Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 45


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


Alina memejamkan kedua matanya dan menundukkan kepalanya, kedua tangannya terkepal erat menahan rasa panas yang semakin terasa dari sebelumnya, tanpa disadari, iris mata sebelah kirinya berubah menjadi ungu gelap, Alina kembali mendongakkan kepalanya saat rasa panas dalam tubuhnya berkurang.


"Adik,apa kau baik-baik saja?" tanya Vano yang mendekat ke arah Alina.


"Ah iya aku baik-baik saja kak," jawab Alina membuka kedua matanya.


"Matamu....," ucap Vano menggantung saat melihat iris mata Alina bagian kiri bewarna ungu sedangkan yang kanan bewarna biru.


Vano memejamkan mata dan mengucek kedua matanya kemudian kembali melihat mata Alina namun anehnya, iris mata Alina normal-normal saja seperti biasanya yang bewarna biru cerah.


"Ada apa kak?" tanya Alina menatap bingung Vano.


"Tidak ada apa-apa,Dik,lebih baik kau ke meja perdana menteri, setiap meja sudah disusun untuk setiap keluarga,"jawab Vano.


"Baiklah kak, Alina pergi dulu, ah iya kak bilang pada bibi dan nenek kali ini mereka sangat cantik,hahahaha."

__ADS_1


"Anak ini, iya-iya, pergi saja nanti akan aku sampaikan pada ibu dan nenek, adik perempuan ku ini sangat nakal."


Saat berjalan entah disengaja ataupun tidak, seorang pria menabrak Alina tidak terlalu keras dan hanya membuat Alina mundur dua langkah.


Tanpa sengaja tangan Alina yang tidak mengenakan sarung tangan itu menyentuh kulit pria yang menabraknya dan membuat tubuh Alina kembali terasa sangat panas bahkan rasa panasnya melebihi yang pertama.


"Maaf nona saya tidak sengaja, " ucap pria itu menatap memuja Alina.


"Iya," jawab Alina berjalan melewati pria itu tanpa mendongakkan kepalanya, karena Alina tengah mencoba mengendalikan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.


"Kau sangat lama Alina," ucap nyonya Desina sinis.


"Ingat,jangan permalukan ayahmu, Alina!" ucap perdana menteri menatap datar Alina.


Alina membalas tatapan perdana menteri dengan tatapan menantangnya seakan mengatakan " jika bisa kenapa tidak"


"PERHATIAN-PERHATIAN,KELUARGA BESAR YANG MULIA KAISAR MEMASUKI AULA ISTANA," teriak seorang Kasim.


Dengan segera semua orang bangkit dari duduknya kemudian mendekati karpet merah yang disediakan sebagai alas jalan Kaisar dan keluarga Kaisar.

__ADS_1


"Semoga Yang Mulia Kaisar dan seluruh keluarga panjang umur hingga seratus ribu tahun," ucap semua kompak menunduk hormat.


"Mimpi! belum sampai seratus tahun palingan juga udah mati,"batin Alina.


"Berdirilah semuanya," ucap Kaisar.


Mendengar ucapan Kaisar, semua orang berjalan kembali ke mejanya masing-masing.


Karena merasakan ada hal aneh pada tubuhnya, Alina tidak bisa fokus mendengarkan ucapan Kaisar, bahkan Alina tidak menyadari rencana putri mahkota yang menyuruh seorang pelayan memberikan ramuan dalam makanan dan minuman yang akan di sajikan untuk Alina setelah acara pemberian hadiah para gadis muda untuk Kaisar.


"Alina,ambil ini dan berikan pada Kaisar,aku tidak ingin malu melihatmu memberikan hadiah yang buruk rupa dan murahan untuk Kaisar," ucap perdana menteri memberikan Alina sebuah kotak setelah mengambilnya dari dalam cincin ruangnya.


Alina hanya memandangi kotak di tangan perdana menteri tanpa berniat untuk mengambilnya, saat sudah sampai gilirannya untuk maju, Alina mengeluarkan sebuah kotak hitam yang tidak dibungkus apapun dari dalam cincin ruangnya kemudian membawa kotak itu kepada Kaisar yang duduk di atas singgasananya.


"Ini hadiah kecil dari hamba,mohon diterima Yang Mulia Kaisar," ucap Alina mengulurkan kotak yang dipegangnya.


"Penasehat bukalah, aku penasaran apa yang diberikan gadis kecil ini padaku," ucap Kaisar.


"Baik Yang Mulia."

__ADS_1


__ADS_2