Keturunan Terpilih

Keturunan Terpilih
Bab 62


__ADS_3

...Happy reading 📖...


...****************...


Alina memang bukanlah gadis jenius dengan kepintaran di atas rata-rata, Alina bahkan hanya beberapa kali menduduki peringkat 10 besar selama ia bersekolah. Selama bersekolah Alina hanya unggul di bidang Matematika dan bidang Fisika tapi di bidang lainya nol besar. Alina juga sangat membenci perpustakaan, karena baginya berada di perpustakaan hanya akan membuatnya pusing apalagi saat menatap puluhan bahkan ratusan tumpuk buku.


"Ya,kau memang jenius. Sekarang kita berkeliling di desa ini, bunda penasaran apa yang terjadi dengan warga di sini, memiliki ladang dan hutan yang asri tapi kehidupannya sangat miskin. Entah warganya yang bod0h atau pemerintahnya."


"Baik bund, Willy juga penasaran apa manusia itu sangat bod0h atau hanya pemalas saja seperti bunda. Sehingga hasil hutan dan ladang tidak mereka manfaatkan sampai mereka kelaparan," ucap Willy dengan santainya tidak menyadari Alina menatapnya tajam.


"Bunda kenapa? Apa Willy salah bicara, bunda memang pemalas kan?" tanya Willy dengan polosnya setelah menyadari tatapan tidak mengenakan dari bundanya.


"Bunda tidak pemalas, bunda cuman kurang rajin!"

__ADS_1


"Sama saja kan,Bunda?"


"Aishhhh, diamlah, kau sangat cerewet membuat telinga bunda berdenging."


Alina dan Willy mulai berjalan untuk melihat perkampungan kumuh yang tidak terlalu luas itu, hanya terdiri dari sekitar 15 rumah lebih tepatnya seperti gubuk dengan kondisi yang cukup buruk, beberapa bahkan sudah hampir roboh. Warga-warga yang melihat kedatangan Alina langsung tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah ketakutan yang ketara sangat jelas.


"Willy, apa bunda terlihat sangat menakutkan?" tanya Alina menyadari orang-orang ketakutan karena melihatnya.


"Tidak, bunda terlihat cantik seperti biasa,"jawab Willy setelah mengamati wajah Alina.


Orang itu terlihat sangat ketakutan saat menatap Alina, bahkan orang itu langsung berlari kecang masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya yang sudah berlubang-lubang.


"Bunda sedih, apa bunda sudah terlihat tidak cantik lagi? Mereka semua mengabaikan bunda bahkan mereka ketakutan melihat bunda," ucap Alina mengerucutkan bibirnya kesal.

__ADS_1


"Bundanya Willy tidak boleh bersedih,"ucap Willy.


Willy menatap gubuk-gubuk kayu itu dengan tajam, tak lama kobaran api besar muncul dan membakar seluruh gubuk yang ada beserta dengan orang-orang yang bersembunyi di dalamnya.


"Hei apa yang kau lakukan?" tanya Alina terkejut melihat apa yang dilakukan Willy pada perkampungan kumuh yang dalam sekejap hangus tak tersisa.


"Mereka membuat bunda Willy bersedih, jadi mereka tidak layak hidup. Siapapun yang menghalangi kebahagiaan bunda harus dilenyapkan," jawab Willy masih memandang tajam ke arah gubuk-gubuk yang sudah berubah menjadi abu.


"Ya tapi..... terserahlah, " ucap Alina frustasi.


Ini juga menjadi salah satu alasan Alina tidak ingin mengajak Willy pergi. Willy itu akan sangat posesif jika menyangkut hal-hal tentang Alina bahkan Willy akan langsung membunuh dan menghancurkan semua yang membuat Alina bersedih atau hal yang tidak disukai Alina.


Tiga kucing dan beberapa hewan peliharaan Alina di ruang Tara menjadi korban Willy, karena hewan-hewan itu tak sengaja menggores tangan Alina dan mengambil perhatian Alina yang membuat Willy cemburu.

__ADS_1


Alina mengeluarkan sebuah botol kecil yang tingginya hanya sebatas ibu jari, kemudian Alina melemparkan botol itu ke salah satu batang pohon hingga hancur berkeping-keping, setelah melihat botol kecil itu hancur Alina langsung menarik tangan Willy dan membawa Willy lari meninggalkan perkampungan itu dalam sekejap mata.


__ADS_2