Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 38


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


"Rumah makan ini milik selir Meilan,aku sendiri dulu yang melihat selir Meilan membeli tempat ini dan mengelola rumah makan ini hingga menjadi sangat terkenal," sahut wanita yang duduk di depannya.


"Oh benarkah? Kupikir kalau rumah makan ini milik nyonya Desina, karena yang aku lihat nyonya Desina lah yang selalu datang dan masuk ke ruang utama pemilik rumah makan ini."


"Mungkin memang nyonya Desina yang mengelola usaha ini,kau tau sendiri kan anak selir Meilan itu masih kecil dan pengecut, mana bisa menjalankan usaha ibunya, hahahaha."


"Iya kau benar hahahaha."


"Apakah mereka pikir menghina orang itu lucu? Tertawa setelah menebar dosa huh benar-benar sifat manusia," gumam Alina.


"Silahkan dinikmati nona, ini makanan sepesial yang ada di rumah makan ini," ucap pelayan tadi membawakan Alina tiga jenis makanan dibantu oleh dua pelayan lain.


Alina menikmati makanan yang dipesannya dalam diam, sesekali matanya terpejam saat merasakan cita rasa yang sangat nikmat dari makanan yang tak diketahui namanya itu.


"Baiklah, makan sudah, sekarang waktunya mencari keadilan,"batin Alina meletakkan sendok dan garpu yang dipegangnya.


"Berapa totalnya?" tanya Alina pada pelayan yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


Berbeda dengan rumah makan lain, di rumah makan ini akan ada satu pelayan yang berdiri tak jauh dari pembeli yang tengah menikmati makanannya,tujuannya agar pembeli tak perlu berteriak-teriak saat membutuhkan bantuan seperti menanyakan total harga atau ingin menambah menu lagi.


"2 keping koin emas nona," jawabnya.

__ADS_1


Alina langsung mengambil kantong yang terselip di pinggangnya dan memberikannya pada pelayan itu tanpa dihitung terlebih dahulu oleh Alina.


"Nona ini terlalu banyak, total makanan nona hanya 2 keping koin emas tapi didalam sini lebih dari seratus koin emas," ucap pelayan itu mengulurkan tangannya yang memegang kantong berisi koin itu didepan Alina.


"Sisanya untukmu," jawab Alina.


"Benarkah nona?Terimakasih-terimakasih, nona sangat murah hati, semoga nona panjang umur dan sehat selalu," ucap pelayan itu membungkuk.


"Tentu saja semua itu tidak gratis."


"Maksud nona?"


"Antarkan aku menemui manajermu," jawab Alina.


"Manajer?" tanya pelayan itu menatap Alina.


"Dengan senang hati saya akan mengantarkan nona, mari lewat sini nona," jawab pelayan itu mempersilahkan Alina jalan terlebih dahulu.


"Siapa namamu?" tanya Alina sambil terus berjalan.


"Nama saya Riria," jawab Riria.


"Nama yang aneh tapi bagus," puji Alina.


"Terimakasih pujian anda nona, kalau yang rendah ini boleh tau siapa nama anda?"

__ADS_1


"Ziva," jawab Alina singkat.


"Nama yang sangat indah dan cantik,"puji Riria yang hanya dibalas senyuman oleh Alina.


Tok... Tok... Tok


"Permisi tuan Rayon,ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap Riria setelah mengetuk pintu beberapa kali.


"Ya masuklah," jawab seseorang dalam ruangan itu.


Ceklek


"Silahkan duduk dulu nona , ucap seorang pria paruh baya meletakkan buku yang dipegangnya.


"Ada perlu apa nona ingin bertemu saya?"


"Aku tidak ingin berbasa-basi lagi karena waktuku itu sangatlah berharga, sebelum itu perkenalkan namaku Ziva pemilik sah rumah makan ini, jadi mulai sekarang jangan mengirimkan hasil penjualan pada nyonya Desina ataupun keluarga perdana menteri lainya," jawab Alina setelah duduk dengan anggunnya.


"Apa bukti kalau rumah makan ini milik anda nona? Nyonya Desina bilang rumah makan ini milik nona Alina yang akan di kelolanya sampai nona Alina mampu," tanya Rayon.


Alina memberikan gulungan kertas yang diambil dari cincin ruangnya.


"Surat kepemilikan sah yang sudah di stempel oleh nona Alina yang baik hati," ucap Alina berbarengan dengan Rayon yang tengah membaca isi gulungan kertas itu.


"Maafkan saya yang tidak mempercayai nona Ziva yang terhormat, mulai sekarang semua hasil akan di kirim ke kediaman anda," ucap Rayon.

__ADS_1


"Biar aku yang mengambilnya," ucap Alina berdiri diikuti Rayon yang juga ikut berdiri.


"Bayar semua gaji pegawai yang belum di bayar dengan ini," lanjut Alina mengeluarkan tiga kantong berisikan koin emas dari dalam cincin ruangnya.


__ADS_2