
...Happy reading 📖...
...****************...
"Kemari,biar Vano yang bawa,"lanjut Varo mengambil keranjang yang di bawa Alina dan menyarahkan pada Varo.
"Kak Var...," protes Vano tak jadi melihat tatapan mengancam dari kakaknya.
"Iya, ini biar kak Vano yang bawa sampai kereta," ucap Varo berjalan terlebih dahulu menuju kereta kuda yang telah disiapkan untuk Alina.
"Kak apa kakak sudah izin pada perdana menteri?"
"Tenang aja adik, perdana menteri pun tidak akan bisa menghalangi kita membawa mu, " ucap Varo menarik tangan Alina pelan.
Selama di perjalanan Alina memakan cemilan yang dibawanya tadi sambil menikmati pemandangan yang dilihatnya dari balik celah kelambu.
Kedatangan Alina disambut dengan kebahagiaan oleh keluarga kakeknya, dengan mengenakan cadar yang menutupi separuh wajahnya, Alina dengan anggunnya menuruni kereta kuda dan berjalan menuju keluarganya.
"Alina memberi hormat untuk semuanya, " ucap Alina membungkuk hormat di depan menteri kehakiman beserta istrinya.
"Anak nakal,sudah ku bilang jangan berikan nenekmu ini penghormatan, berikan saja pelukan hangat untuk wanita tua ini cucuku, " ucap Elisa memeluk Alina dengan sangat erat.
__ADS_1
"Ne-nek pe-luk-kan mu ter-," ucap Alina terbata.
"Istriku,kau memeluk cucuku terlalu erat lihatlah dia kesulitan bernafas," ucap Agran menyentuh pundak Elisa.
"Aishh, maafkan nenekmu ini sayang, nenek terlalu merindukanmu," ucap Elisa mengusap kepala Alina.
"Tidak apa nek, "jawab Alina mengatur nafasnya yang mulai lega.
"Ayo cepat masuk sayang, nenek ingin mendengar cerita-cerita mu lagi," ucap Elisa menarik Alina berjalan menuju paviliun pinus.
"Istriku aku belum memeluk cucuku, mengapa kau membawanya," ucap menteri kehakiman menyusul langkah Elsa.
"Benar ibu,aku juga belum memeluk keponakan tersayang ku."
Alina memutar bola matanya malas mendengar keluhan-keluhan keluarganya yang merindukannya padahal tiga hari yang lalu mereka baru bertemu.
......................
Malam haripun tiba, di tengah alun-alun kota wilayah kekaisaran Utara sangat ramai, semua rakyat baik dari kalangan rendah maupun tinggi berbondong-bondong mendekat ke arah sungai untuk mengikuti acara pelepasan lampion.
"Kau tidak ingin ikut melepaskan lampion adik?" tanya Varo yang berdiri di samping kanan Alina.
__ADS_1
"Membosankan," jawab Alina lesu.
"Kau bosan,Dik? Bagaimana kalau kita pergi ke pasar malam saja? Pasti di sana tak kalah ramai dengan disini,"saran Vano.
"Kenapa kakak tidak bilang kalau ada pasar malam? tau gitu kan Alina pergi ke pasar malam saja," ucap Alina kesal.
"Ya sudah ayo kita ke sana," ucap Varo mengusap lembut rambut Alina.
Selama berjalan,Alina tak lepas dari pandangan kedua kakak sepupunya dan tak lepas dari hinaan-hinaan orang-orang yang dilaluinya karena banyak yang iri akan aura kecantikan Alina yang masih saja terlihat meski sudah memakai cadar yang menutupi separuh wajahnya.
Selama di pasar malam Alina hanya berjalan mengunjungi satu kedai ke kedai yang lain yang hanya menjual makanan baik makanan ringan seperti camilan.
"Kau sudah kenyang,Dik?" tanya Vano menatap Alina yang baru selesai memakan kue kering dari toko terakhir yang dikunjungi Alina.
"Sudah kak, ayo kita pulang," jawab Alina berjalan terlebih dahulu meninggalkan kedua kakaknya yang terbengong.
"Bagus,setelah makanannya habis dia baru pulang," gumam Vano.
"Biarkan sajalah, mungkin dia tidak pernah mencicipi beberapa cemilan yang dijual disini," ucap Varo menyusul langkah Alina yang sudah menjauh.
Tidak ada yang tau kalau Alina telah menggunakan ilmu pecah raganya untuk kembali melihat-lihat pasar malam tanpa di awasi kedua kakaknya.
__ADS_1
Alina asli berteleportasi menuju ruang Tara untuk berganti pakaian sedangkan kloning Alina berjalan bersama kedua kakak sepupunya untuk kembali ke kediaman menteri kehakiman.