
...Happy reading 📖...
...****************...
Begitupun dengan bola sihir milik Alina yang terbang dengan sangat cepat menuju Azura.
BRUAKK
DUKKK
Kedua gadis itu sama-sama terpental menabrak lima pohon besar sekaligus dan sama-sama jatuh tersungkur di atas tanah.
"Uhuh-uhuk-uhuk."
"Uhuk-uhuk-uhuk."
"AAAAKKKKKKKHHHHH."
Dengan sisa kesadaran serta kekuatannya, Azura berteleportasi menghilang begitu saja sedangkan Alina menatap kedua hewan kontraknya yang sudah pingsan.
__ADS_1
Kedua tangan Alina terangkat meski dengan sedikit gemetaran, dari telapak tangannya muncul cahaya biru yang langsung keluar menuju ke dua hewan kontraknya dan tak lama tubuh kedua hewan kontraknya lenyap meninggalkan debu yang berterbangan.
Setelah menteleportasikan kedua hewan kontraknya masuk ke dalam ruang Tara, Alina langsung pingsan.
Di tempat lain tepatnya di ruang Tara Willy menangis dengan sejadi-jadinya sambil terus berusaha menghancurkan dinding pelindung yang mengelilinginya, berkali-kali Willy mencoba melakukan teleportasi tapi hasilnya selalu sama yaitu tetap berada di ruang Tara.
Willy berlari ke arah sebuah pohon yang tak jauh darinya bukan penampakan pohon yang menjadi objek penglihatannya namun sebuah cermin besar yang berada di depan pohon itu yang di tatap Willy dengan berlinang air mata.
Di dalam cermin itu memperlihatkan sosok Alina yang sangat mengenaskan, dimana pakaian yang dikenakan Alina robek di beberapa bagian dan luka gores serta bakar hampir berada di seluruh tubuh Alina tak hanya itu, nafas Alina yang semakin lemah bisa dilihat melalui cermin itu.
Cermin itu bukanlah cermin biasa melainkan sebuah cermin sihir yang dibuat oleh gabungan kekuatan Neo juga Dreko dimana cermin itu merupakan media perantara untuk bisa melihat Alina, melihat kejadian yang menimpa Alina serta keadaan Alina.
"Bunda bantu Willy keluar dari sini, bunda hiks Willy mohon hiks hiks."
"Ini semua karena kedua hewan kontrak bunda yang bod0h itu! Jika mereka tidak hiks mengurung Willy hiks Willy bisa membantu bunda."
"Tap-hiks tapi lihat hiks Willy tidak bisa hiks berbuat apa-apa untuk hiks membantu bunda hiks."
"WILLY LEMAH!! WILLY TIDAK BISA MENEMBUS DINDING PELINDUNG INI HIKS WILLY TIDAK BISA MEMBANTU BUNDA."
__ADS_1
"WILLY LEMAH!!!! WILLY BOD0H !!!"
"Hiks-Hiks-Hiks "
Tiba-tiba cermin yang tadinya menunjukkan sosok Alina menjadi gelap gulita tak menampakkan apapun hanya kabut gelap yang tebal.
"BUNDAAAAAA"
"BUNDA? APA YANG TERJADI? BUNDA DIMANA? BUNDAAAAA"
"BUNDAAAAAAA!!!"
Sebuah bayangan hitam dengan kecepatan cahaya terbang menuju Alina, bayangan itu berhenti tepat di samping Alina membentuk sesosok pria tampan dengan aura kegelapan yang menyelimutinya.
Kedua matanya menatap tajam menahan amarah saat melihat Alina yang terbaring tak berdaya di depannya.
"Aku bod0h karena membiarkan mu pergi sayang, seharusnya saat pertama melihat mu aku membawa mu ke istana ku langsung," gumamnya.
Dengan mudahnya pria itu mengangkat tubuh Alina menggendong Alina ala bridal style, membawa Alina berlari dengan kecepatan melebihi cahaya menuju tengah hutan dimana tidak ada satupun manusia, hanya ada hewan-hewan buas yang berlari ketakutan saat merasakan aura kegelapan yang menguar hingga bermeter-meter jauhnya.
__ADS_1
Pria itu tak lain adalah raja benua tengah, Zero Dalfian Darless, raja dari segala raja yang tersohor akan kekejamannya, kekuatan hebatnya, dan kebenciannya pada kaum wanita.