
"Perdana menteri memanggilmu di ruang aula," ucap salah satu prajurit memandang sinis ke arah Alina.
"Ya sudah ayo," jawab Alina santai bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului ke dua prajurit itu.
Di sepanjang jalan menuju aula semua pelayan dan prajurit mencemooh Alina dan menatap jijik ke arah Alina.
"Buat apa gadis itu memakai cadar?"
"Mungkin malu dengan wajah buruknya itu."
"Hahahaha percuma pakai cadar semua orang juga sudah tau wajah buruk rupanya itu."
"Pelayan saja lebih cantik daripada dia."
"Telingaku panas, untung masih acting kalau tidak habis kalian semua,"batin Alina kesal.
"PERHATIAN-PERHATIAN NONA ALINA ZIVANKA GERALDINE MEMASUKI AULA, "teriak kasim dengan suara nyaringnya yang membuat Alina mengusap beberapa kali telinganya.
"Alina memberi hormat pada semua,"ucap Alina mengangkat sedikit ujung roknya merendahkan tubuhnya sedikit.
Di aula ada banyak orang,mulai dari perdana menteri, selir pertama, Delana, dan beberapa orang kepercayaan perdana menteri serta beberapa prajurit.
"Hormat di terima," ucap perdana menteri kepada Alina.
"Putri ke dua Alina apa kau tau kesalahan mu hingga kau dipanggil ke ruang aula?!" tanya perdana menteri menatap dingin ke arah Alina.
"Putri ini tidak tahu perdana menteri,"jawab Alina santai.
__ADS_1
"Maaf menyela perdana menteri, sesuai aturan semua orang yang memasuki aula harus melepaskan cadarnya, lalu mengapa putri ke dua tidak melepaskan cadarnya? " ucap penasehat perdana menteri.
"Kau benar, Putri Alina kau harus melepaskan cadarmu saat di aula," ucap perdana menteri memandang sinis ke arah Alina.
Bukan hanya perdana menteri yang memandang sinis namun hampir seluruh orang yang berada di ruang aula memandang sinis, meremehkan, serta jijik ke arah Alina.
"Baiklah perdana menteri, putri ini akan melepaskan cadar," jawab Alina dengan perlahan melepaskan cadarnya hingga menampakkan wajah cantiknya yang membuat semua orang di aula terpaku.
"Apa itu benar-benar gadis buruk rupa itu?"
"Tapi mengapa wajahnya bisa menjadi sangat cantik?"
"Kau benar, dia sangat cantik,mungkin dia satu-satunya gadis tercantik di benua ini."
...****************...
Bagaimana menurut kalian?
Apakah Alina adalah gadis cantik?
...----------------...
"Ba-bagaimana bisa si buruk rupa itu menjadi cantik?" Selir pertama membatin.
"Si@l, kupikir aku yang akan menjadi gadis tercantik setelah hancurnya wajah kakak pertama namun ternyata buruk rupa itu jauh lebih cantik,"batin Delana marah.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar Alina putri kedua?" tanya perdana menteri setelah tersadar dari ketakjubannya.
"Mana mungkin dia kakak kedua, bukannya kakak kedua itu buruk rupa mungkin dia penyusup,Ayah," sela Delana menatap benci ke arah Alina karena kecantikan Alina jauh dari padanya.
"Ulat tidak akan selamanya menjadi ulat adik, ada saatnya ulat itu menjadi kupu-kupu yang indah," ucap Alina tanpa nada membanggakan meski kata-katanya terkesan sombong.
"Tapi....tidak mungkin kau itu buruk rupa," ucap Delana masih tak percaya.
"Hentikan, jika kau memang Alina maka buktikan," ucap perdana menteri.
Alina tak menjawab tapi ia membuka sarung tangan yang membungkus tangan kanannya.
"Saya Alina, putri dari Selir Meilan,"ucap Alina menunjukkan tanda berbentuk bulan sabit yang di tengah-tengahnya ada bentuk bintang kepada semua orang yang ada di aula.
"Tanda itu...... Benar perdana menteri dia putri anda, saya pernah melihat dulu selir Meilan melahirkan anak yang memiliki tanda bulan sabit dan bintang di tangan kanannya, " jawab penasehat.
Tidak ada yang tahu kalau Alina memiliki tanda lahir karena dulu kulit Alina sangat kusam, hitam, dekil hingga tanda lahirnya tersamarkan dan karena semua orang jarang memperhatikan Alina yang dulunya memiliki wajah buruk rupa itu.
"Perdana menteri, saya ingin meminta keadilan karena putri ke dua, Alina telah membuat kulit putri saya Delana menjadi rusak," ucap nyonya utama yang baru masuk dan langsung bertekuk lutut di hadapan perdana menteri.
"Apakah kau mengakui tuduhan itu Alina?" Tanya perdana menteri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akankah Alina mengakui tuduhan itu??
Simak kelanjutannya ><
__ADS_1