
...Happy reading 📖...
...****************...
"Nyatanya kita semua bersalah. Lagipula kita tidak akan mampu melawan takdir yang sudah dituliskan, kita hanya bisa berusaha tanpa tau akan berhasil atau justru kebalikannya."
Willy dan Dreko terdiam, dalam batinnya mereka membenarkan ucapan Neo.
Tiba-tiba sosok-sosok yang mirip dengan Dreko juga Neo berdatangan dari berbagai arah, berhenti melingkari mereka bertiga dengan wajah datarnya tanpa emosi.
"Kenapa kalian kembali sebelum menemukannya?" gumam Dreko menatap tajam kloning-kloningnya.
Dreko juga Neo melakukan pecah raga untuk berbagi tugas dalam mencari keberadaan Alina.
"Bod0h, Kau bisa mati jika melakukan pecah raga dalam jumlah yang banyak dan waktu yang lama. Tapi setidaknya jika kau mati aku tidak ingin merasa kesakitan," ucap salah satu kloning Dreko sebelum menyatu kembali.
__ADS_1
Willy terpaku menyaksikan kloning-kloning yang mulai memasuki raga aslinya. Awalnya dia berpikir kalau kedua pamannya itu hanya berleha-leha dan saling beradu argumen di pinggir danau ruang Tara, tapi ternyata mereka telah mengirim kloning-kloning mereka sendiri yang jumlahnya bahkan mencapai ribuan itu.
Sedikit rasa bersalah menghampirinya, mengeluarkan kloning hingga ratusan bahkan ribuan bisa sangat membahayakan baik bagi tingkatan ilmu yang rendah maupun yang tinggi jika dilakukan dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang lama. Dalam batas waktu yang tergantung pada tingkatan kekuatannya kloning-kloning yang belum menyatu akan merasa kesakitan bersama dengan raga asli yang juga merasa kesakitan hingga mengalami kerusakan tenaga dalam hingga kematian.
Sepertinya memang benar, dia belum memiliki banyak pengalaman hingga tak memahami cara kedua pamannya itu dalam menghadapi suatu permasalahan.
"Apa tidak ada cara lain untuk menemukan bunda? Aku merindukannya," ucap Willy lirih sebelum merebahkan tubuhnya di atas rerumputan tebal menatap ke langit yang menunjukkan awan-awan cerahnya.
"Kau pikir hanya kau saja yang merindukannya? Masih untung ikatan kontrakmu memang sudah dilemahkan, sedangkan ikatan kontrak kita masih tetap bahkan semakin kuat hanya saja kita tidak bisa melacak keberadaan Alina, seolah-seolah ada yang sengaja menyembunyikannya."
Keheningan menyelimuti ketiga hewan kontrak yang sama-sama tengah memikirkan sesuatu, hingga...
DUAR
"Siapa yang berani membuat kerusuhan di ruang Tara?" tanya Neo melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara.
__ADS_1
"Alina/bunda!" gumam mereka serentak saat melihat sosok yang mereka rindukan tengah berkutat dengan barang-barang pembuat ramuan di ruang herbal.
"Hai, kalian dari mana saja?" tanya Alina tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Hiks, bunda kemana saja, aku rindu bunda," ucap Willy diiringi isak tangisnya.
"Syutttt, bunda tidak kemana-mana hanya berjalan-jalan sebentar, sayang,"jawab Alina mengusap punggung Willy yang bergetar menahan tangisnya.
"Siapa yang membawamu?" tanya Dreko menarik Willy hingga terlepas dari pelukan Alina kemudian mengendus sekitar Alina.
"Ohhh ayolah kak, inikah caramu menyambut kedatangan adikmu dari marabahaya?" ucap Alina memutar bola matanya malasm
"Katakan siapa yang membawamu!"tekan Dreko memegang kedua pundak Alina dengan tatapan menuntut.
"Ck lupakan,mereka orang aneh yang menyebalkan, "ketus Alina menepis tangan Dreko dan kembali masuk ke dalam ruang herbalnya.
__ADS_1
"Maksudmu, menyebalkan?" tanya Neo mengikuti langkah Alina.
"Mereka menjatuhkan ku, bayangkan ketika kau tidur kemudian BUMM. Siapa yang tidak marah coba, lagian apa gunanya badan kekar mereka jika mengangkat ku saja tidak mampu," jawab Alina kesal.