah beradu bola sihir.


"Tentu saja, karena kau akar permasalahannya," jawab Zero dengan tatapan tajamnya.


Mata Aldirk membulat saat menyadari kawasan tempatnya bertarung kini sudah hancur dan permaisurinya tidak ada.


"Ap-apa aku membunuhnya?" gumam Aldirk menatap kedua tangannya sendiri.


"5ial,ratuku sudah lari dan ini semua karena mu!" ucap Zero sebelum menghilang meninggalkan debu yang berterbangan.


Aldirk yang tersadar dari pikirannya pun ikut menghilang menyusul Zero mencari sosok Alina.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama Zero sudah menemukan Alina yang tengah tertidur lelap di bawah pohon tanpa alas dan tanpa selimut. Tersenyum kecil Zero membungkuk menatap wajah cantik Alina kemudian mengulurkan tangannya menggendong tubuh mungil Alina.


Srettt


"Dia milikku!" ucap Aldirk tersenyum miring setelah berhasil merebut Alina dari gendongan Zero.


"Tidak, dia hanya milikku!"ucap Zero sebelum berlari dengan sangat cepat ke arah Aldirk.


.


.


.


"Bagaimana aku bisa kecolongan lagi dan lagi? "gumamnya lirih.


"Tenanglah, Dreko. Dia akan baik-baik saja aku yakin itu."


"Tidak ada yang baik-baik saja setelah Alina bertemu dengannya, Neo! Dia tidak bisa dianggap remeh apalagi setelah kekuatannya yang sekarang melampaui kekuatan Alina," bantah Dreko.

__ADS_1


"Dan sekarang bahkan kita tidak bisa melacak keberadaannya, sial4n sebenarnya siapa yang membawa Alina tanpa meninggalkan jejak sedikitpun?!" lanjut Dreko kesal.


"Hanya ada satu orang yang tidak bisa kita lacak keberadaannya, apa mungkin Alina bersama orang itu?"


"Sepertinya--"


"Berhenti menduga-duga, Paman. Seharusnya kalian mencari bundaku sampai ketemu bukan malah mengobrol asik di sini!" sela anak laki-laki berusia 5 tahun yang tak lain adalah Willy.


"Kau belum berpengalaman sehingga tidak mengetahui apapun Willy! Kau pikir aku b0doh hingga hanya berdiam diri disini dan membiarkan nonaku itu menghilang?" tanya Dreko sinis.


Semenjak Alina menghilang Dreko tidak bisa mengontrol emosinya sendiri, hidup bertahun-tahun bersama sisi negatif Alina membuatnya menjadi sosok kejam yang hanya akan jinak jika dihadapkan pada Alina.


"Kau memang b0doh! Seharusnya kalian tidak mengurungku dalam ruang dimensi ini, dengan begitu aku bisa membantu bundaku. "


"Bagaimana kau membantu Alina jika keluar dalam labirin tipis saja kau tidak mampu?! Kekuatan belum sempurnamu itu hanya akan membuat Alina kerepotan."


"Kekuatan ku memang belum sempurna, tapi setidaknya kekuatan ku akan berguna daripada kalian yang bahkan dengan kekuatan tertinggi pun hanya terdiam menyaksikan tanpa mampu berbuat apa-apa "


"Bisakah kalian diam! Ini salah ku yang mengurung mu dalam dimensi ini karena kau adalah hewan tersayang adikku, kau yang nyatanya paling dilindungi adikku bahkan saat dia merasakan ancaman, kau yang di amankan terlebih dahulu. Dreko, kau juga bersalah karena telah menyuruhnya mengembara padahal jelas-jelas kau tau kekuatannya belum mampu untuk hidup di lingkungan manusia dengan auranya yang unik dan langka itu, tapi untuk meminimalisir kejadian tak diinginkan aku menyuruh Willy untuk selalu disampingnya, lalu kenapa kau juga lalai hingga kau mengabaikan tugasmu untuk mengawasinya selama kita bermeditasi! "

__ADS_1


__ADS_2