
...Happy reading 📖...
...****************...
"Aish bagaimana ini? Baru kali ini aku diculik tapi tidak tau caranya kabur. Berpikir Alina, ayolah kau pasti bisa!"
"Jangan panik, jangan panik, tenang-tenang-tenang," gumam Alina berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku jarinya, ciri khas seorang Alina saat merasa cemas.
Selama hidupnya di dunianya dulu, penculikan adalah hal biasa baginya, seorang pemimpin mafia sepertinya sudah biasa berurusan dengan segala jenis penculikan tapi rata-rata yang menculiknya selalu memiliki keahlian di bawahnya sehingga memudahkannya untuk kabur dan berbalik menyerang sang penculik.
Tapi sekarang penculiknya sekelas Aldrik, dirasakan dari aura kekuatannya saja sudah jelas kalau Aldrik memiliki tingkatan ilmu bela diri jauh di atasnya. Sangat tidak mungkin untuk bisa mengalahkan Aldrik apalagi untuk kabur, sepertinya mustahil.
"Dasar kau Alina! Kau kan punya ilmu teleportasi, kenapa tidak kau gunakan saja. Ah karena panik membuatku semakin bod0h."
Alina mulai memejamkan matanya kemudian membaca mantra teleportasi, tapi hasilnya nihil karena Alina tetap berada di ruangan cerah itu dengan posisi yang sama.
Bukan hanya sekali tapi beberapa kali Alina mencoba menggunakan ilmu teleportasi nya dan hasilnya tetap sama, teleportasinya gagal.
__ADS_1
"Karena rencanaku tidak ada yang berhasil maka hanya ada satu hal yang bisa dilakukan yaitu pasrah dan mengikuti alur waktu," gumam Alina sebelum alam mimpi merenggut kesadarannya.
Tak terasa dua hari berlalu dan Alina masih berada di tempat yang sama, ruangan cerah yang terasa sangat nyaman namun tidak menenangkan.
Sudah berkali-kali Alina mencoba untuk kabur, mulai dari menggunakan ilmu teleportasi nya sampai nekat memecahkan kaca jendela tapi semua hasilnya selalu sama, Aldrik berhasil menangkapnya dan kembali mengurungnya dalam ruangan yang sama di tambah tanggal pernikahan sepihak yang direncakan Aldrik dipercepat.
Dan lagi ruangan yang ditempati Alina dijaga semakin ketat, mulai dari prajurit-prajuritnya sampai diberi lingkaran ilmu sihir yang sulit ditembus siapa saja termasuk Alina.
"Salam Yang Mulia," ucap seorang pelayan wanita menghampiri Alina yang tengah duduk di atas ranjang dengan pandangan lurus ke depan.
"Kau pikir aku lumpuh? Buta? Sampai apa-apa yang kuinginkan harus ku katakan padamu?"
"Ampun Yang Mulia, apa anda tidak membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan itu sekali lagi.
"Apa tadi belum aku ucapkan? Ah ya ternyata masih membatin," gumam Alina dalam hatinya.
"Tidak, pergilah," jawab Alina tanpa mengalihkan pandangannya dari puluhan jenis burung di luar yang menari bebas sambil bernyanyi dengan suara merdunya.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia."
"AKHHH,si4l4n, kenapa di waktu yang seperti ini justru aku tidak memiliki satupun ide, Willy juga dimana kau saat bundamu ini membutuhkan mu? WILLY??!" ucap Alina kesal benar-benar kesal.
Ilmu telepatinya juga tidak berfungsi membuatnya kesusahan untuk menghubungi Willy, Alina tidak mungkin menghubungi kedua kakaknya itu karena kata Willy meditasi hewan kontrak memakan waktu lebih dari satu minggu tapi jika menunggu waktu lima hari lagi itu akan sia-sia karena pernikahan sepihak yang direncakan Aldrik akan dilakukan esok pagi.
"Hanya ada satu cara agar aku bisa kabur dari pria beruban itu yaitu memohon padanya agar pernikahan itu di undur sampai satu bulan ke depan. Ha, ya ide yang sangat bagus!"
" Pelayan?"
"Hamba, Yang Mulia," ucap pelayan yang tadi sambil bertekuk lutut dan menyatukan kedua tangannya didepan dada.
"Panggil kan pria beruban itu untuk menemuiku sekarang juga!"ucap Alina dengan gaya angkuhnya.
"Baik Yang Mulia. Hamba mohon undur diri."
"Ya, pergilah."
__ADS_1